Sabtu, 01 Juni 2013

Antara Kau Aku dan Dia


“Bim..malam minggu nih loe ada planning kemana..?”  Tanya Johan.
“biasa dong gue mau jalan sama cewek baru gue..” jawabnya dengan penuh percaya diri
“Loe ga bosen-bosen yeah ganti-ganti cewek, kasian toh cewek yang loe putusin pada sakit hati semua.”  Ucapku
“Emang gue pikirin, toh bukan salah gue seratus persen, mereka juga tau kalau gue suka ganti-ganti pacar tiap minggu kenapa juga mereka mau di ajak gue kencan, lagian gue juga ga pernah maksa-maksa mereka..lagian kasian kan jika di tolak, gue kan pantang kalau lihat cewek menangis karena di tolak..”
“emang loe ga pernah berpikiran untuk berhubungan serius dengan salah satu di antara mereka..” tanyaku kembali setelah mendengar pengakuannya.
“gue di suruh serius sama salah satu diantara mereka nanti dulu… sebejat apapun gue..seburuk apapun tingkah laku gue, gue masih memiliki keinginan dan cita-cita mempunyai istri  yang baik-baik,  bukan seperti mereka-mereka, gue sebenarnya sadar betul dengan keadaan mereka. Cewek yang begitu gampang ketika gue ajak kencan ga mustahil jika mereka  juga gampang ketika di ajak kencan oleh orang lain.”
“jadi loe cuma mainin mereka selama ini..? kapan loe akan sadar? ”
“ bukan memainkan tapi menghargai.. kalau nanti gue sudah menemukan seoarng wanita yang mampu membuat hatiku berdebar-debar saat pertama kali melihatnya..”jawabnya cengar-cengir.
“Dasar loe buaya darat..”

Ku tinggalkan Bimo sendirian di pelataran parkir kampus, maksud hati ingin mengajak main futsal malam ini namun ku urungkan niatku. Bimo adalah teman ku semenjak aku duduk di bangku sekeolah menengah atas, dia salah satu teman baikku meskipun terkadang aku sangat muak dengan tingkah lakunya, tak di pungkiri  tampang ia emang cakep bak artis hollywood, tiap hari jadi rebutan para gadis kampus,tapi tak seharusnya ia memanfaatkan ke tampanannya untuk mempermainkan wanita. Terkadang aku juga tak habis pikir dengan kelakuan cewek-cewek nya. Yang begitu bodohnya mau di ajak kencan olehnya. Sudah berulang kali aku memberi nasehat padanya  namun nasehatku hanya di anggap angin lewat tidak pernah di dengar ataupun di hiraukan… Coba Bimo bisa mencontoh Nabi Yusuf as. yang sanggup menjaga hawa nafsunya ketika di rayu wanita. Bisikku dalam hati.
****
Perpustakaan kampus begitu lenggang hanya terlihat satu dua orang mahasiswa yang sedang membaca di sebuah meja bulat di sudut ruangan. Aku berjalan mengelilingi perpustakan mencari buku terbaru karya sejarawan islam terkenal. Ketika sedang asyik melihat-lihat isi perpustakan pandanganku tertuju pada seorang gadis berkerudung panjang, gadis itu tak terasa asing di mataku. Ku coba mengingat-ingat di mana dan kapan bertemu dengan gadis itu. Sesaat ku mencoba berpikir, berusaha keras untuk bisa mengingat siapa gerangan gadis berkerudung merah itu. Lama sudah aku ber usaha untuk mengingat siapa dirinya namun tetap juga nihil. Sesekali ku pandangi gadis itu dari belakang, ia nampak sedang serius dengan buku yang di bacanya. ingin rasanya aku mendekatinya dan bertanya kepadanya namun aku tidak berani untuk melakukannya, kaki ini terasa berat untuk melangkah.
”Winda, anti sudah lama di sini?” Tegur seorang dengan suara yang tidak asing di telingaku.
Mendengar suara gadis itu aku yang sedari tadi berdiri membelakanginya langsung menengok kebelakang. Tak meleset dari dugaanku, ternyata pemilik suara itu adalah Syifa anak dari tante Elia adik dari ayahku. Dan gadis yang memakai kerudung panjang yang sedari tadi menganggu konsentrasiku adalah Winda, aku baru ingat kalau aku pernah melihatnya ketika aku singgah kerumah tante Elia untuk mengantarkan titipan ayah. Ternyata keberadaanku di situ di ketahui oleh Syifa.
”Abang Jo...ngapain di sini? Tumben amat pagi-pagi dah di perpustakan? Bukannya Bang Jo sedang sibuk dengan bisnis barunya?” ucap Syifa begitu melihat abang sepupunya.
”abang lagi ada keperluan dengan dosen pembimbing, Syifa juga tumben biasanya masuk siang. ” ucapku.
” syifa ada janji dengan teman bang, hari ini Syifa ada diskusi tentang acara sosial yang akan di adakan bulan Ramadhan nanti.” Ucapnya sambil melirik temannya yang sedari tadi berdiri di sampingnya sambil menundukan pandangannya.
”Abang free kan hari ini, kalau tidak keberatan abang mau tidak bantu kami untuk mensukseskan acara itu, soalnya kami semua masih junior Bang, kami masih bingung apa yang harus kami lakukan. Kami butuh masukan dari senior-senior kami.” lanjutnya.
”Gimana ya Syifa sebenarnya abang harus ketemu seseorang sore ini, tapi... ya sudah abang akan coba bantu tapi hanya sampai dzuhur, bagaimana?” ucapku memastikan
”boleh bang kalau begitu, ya kan Win?” ucapnya sambil meminta persetujuan dari Winda
Winda yang sedari tadi hanya terdiam kini ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum tanda menyetujui usulan johan dan Syifa.
***
Sore itu kota jakarta di selimuti awan yang tebal, petir mulai bersaut-sautan dan kilat menyambar bak cahaya yang menakutkan, angin bertiup menerbangkan debu-debu dan dedaunan. Rintik-rintik hujanpun mulai turun dan membasahi alam semesta ini. johan yang sedari tadi sibuk dengan laptop mininya baru tersadar kalau ia belum menjemput ibunya di rumah tante Elia. Sudah satu jam ia terlambat dari kesepakatan yang telah dibuat dengan ibunya. Dengan sigap ia meraih telpon genggamya, dan ia lihat ada 5 panggilan tak terjawab dan 2 sms dari ibunya. Johan benar-benar tak sadar kalau ia telah menghabiskan 4 jam di depan laptop mininya. Kini ia tak peduli dengan hujan yang deras, atau dengan petir yang menyambar yang ada dalam pikirannya adalah menjemput ibunya. Tak ada pilihan lain. Johan harus menggunakan mobil milik ayahnya untuk menjemput ibunya. Padahal selama ini ia enggan untuk memakai mobil milik ayahnya, bukan ia tidak bisa mengendarainya tapi ia lebih senang memakai motor bututnya. Gaya hidupnya jauh dari kemewahan meskipun ia anak orang kaya, ia lebih memilih untuk hidup sederhana. Ia tidak mau membangga-banggakan kekayaannya. Ia tidak mau menjadi orang yang lalai. Ia ingin mencontoh gaya hidup Rasullah. Gaya hidup seseorang yang menjadi kebanggan umat di dunia ini.
Setengah jam kemudian aku sampai di rumah tante Elia, ku parkir mobil tepat di halaman rumah, ku ayunkan langkahku dengan cepat mendekati pintu rumah yang terbuka lebar. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika melihat seorang perempuan yang duduk tepat di sebelah ibuku, seorang perempuan yang beberapa bulan ini mampu mengganggu hari-hariku. Semenjak pertemuan di perpustakaan kampus itu aku sudah mulai suka dengannya, tak bisa di pungkiri rasa ini dari hari kehari semakin besar aku rasakan. Apalagi setiap satu minggu sekali aku bertemu dengannya membuat rasa ini tak kuasa aku ketepikan.
Ibu, tante Elia, Syifa, dan Winda kelihatan sedang asyik berdiskusi sampai-sampai mereka tidak sadar akan kehadiranku di depan pintu.
”Assalamu’alaikum.” ucapku mengagetkan mereka
”wa’alaikumus salam.” jawabnya hampir bersamaan.
”Eh..anak ibu sudah datang, dari tadi ibu telpon tidak di angkat, sms juga tidak di balas, habis dari mana nak. Untung ada winda dan syifa yang menemani ibu mengobrol.”
”maaf Bu, tadi johan keasyikan mengerjakan tugas jadi lupa waktu.”  jawabku sambil aku berjalan menuju kearah mereka
Setelah di rasa puas mengobrol kami pun berpamitan untuk pulang. Ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatiku. Entah apa itu namanya sulit untuk di ucapkan dengan kata-kata. Yang pasti ada perasaan yang aneh ketika aku melihatnya, mungkin inikah yang di sebut cinta Ataukah ini hanya nafsu belaka. Semakin lama aku melihatnya semakin aku ingin memilikinya. Pandangannya yang selalu ia tundukkan mampu membuat hatiku semakin tertarik padanya. Apakah bidadari dunia itu akan bisa aku miliki?
***
Ke esokan harinya di pelataran kampus aku bertemu dengan Bimo, sudah hampir tiga bulan semenjak pertemuan sore itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tidak tau apakah kebiasaan masih tetap sama mempermainkan hati wanita atau ia sudah insaf yang pasti aku berharap perangai buruknya sudah hilang dari dirinya.
”Jo, tungguin gue dong. Loe datang ke kampus nyelonong aja, emang loe ga lihat gue apa atau loe memang sudah ga ingat gue lagi.” ucapnya
”Gue bukan ga liat loe gue hanya ga mau berdebat lagi dengan loe, gue dah bosen dengan perangai buruk loe, lebih baik gue menjauh dari loe dari pada nanti gue ketularan penyakit loe. ” jawabku sekenanya.
”yee.. loe masih marah ama gue, katanya mau jadi ustadz kok punya masih punya sikap dendam, ga baik tau marah lama-lama sama teman.”
”bukan gue marah, bukan juga gue dendam. Gue hanya ingin loe sadar apa yang loe lakukan itu salah. Wanita itu bukan barang mainan yang seenaknya bisa loe mainan. Coba bagaimana perasaan loe jika hal yang sama terjadi pada adik perempuan loe, pasti loe ga trimakan?” ucapku lagi
”Bim, perempuan itu untuk di muliakan, ga sepantasnya gue perlakukan mereka sebagai barang dagangan, hargai perasaan mereka. Loe cakep tapi jangan loe manfaatkan paras loe untuk mempermainkan hati wanita.” lanjutku lagi.
”Iya pak ustadz aku sadar itu, gue juga sudah capek dengan gaya hidup gue. Mulai saat ini gue ingin belajar menjadi orang baik demi dia. Sungguh dia berbeda dengan yang lainnya. Dia lah yang di sebut wanita yang sebenarnya. Aku mohon Jo sudah yah loe jangan marah lagi sama gue, sekarang gue lagi butuh bantuan loe nih. Gue ingin belajar dari loe untuk jadi orang yang baik.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
”Alhamdulillah akhirnya loe sadar juga dengan kesalahan loe, dengan senang hati gue akan bantu loe. Tapi dia yang loe maksud itu siapa?” tanyaku dengan rasa penasaran
”Wulan, cewek berkerudung panjang yang sekarang ada di semester 2.”
Cetarrrr.. bak ada petir di siang bolong. Johan sangat kaget dengan apa yang di katakan oleh Bimo. Bagaimana mungkin Bimo suka dengan wanita yang aku sukai. Wulan gadis sangat baik, aku tidak akan pernah rela jika Wulan menjadi mangsa Bimo yang selanjutnya. Meskipun Bimo bilang sudah insyaf tapi aku tidak yakin kesungguhan hatinya. Dan kalaupun ia benar-benar sudah insyaf aku tidak rela jika wulan menjadi miliknya. Aku mencintainya dan bahkan dalam waktu dekat ini aku ingin meminangnya.
Bagaimana kisah selanjutnya. Apakah Johan jadi menikah dengan Wulan, ataukah malah Bimo yang menikahi wulan. Tunggu kisah selanjutnya



Kamis, 16 Mei 2013

....CI en TA dan Jo Do H

"Gue kok yakin banget yah kalau si dia bakal jadi jodoh gue. gimana gak yakin coba kayaknya gue cocok banget sama dia, kesukaan dia pun sama seperti kesukaan gue. dan gue juga merasa cinta gue ke dia ga bertepuk sebelah tangan, secara dia baik banget gitu loh sama gue." 

Membaca pernyataan di atas, apa yang terlintas dalam pikiran MasBro/ Mba Sis? pasti pikiran kalian ga jauh dari mikirin cinta, jodoh, hati dan perasaan. Iya kan?? masih normal berarti..ga bisa di pungkiri membahas masalah hati,cinta dan perasaan ga akan pernah ada bosannya. secara naluri  Allah sudah menganugerahkan rasa cinta khusus untuk makhluk-Nya yaitu berupa cinta dan kasih sayang.

Anyway,By the way, busway. bolehkah kita meyakini bahwa seseorang yang kita cintai bakalan menjadi jodoh kita, bahkan karena terlalu yakinnya sampai memvonis kalau si dia pasti di takdirkan menjadi jodoh kita? wah... hebat banget yah orang tersebut sudah mampu menebak takdir Allah yang belum terjadi. apakah boleh kita mendahui Allah sedangkan Allah adalah penentu segala-galanya.

Mencintai seseorang merupakan fitrah manusia, karena itu merupakan sunnatullah. namun kalau di suruh memilih aku pribadi akan lebih memilih untuk tidak merasakan jatuh cinta sebelum akad nikah terjadi. kenapa demikian? mungkin sebagian orang bilang jatuh cinta itu berjuta rasanya ( dah kayak judul lagu saja) manis, asam asin semua ada di situ.hee... namun tidak buatku. jatuh cinta belum waktunya membuat hari-hariku terbuang sia-sia hanya karena memikirkan hal-hal yang tidak jelas juntrungannya. kalau sudah kayak gitu apa yang terjadi, sholat kurang khusyuk, sering salah niat, update status hanya menarik perhatian nya dan bahkan yang lebih parahnya Allah di nomer duakan, mengapa demikian?? coba cek dan tanya diri kita masing-masing, coba jujur pada diri, ketika kita sholat siapa yang lebih banyak kita ingat Allah ataukah si dia? mungkin di lisan kita menyebut nama Allah namun apakah di hati nama Allah juga yang kita ingat? apakah malah lebih mengingat dia? Dan ketika berdoa kita lebih dominan menyebut namanya ketimbang meminta ampunan-Nya, kita begitu gampang mengeluarkan airmata karena cinta manusia namun ketika mengingat dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan pada Sang Pemilik Cinta manusia mata ini susah sekali untuk menangis. 

Kalau sudah seperti itu, pada akhirnya kita terbuai oleh angan-angan kosong, setiap menit bahkan setiap detik hanya si dia yang di pikirkan, makan ga enak tidur pun tak nyenyak. hatinya di penuhi angan-angan yang kosong. padahal panjang angan-angan merupakan cara syetan dalam menggoda manusia. sadar atau tidak sadar Syetan akan bekerja keras mencari teman untuk menemaninya kelak di neraka. karena syetan sudah berjanji di depan Rabbnya bahwa ia akan menyesatkan anak cucu adam dengan berbagai cara hingga mereka tergelincir dari jalan kebenaran. 

Dan apa yang akan terjadi ketika si dia ternyata bukan yang Allah takdirkan menjadi jodoh kita, si dia yang selama ini kita cinta ternyata malah memilih perempuan lain untuk menjadi istrinya. dan ternyata cinta yang selama ini di puja bertepuk sebelah tangan. berbagai perasaan yang tidak bisa di ungkapan oleh kata-kata bercampur aduk menjadi satu  dan hanya air mata yang berbicara. sedih sudah pasti, sakit hati tak bisa di pungkiri, kecewa of course. Dan seandainya kejadian seperti ini siapa yang perlu di salahkan. dia, atau diri kita sendiri. tidak adil rasanya kalau menyalahkan si dia, apalagi menyalahkan perempuan yang menjadi pilihannya. yang perlu di salahkan adalah diri sendiri. mereka tidak tahu apa-apa dan mereka juga tidak melakukan kesalahan apa-apa. yang salah adalah diri sendiri mengapa terlalu yakin dengan perasaan sendiri, terlalu hanyut oleh angan-angan yang kosong. 


Sungguh kita menjadi orang yang sangat merugi, sudah kita menduakan cinta Allah dengan cinta yang belum pasti. seharusnya kita malu kepada-Nya karena telah menghianati cinta-Nya. mungkin dengan kejadian seperti itulah cara Allah menegur kita, Allah tidak ingin kita menduakan cinta-Nya. Allah ingin kita lebih mencintai-Nya. dan memang seperti itulah seharusnya. menempatkan cinta Allah di atas segal-gala-Nya.

Sekecewa apapun, kita harus tetap tegar harus tetap kuat, hidup perlu di teruskan perjalanan masih panjang. ronah-ronah kehidupan akan selalu menghadang. jangan hanya karena cinta manusia lantas kita terpuruk dalam menatap dunia. yang pasti Allah akan selalu ada di setiap gerak-gerik kita. Allah selalu mengawasi kita dimanapun kita berada. pasti di balik semua ini ada skenario Allah yang indah, skenario yang tidak pernah kita duga sebelumnya. skenario yang mampu membuat kita tersenyum dan membuat wajah kita secerah mentari pagi. mungkin saat ini Allah belum menjodohkan kita dengan si dia, namun pasti akan ada si dia yang lain yang telah Allah siapkan untuk kita. boleh jadi Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang lebih baik, atau mungkin Allah menginginkan kita agar terus belajar. dan suatu saat jodoh pasti akan datang sesuai dengan keimanan di hati. yang penting saat ini adalah benahi diri, luruskan niat. yang selama ini mungkin kita sering salah niat saatnya untuk perbaiki niat. berikan hati kita totalitas hanya pada Allah. apalagi sekarang sudah memasuki bulan-bulan harram bulan di mana amal ibadah kita di lipat gandakan pahala. jadikan momentum ini sebagai ajang mendekatkan diri pada Sang Khalik. Raih ridho-Nya dengan menjalani semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. lupakan sesaat rasa kecewa, kesampingkan semua perasaan yang berkecamuk. tatap ke depan lihat betapa banyak hal-hal yang perlu kita lakukan dan kita perbaiki, hiup tidak cukup sampai di sini hidup masih perlu pengorbanan dan perjuangan. terakhir yang bisa aku tulis sebagai pengingat diri Hati ini hanya Milik-Nya. dan akan tenang dengan mengingat-Nya dan Mencintai-Nya. sebagai penyejuk hati hati silahkan baca QS al-baqarah : 216..

salam santun selalu buat pembaca semua
Mohon maaf apabila ada kesamaan cerita
hanya sekedar sharing belajar menyikapi suatu masalah
Yang benar datangnya dari Allah dan yang salah datangnya dari diriku sendiri yang dhoif harap di maafkan


Rabu, 08 Mei 2013

Kini ku tersadar..


Kini ku sadari betapa berharganya waktu
Ketika ia pergi ia tak akan pernah kembali
Ketika ia berlalu tak akan pernah sudi menghampiri lagi
Setiap menit adalah perhitungan
Yang seharusnya di isi dengan kebaikan

Betapa ku tersadar kini...
Betapa banyak waktu yang ku buang untuk hal yang sia-sia
Bahkan aku tak perduli dengan itu
Aku tak pernah memikirkan itu
Aku tak pernah memikirkan hari itu
Hari di mana setiap detik yang aku lewati akan di hisab

Batapa ku tersadar kini..
Betapa diri sering terbuai oleh angan-angan kosong
Memikirkan hal-hal yang tak sepantasnya aku pikirkan
Bahkan aku sering terlewat batas terlalu yakin dan terlalu menuruti perasaan hati
Seakan-akan lupa ada Allah yang Maha menentukan takdir dan kehidupan

Kini ku tersadar...
Betapa indah cara Allah menegurku
Allah memberi aku masalah agar aku bisa belajar
Belajar  menyelesaikan masalah agar bisa menjadi amal ibadah
Allah memberi aku kesedihan agar aku bisa tegar
Allah memberi aku kebahagiaan agar aku bisa memaknai arti kehidupan

Kini ku tersadar...
Betapa Allah sangat mencintaiku
Betapa Allah sangat menyayangiku
Pasti DIA tidak ingin kalau aku menduakan cinta-Nya

Mulai detik ini Ya Allah..
Ajari aku bagaimana cara mencintai-Mu
Ajari aku bagaimana cara menjadi hamba-Mu yang Kau Cintai
Sudah cukup apa yang aku lakukan dulu
Jangan biarkan aku lakukan itu untuk yang ke dua kali
Aku akan berusaha sepenuh hati untuk melabuhkan cinta ini hanya untuk-Mu
Akan aku labuhkan hati ini hanya pada-Mu
Karena Engkau-lah Pemilik hatiku
Dan Sudah sepantasnya hati ini aku berikan hanya pada-Mu

Kuatkan jalanku Ya Allah..
Ridhai-lah jalanku..
Peluk aku di kala aku terjatuh
Dekap aku di kala aku terpuruk
Tarik aku kembali ke dalam samudra cinta-Mu
Samudra cinta sejati yang tak akan pernah bertepi.

Minggu, 14 April 2013

Indahnya Menulis

Assalamu'alaikum sahabat...apa kabar dengan keimanan sahabat di jum'at yang penuh berkah ini? semoga sahabat senantiasa berpijak di atas jalan lurus-Nya. menapaki setiap jengkal kehidupan dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.karena itulah kunci kebahagian dan kesuksesan dunia dan akhirat. keimanan dan ketakwaan merupakan salah satu motivasi hidup yang harus senantiasa kita pertahankan, dan kita perjuangkan dengan segala daya upaya yang kita miliki.. kenapa dan mengapa? mungkin pertanyaan itu akan muncul di benak pikiran saudara ketika membaca pernyataan di atas..dengan pemahaman saya yang sedikit saya akan mencoba menguraikannya.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan terlebih dahulu kita pelajari tentang apa tujuan hidup kita? untuk apa Allah menciptakan kita? Allah menciptakan kita tidak main-main. di balik penciptaan manusia ada maksud dan tujuannya dalam al-Qur'an Sural Al-mu'minun ayat 105 Allah SWt berfirman, " Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"


Dalam surat lain Allah SWT ber firman " “Dan tidaklah Aku menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tdk menghendaki rizki sedikitpun dari mereka & Aku tdk menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.Adz Dzariat : 56-58)

Dari ayat di atas kita sudah mengetahui bahwa di balik penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya. Tugas manusia yang paling utama dalah menyembah-Nya di setiap saat kapanpun dan dimanapun.

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia, manusia bisa lebih mulia di banding malaikat jika ia beriman dan bertakwa namun sebaliknya manusia bisa lebih hina dari binatang ternak jika ia ingkar pada-Nya. Manusia di beri akal untuk berpikir, namun tak jarang ia gunakan pikiran itu untuk hal-hal yang di haramkan dan mengundang murka Allah. padahal setiap apa yang ia lakukan akan di mintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Tulisan ini aku buat sebagai bahan pengingat diri, bahwa manusia adalah hamba Allah yang mempunyai kewajiban menyembah dan taat hanya kepada-Nya. karena hanya Allah tempat kita bergantung, tempat kita meminta dan tempat kita memohon pertolongan. tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.

Sebagai penutup tulisan singkat ini aku ingin mengajak saudara ku semua termasuk diri ini yang lemah tiada daya  marilah kita tanamkan keimanan yang kokoh di dalam hati kita, Marilah kita berlomba untuk menjadi hamba yang Allah cintai. karena hanya cinta Allah lah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.

Semua kebenaran hanya milik Allah apabila ada kesalahan itu dari diri saya sendiri yang dhoif. mohon di maafkan

semoga bermanfaat






Sabtu, 13 April 2013

KETIKA CINTA HARUS BERSABAR


Namanya Dinda seorang muslimah yang ramah dan cantik parasnya,  di usianya yang sudah mencapai 27 tahun membuat orangtuanya selalu menyuruhnya untuk menikah. Bagi seorang Muslimah yang taat ia yakin kalau jodohnya pasti ada dan Allah pasti sudah ciptakan pasangan hidup untuknya. Sebagai seorang penulis novel sekaligus pekerja di salahsatu penerbit majalah islam terkemuka di ibukota membuat hari-hari selalu sibuk.

Siang itu saat ia sedang asyik dengan komputernya meng-edit ulang novel barunya. Seorang wanita paruh baya yang selalu menemaninya setiap saat masuk ke dalam kamarnya.
"Din, anterin mama menjenguk teman lama mama yah di rumahnya. Sekarang ia sedang sakit dan mama ingin berkunjung kerumahnya."

Awalnya aku ingin sekali menolak permintaan mama namun aku tega melihat mama pergi sendirian, dan mama juga punya penyakit asma yang sering kali kambuh setiap saat. Dengan alasan ingin berbakti kepadanya akhirnya aku mau menemaninya.

Dari sanalah awal pertemuan aku dengannya, sosok yang aku anggap sebagai malaikat, wajahnya yang bersih, tingkah lakunya yang sopan dan tutur katanya yang menawan membuat aku tertawan begitu melihatnya. Yang belakangan aku tahu namanya adalah Yusuf

Beberapa hari setelah aku bertemu dengan lelaki yang mampu menggetarkan hatiku. Ibu mengabarkan kalau keluarga Bu yunita beserta suami dan anak lelakinya akan datang untuk bersilaturahmi sekaligus membicarakan hal yang sangat penting.  Awalnya aku tidak tahu tentang hal penting apa yang akan di bicarakan aku hanya menurut apa kata mama agar nanti malam aku bisa menemaninya dan bersua dengan keluarga besar Yusuf.

Malam itu merupakan malam yang indah untukku, penantian ku yang panjang kini ber akhir sudah aku telah di khitbah olehseorang ikhwan yang di mataku sangat sempurna. Aku merasa cintaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Aku menyangka Yusuf juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Namun kebahagianku hanya sesaat, kebahagianku hancur berkeping-keping setelah aku membaca surat dari Yusuf yang aku sangka isinya adalah surat cinta untukku.

 Di surat itu jelas di katakan kalau ia melakukan semua itu hanya karena orang tuanya. Ia tidak mau melihat ibunya masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya gara-gara penolakannya untuk menikah dengan gadis pilihanya. Yang lebih lagi sakit aku rasakan ia bilang tidak mencintaiku dan sangat sulit untuk mencintaiku karena ada nama lain yang kini bersemayam dihatinya. Ia bilang akan sulit untuk mencintaiku karena aku buka wanita yang ia cintai.

Singkat cerita acara pernikahanku berjalan dengan lancar, meskipun hatiku berontak ingin rasanya aku berteriak agar semua orang tahu bahwa aku tidak mengingankan pernikahan ini terjadi. Namun aku tak kuasa menyakiti dan mengecewakan orang –orang yang aku sayangi. Ku lihat wajah itu sungguh kaku dan tak ada senyuman pun tersungging dari  bibirnya, ia berdiri di sebelahku namun seakan-akan ia berada jauh dari jangkauanku.

Tibalah saat malam pertama pernikahanku, sebagian orang bilang malam pertama adalah malam yang terindah yang tak bisa terlupaka namun berbeda denganku, malam itu merupakan awal kesabaran dan cintaku di uji. Tidak ada kata-kata sayang aku dapatkan yang ada hanya kebisuan, kesunyian dan kehampaan. Meskipun ia sempat mencium kening dan mengucapkan doa yang seperti Rasulullah ajarkan padaku dan itupun karena aku yang memintanya. Aku dan dia sempat melakukan ibadah itu namun itu semua bukan karena dasar cinta tapi karena sebuah keterpaksaan.

Malam itu berjalan amat lamban aku rasakan, aku sesaatpun tidak bisa memejamkan mataku, aku muak, aku benci, aku sedih dengan semua kejadian ini.  sebagai seorang istri aku mempunyai hak untuk mendapatkan kasih sayang dari suamiku. Dan sebagai seorang suami ia mempunyai kewajiban untuk membahagiakanku. Namun apa yang aku dapatkan sebaliknya suamiku tidak bisa mencintaiku karena di hatinya hanya ada satu nama yaitu ”Alifa”

Alifa seorang akhwat berkerudung panjang nan cantik dan sopan. Seorang gadis yang membuat suamiku tidak bisa mencintai wanita yang menjadi istrinya kini. Aku tidak mengenalnya sebelumnya, aku melihatnya saat ia dan teman-temannya datang di hari pernikahanku.

Tak terasa sudah lima bulan usia pernikahanku, namun aku belum bisa merasakan menjadi istri yang sesungguhnya, sikap Yusuf kepadaku masih belum berubah, ia begitu kaku dari sorot matanya tak ada sama sekali tanda-tanda cinta untukku. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suami, meskipun suamiku belum bisa mencintaiku, namun aku selalu berusaha menjadi istri yang berbakti padanya, aku menjalankan tugasku sebagai istri dengan tulus mengharap ridha-Nya. Setiap pagi aku membuatkan sarapan untuknya, menyiapkan baju kerjanya, dan mengantarkannya sampai kedepan pintu ketika ia hendak pergi kerja. Aku ingin menjadi istri yang bisa mengantarkannya ke syurga-Nya.

Tak bisa ku pungkiri setiap hari rasa cintaku kepadanya semakin besar, meskipun rasa cinta ini belum bisa terbalas namun aku tak peduli karena bagiku ia adalah suamiku orang yang layak aku cintai. Dalam do’a di penghujung malam aku selalu menyebut namanya berharap agar Allah selalu melindunginya di manapun dia berada.

Undangan pernikahan Alifa dengan ikhwan bernama guntur ku berikan pada Mas yusuf, dari raut wajahnya nampak kemurungan. Aku yakin Mas Yusuf merasa kecewa meskipun ia tak mampu menunjukan perasaannya itu padaku.

Meskipun Alifa kini sudah menikah namun sikap Mas Yusuf tidak jauh berbeda, ia masih sama seperti dulu. Hanya buku harian dan sajadah panjangku yang menjadi saksi betapa tersiksa nya  hatiku dan betapa tulusnya cintaku untuknya.

Dua bulan setelah pernikahan Alifa, aku mendapat kabar dari temannya bahwa Alifa masuk rumah sakit karena setiap hari kesehatannnya menurun, ia mengalami tekanan bathin karena suami nya meninggal saat usia pernikahannya baru satu minggu, ia tidak bisa menerima kenyataan yang ada sehingga membuatnya koma. Mendengar kabar itu aku langsung menjenguknya di rumah sakit tempat ia di rawat. Keadaan Alifa sungguh sangat memprihatinkan, dokter bilang semangat hidupnya hanya akan kembali lagi jika ia mendapat kasih sayang dari sosok lelaki yang bernama suami. Hanyakata- kata mesra dari suaminya lah yang mampu menghidupkan gelora hidupnya kembali. Dan dokter menyarankan agar secepatnya mencarikan suami untuk Alifa sebelum terlambat. Aku pun berinisiatif membantunya mencarikan seorang suami untuknya. Ada tanda tanya besar di hatiku siapa dan dimana aku harus mencarinya??

Tiba-tiba nama mas Yusuf terlintas di pikiranku, apakah aku harus menikahkan suamiku sendiri dengan Alifa, apakah aku harus melakukan itu, apakah aku mampu melihat laki-laki yang sangat aku cintai bersama wanita lain. Tapi aku tidak bisa melihat Alifa menderita ia butuh seorang suami untuk menyelamatkan hidupnya.

Pikiran itu terus menerus menghantui ku, keinginanku untuk menikahkan Mas Yusuf dengan Alifa begitu besar. Aku belajar untuk berdamai dengan hatiku, biarlah aku tidak bisa mendapatkan cintanya asal aku bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Salah satu cara adalah membiarkan Mas Yusuf menikah dengan wanita yang di cintainya. Jika ini merupakan jalan untuk suamiku hidup bahagia aku rela meskipun aku harus di madu.

Malam itu juga aku sampaikan niat hatiku pada suamiku, ia begitu kaget dengan kabar tentang Alifa dan kekagetan itu semakin bertambah mendengar permintaanku untuk menikahinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ia terdiam. Membisu seperti patung yang bernyawa.

Sehari setelah mendengar kabar itu malam harinya suamiku tidak pulang kerumah, aku menjadi resah, HP nya aku hubungi tidak aktif, aku telpon kantornya pun tak ada jawaban, tidak sampai di situ aku mencari kabar melalui teman-temannya tapi tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Aku tak bisa menahan airmata ini, aku menangis aku merindukannya, aku sangat mengkhawatirkannya.

Berita itu sontak mengagetkanku, suamiku kecelakaan dan kini di rawat ditempat Alifa di rawat. Menurut seorang polisi yang menghubungiku suamiku terpelanting sejauh 15 meter dari motornya. Dengan segera aku pergi kerumah sakit tempat suamiku di rawat, airmata ini tak berhenti mengalir mengkhawatirkan keadaannya. Di sebuah ruangan VIP suamiku dirawat dan ia tidak sadarkan diri, anggaota badannya penuh dengan perban, meskipun menurut dokter tak ada luka yang serius dan dalam beberapa hari ini akan sadarkan diri namun melihat keadaannya aku tak tega. Aku tidak mau melihat suamiku menderita.

Suamiku sudah hampir dua hari dalam keadaan koma, ia belum juga sadarkan diri aku bertambah cemas di buatnya, selama dua hari itu aku tak pernah meninggalkannya, aku selalu di sampingnya, merawatnya dengan tulus, di saat yang seperti itulah aku bisa memandangnya sepuasnya. Melihat wajahnya dan menggenggam tangannya yang sebelumnya tak pernah aku lakukan. Wajah itu sungguh bersih, sama seperti pertama kali aku melihatnya, mengenggam tangannya membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan untuk pertama kali aku menciumnya, ya aku menciumnya dalam keadaan ia tak sadarkan diri. Namun rasa bersalah tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku merasa telah berbuat kurang ajar dengan menciumnya, aku takut ia tidak meridhainya.

Aku memilih duduk dikursi menjauh darinya aku tak kuasa jika terus menerus memandangnya. Tiba-tiba aku lihat tangan suamiku bergerak-gerak dan ia mulai membuka matanya. Betapa bahagianya hatiku ketika yang keluar pertama kali dari mulutnya adalah namaku. Ia memanggil namaku dengan suara yang sangat lirih, mendengar suaraku di panggil aku langsung menghampirinya. Melihat suamiku sadarkan diri aku bermaksud memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Namun belum jauh kaki ini melangkah tiba-tiba pandanganku kabur, badanku lemas dan aku terjatuh tak sadarkan diri.

Selama dua hari aku tak sadarkan diri, aku berbaring lemas di rumah sakit, aku terlalu capai dan kurang istirahat yang membuat kondisi badanku menurun. Begitu terkejutnya diriku begitu aku sadarkan diri suamiku berada di sisiku ia sedang mencium keningku dan memanggilku dengan pangilan sayang, panggilan yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Ia juga mengenggam tanganku begitu erat. Dan yang membuatku terkejut ia menangis sambil menciumi tanganku. Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkinkah ia sudah bisa menerimaku dan mencintaiku. Apakah cinta ini sudah terbalas, berbagai pertanyaan bermain-main di pikiranku. Dan sebuah perkataannya yang tak akan pernah aku lupa yang mampu mebuat hatiku berbunga-bunga serta tak kuasa menahan haru.

”Dinda, istriku maafkan aku yang selama ini telah menyia-nyiakanmu, kini aku sadar engkau adalah karunia yang terbesar yang Allah berikan untukku. Sayang maafkan aku karena telah membuatmu selalu menangis di malam-malammu, maafkan aku yang pernah membohongimu. Kini aku sadar aku telah melakukan kesalahan besar. Dan terimakasih Dinda atas buah hati yang kini sedang bersemai di rahimmu, buah hati cinta kita.”

Aku tak kuasa menahan airmata ini, aku bahagia, aku terharu aku tak bisa menjelaskan kebahagian ini dengan kata-kata, aku hanya bisa menangis sambil aku menggenggam erat tangan suamiku yang kini sudah memberikan cintanya padaku.

Tiba-tiba aku teringat dengan Alifa, aku tidak mungkin egois dengan memikirkan diriku sendiri, aku sudah bertegad untuk menikahkan Alifa dengan Mas Yusuf.  Akhirnya aku memberanikan diri bertanya tentang Alifa padanya dan meminta nya untuk menikahinya. Mendengar permintaanku tiba-tiba suamiku meminta izin untuk keluar sebentar sebelum menjawabnya, aku tak tahu apa yang suami aku lakukan di luar sana. Yang aku tahu ketika ia datang kembali ia tak sendiri ia bersama Alifa yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seorang lelaki yang tak asing lagi dan ia adalah Randi sahabat Mas Yusuf. Ternyata Alifa sudah menikah dengan Randi dua hari yang lalu. Dan kini Alifa sudah menemukan semangat hidupnya kembali.

Kini kebahagianku lengkap sudah, aku menemukan cintaku, kesabaran ini berbuah kemanisan, ketulusan cinta ini terbalas sudah. Ketika cinta harus bersabar, di situlah ketulusan cinta di uji. Kesabaran pasti akan berbuah keindahan karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang bersabar.

Ringkasan dari novel yang berjudul ketika cinta harus bersabar dengan gaya bahasa yang telah di ubah sesuai gaya bahasa tulisanku.
Semoga bermanfaat.

Isi surat Yusuf untuk Dinda 

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Kepada yth : Adinda Altharina putri
Ditempat

Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu apalagi yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah denganmy. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.

Merekan bilang, sejak pertama kali Melihatmu, hati mereka langsung bergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orangtuaku dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu.semua ini adalah rencana orangtuaku dan orangtuamu untuk menjodohkan kita.

Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi, maka banyak orang yang akan aku bohongi, aku akan menjadi seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.

Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab melihat kondisi ibuku yang sudah lemah, aku takut bila aku menolak permintaannya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang lalu ibu masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.

 Jadi aku mohon bantulah aku memainkan sandiwara ini di depan orangtua kita masing-masing. Aku tau segala sesuatunya itu akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta'ala, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal itu.

Aku merasa belajarku selama beberapa tahun tentang islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.

Pernikahan bukanlah hal yang main-main untuk di jalankan terlebih lagi bila tidak di landasi dengan rasa cinta. Sesungguhnya ada nama lain yang mengisi relung hatiku. Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus nama itu dan berusaha menggantinya dengan namamu.

Jika memang tak ada cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini padamu. Jujur. Tidak ada yang di tambahkan atau di kurangkan. Aku tidak mau mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak mencintaimu.

Mungkin ketika membaca surat ini, matamu sudah di penuhi dengan airmata. Aku akan berusaha mengganti airmatamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf, beribu-ribu maaf aku pinta kepadamu.

Tolonglah malam ini kau sholat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu dengan kepalsuan cintaku.
Dan tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku. Sekian dulu surat dariku, bila semua ini kurang berkenan di hatimu, mohon di bukakan pintu maafmu untukku,. Afwan.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

Dari seorang pengecut
Yusuf Abdullah Fattah

Selasa, 19 Februari 2013

Udah Putusin Aja

Malam ini pengen buat artikel yang berjudul udah putusin aja, waduh dari judulnya sudah kelihatan mau buat provokasi..tenang aja masbro/mbasis. Ini bukan untuk memprovokasi tapi untuk mengompori para mereka aktivis pacaran..hee

Bagi para pengguna twitter mungkin kata udah putusin aja sudah tidak asing lagi di telinga mereka Karena sudah terlalu banyak kultweet yang ber-hastag Udah putusin aja berkeliaran di sana.

Belum lama ini aku menghadiri sebuah acara bedah buku yang berjudul Udah putusin aja. Sebuah buku yang cukup menarik menurutku.sebuah buku motivasi untuk mereka para aktivis pacaran untuk bersegera memutuskan gebetannya.. Hee nyingir dulu ah sebelum di komplint para aktivis pacaran.
Mungkin bagi para aktivis pacaran keberadaan mereka mulai terancam dengan keluarnya buku ini. Bagaimana tidak terancam karena modus-modus mereka akhirnya terungkap juga..hee ternyata orang pacaran itu banyak modusnya loh..baru nyadar kan!!

Hey girls.. Simak baik-baik yah apa sih modus mereka para peng-gombal cinta sebelum halal itu? do you know sis seorang laki-laki yang hanya beraninya mengajak pacaran itu laki-laki pengecut, mengapa di katakan pengecut karena dia hanya mau nya seneng-seneng saja. Ia belum siap berkomitmen dalam sebuah pernikahan.emang kalian mau mba sis jika hanya di jadikan sebagai permainan saja kalau aku yang di tanya seperti itu sih sudah pasti aku jawab "T I D A K" tanpa pikir panjang lagi. Emang gue barang mau di mainin ogah banget gitu loh. Survei membuktikan orang yang berpacaran kebanyakan pasti putus kenapa demikian karena pacaran adalah awal dari putus. Jadi kalau ga mau putus ga usah pacaran.

Bagi mereka para aktivis pacaran selalu berdalil kalau Pacaran membuat semangat dalam menjalani hidup, semangat dalam belajar, semangat dalam bekerja, benarkah?? Buktinya mana?? Maksudnya semangat menjalani hidup karena dunia ini milik berdua yang lain ngontrak gitu..lebay coy kalau itu alasannya. Sudah ga zaman. Kalau mau cari alasan yang berkelas dikit kenapa. Atau semangat dalam belajar? Wah bagaimana bisa, yang ada malas belajar iya, bagaimana mau belajar yang ada di pikirannya hanya dia, dia dan dia. Bilangnya mau belajar bersama giliran sudah ketemuan bukan pelajaran yang di bahas tapi yang lain yang di bahas..hayoo ngaku!!! Atau membuat semangat untuk bekerja, iya kah?? Belum ada buktinya juga.. Yang ada mereka aktivis pacaran hidupnya itu selalu gaber (galau berat). Maunya tampil selalu kecek di depan wanita yang di kaguminya, padahal kantongnya selalu boke.

Hey sis..pasti kalian mempunyai mimpi seperti kebanyakan wanita yang lainnya, punya suami yang baik, sholeh, taat dan lain sebagainya. Tentu tipe lelaki yang seperti ini tidak akan di dapatkan pada sosok lelaki yang hidupnya hanya meng-gombali cewek, berani bermaksiat pada Rabb-Nya. Pernahkah kalian berpikir lelaki yang seperti Itu tidak mustahil jika kelak ketika ia sudah beristri berani juga berselingkuh di belakang kalian.

Mba Sis ga ada untungnya sama sekali berpacaran, sudah rugi waktu, rugi tenaga, rugi juga pikiran, mending lebih baik kita pikirkan bagaimana mempersiapkan diri agar layak untuk di jemput sebagai istri, gali ilmu yang perlu kita gali, perbaiki diri. Udah putusin aja jika ia jodoh kita tak akan kemana namun jika bukan jodoh kita ada yang lebih baik menanti kita. Jangan berani coba-coba untuk bermaksiat, karena yang bakal rugi adalah kita kaum wanita

Semoga artikel ini bermanfaat
Salam santun selalu

Kamis, 24 Januari 2013

Jilbab Biru Milik Sofia


Mentari belum belum terlihat di langit yang indah  ketika ku langkahkan kakiku keluar rumah, jalanan masih basah oleh siraman air hujan semalam, dedaunan di tepi jalan begitu segar kulihat di tambah embun yang bergelayutan di dahan-dahan menambah keindahan pemandangan pagi hari.

Ku lalui jalanan yang penuh dengan kerikil batu, sepatu lusuhku yang mungkin untuk sebagian orang sudah tidak layak pakai lagi  aku kenakan sebagai pelindung kakiku dari menginjak kerikil batu yang tajam.

"Kak sofia tunggu.." Teriak bocah kecil persis di belakangku.

Aku serta merta menghentikan langkahku dan memalingkan kepalaku kebelakang. Ku lihat tak jauh dari tempatku berdiri Mizan dengan tergopoh-gopoh lari menghampiriku.

"Ada apa Miz, kok sampai berlari-lari seperti itu..". Tanyaku melihat keadaan Mizan yang terengah-engah karena mengejarku

"Kakak harus kembali rumah, ibu semakin parah batuknya dan tadi dari mulut ibu keluar darah kak..Mizan takut, dan sekarang Ibu di temani bik marni karena ibu kini tak sadarkan diri. " Cerita bocah kecil itu sambil menangis sesenggukan.

Mendengar kabar itu. Kakiku langsung lemas, aliran darahku seakan berarti mengalir, jantungku berdetak begitu kencang. Aku hampir terjatuh jika tidak bersandar pada tiang di sebelahku berdiri. Ku usah wajahku menggunakan kedua tanganku, bermaksud untuk menenangkan diri, dan usahaku ternyata tidak sia-sia, aku mulai sedikit tenang. ku rengkuh bocah kecil yang ada di sampingku dengan begitu erat. Sebelum aku memutuskan untuk berbalik arah kembali ke rumah.

Mizan adalah adikku satu-satunya. Ia kini menjadi tanggungan hidupku. Semenjak ayahku meninggal dunia dan ibuku sakit-sakitan semua keperluan hidupnya menjadi tanggung jawabku. Lima tahun yang lalu ayah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Pesawat yang ayah tumpangi raib entah kemana bahkan jasad ayah sampai kini pun tidak di temukan. Berbulan-bulan aku dan ibu selalu menunggu kabar tentang keberadaan ayah namun tetap sia-sia. Pencarian terus di lakukan namun tak seorang pun yang berhasil menemukan jejak pesawat tersebut.

Ayah ku anak orang berada. Orangtuanya tinggal di jakarta dan perusahaan di mana-mana. Pernikahan ayah dengan ibuku-lah yang membuat ia di usir dari keluarganya. Bahkan orangtuanya tidak mengakui sebagai anaknya lagi. Menurut cerita ibu, ayah tidak pernah pulang kerumah orang tuanya semenjak pindah ke kampung ini.

Ibuku memang hanya seorang gadis kampung, bahkan ia pun bukan orang yang berpendidikan, namun karena akhlak dan tingkahlakunya yang sopan membuat ayahku jatuh cinta padanya. Ayahku saat itu sedang menjadi relawan korban banjir di kampung ini. dari situlah awal pertemuan ayah dan ibu hingga berlanjut ke pelaminan.

*********

Dari jauh nampak sebuah rumah mungil yang sudah kelihatan tua, itulah tempat dimana aku, ibu dan adikku tinggal. Jantungku semakin  berdetak tidak beraturan ketika ku lihat banyak orang di rumahku, dari jauh ku lihat Mang Suryo suami dari Bik Marni mondar-mandir di depan rumah. Perasaan tidak enak mulai menyeruak di hatiku. Pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak. Ku percepat langkahku sambil ku gandeng adikku yang sedari tadi hanya diam membisu.

Ku singkap kain yang menutupi kepala ibu, tak ada suara, tak ada senyum yang menghiasi bibirnya. Ibuku kini terbujur kaku. Ibuku sudah pulang ke haribaan-Nya. Belum sempat lisan ini berucap maaf padanya. Belum sempat diri ini membahagiakannya, namun kini ibu telah pergi untuk selama-lamanya. Tak kuasa aku menahan air mata ini. Berulang kali ku menghapus airmata yang menetes di pipi. Adikku masih mendekap ibuku begitu erat ia memanggil namanya sambil menangis tersedu-sedu. Melihat keadaannya airmata semakin deras mengalir. Namun aku tak mau ikut-ikutan lemah sepertinya. Aku harus bisa menjadi penguatnya. Kuraih adikku dan kupeluk ia begitu erat. Airmatanya kini membasahi bahuku, ku belai kepalanya memberi ketenangan padanya, "Dik jangan menangis lagi yah masih ada kak yang tetap akan menjaga adik sampai kapan pun. " Bisikku lirih di telinganya.

Bik Marni yang yang sedari tadi hanya diam, ia kini angkat bicara.

 "Nak sudahlah relakan ibumu pergi, biarkan dia tenang di sana. Ia sudah terlalu lama menderita karena penyakitnya. " Ucapnya sambil memegang bahuku dengan tangannya.

"Bik..terimakasih atas semua bantuan dan kebaikan Bik Marni. Kami tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Kami sangat berhutang budi pada Bik Marni dan Mang Surya. " Ucapku

"Nak..tidak perlu berterimakasih. Kalian adalah keluarga ku juga. Sudah menjadi tanggung jawab Bik Marni untuk membantu. "

"Sof..sekarang sepertinya sudah waktunya ibumu di makamkan. Cuaca begitu medung. Takutnya nanti hujan dan bisa menghalangi pemakaman ibumu. " Lanjutnya lagi

Aku hanya mengangguk tanda menyetujuinya. Ku pandangi ibuku yang kini terbujur kaku terbungkus selembar kain kafan, matanya terpejam, ku mendekat padanya ku cium dahinya untuk terakhir kalinya sambil ku berbisik lirih, Bu selamat jalan..maafkan sofia yang belum bisa membahagiankanmu. Sofia janji akan jadi kakak yang baik untu Mizan. Air mataku kembali menetes namun secepat mungkin ku menghapusnya karena aku tak mau air mataku jatuh di jenazah ibuku.


***

Malam kian larut, suara celoteh anak manusia tak lagi terdengar,  hujan yang sedari tadi sore turun belum lagi berhenti di selingi suara guntur dan kilat yang menyambar. Suasana yang sepi begitu aku rasakan, sekilas ku pandangi wajah adikku yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Tak tau kenapa bening-bening kristal kembali menetes. Aku sedih..amat sedih.. Dulu aku merasa kehilangan ayah dan sekarang aku harus kehilangan ibu. ku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar tidurnya
Sebuah ranjang lusuh di sudut kamar tempat dimana ibu menghabiskan harinya.  Ku pandangi setiap sudut kamar dengan begitu teliti. Sudut kamar yang mengingatkan ku akan seseorang yang begitu berjasa dalam hidupku. Namun seseorang kini telah pergi dan tak akan pernah kembali. Kepergiannya membuat luka di hati dan meninggalkan kenangan yang tak akan pernah bisa di lupakan oleh hati.
Ku buka lemari baju tempat ibu menyimpan baju-baju dan barang berharganya.  Ku buka laci kecil yang ada di dalamnya. Mataku tertuju pada sebuah buku kecil berwarna hitam , ku jambil buku itu ku pandangi sesaat sebelum memutuskan untuk membuka lembar per lembarnya. Di sampul depan ter pampang foto pernikahan ibu dan ayah, sudah kelihatan lusuh memang namun melihat foto itu membuat bibir ini tersenyum.

Saat ku buka bagian tengah buku itu hatiku berdetak lebih kencang, mata ku terbelalak melihatnya, sebuah tulisan yang ibu tulis khusus untukku. Dengan tangan yang bergetar aku membacanya :
Untuk anakku sofia
Saat tulisan ini engkau baca mungkin ibu sudah pergi jauh, saat tulisan engkau temukan mungkin engkau tidak akan pernah bertemu dengan ibu lagi.  Nak, maafkan ibumu yang belum bisa membuatmu bahagia, penyakit ibu yang tak kunjung sembuh membuat ibu sering meropotkanmu. Sebenarnya ibu tak tega melihat keadaanmu, di usiamu yang masih belia kamu harus menanggung beban seberat ini, kamu bekerja siang dan malam untuk menghidupi ibu dan adikku. Satu yang membuat hati bui miris dan sedih melihatnya, engkau korban kan hijabmu hanya untuk menafkahi ibu. Kau korbankan hijabmu untuk pekerjaanmu. Dalam hati ibu amat tidak rela kamu melakukan itu. Ibu merasa menjadi penyebab hal itu terjadi.
Nak..maafkan ibumu yang hanya bisa menjadi beban dalam hidupmu, nak kalau ibu boleh pinta kenakan hijabmu kembali, ibu masih simpan rapi hijab birumu di lemari baju, kenakan lah kembali, tanggalkan gaya tomboymu, kenakan baju muslimahmu dulu seperti saat engkau masih duduk di bangku sekolah, penuhilah impian ayah ibumu. Hijabmu akan menjadi pelindungmu.
Nak..ibu titip Mizan, jaga adikmu ajari ia ilmu agama agar kelak ia bisa menjadi mujahid kebanggaan agamanya. Pergilah kekota nak..carilah keluarga ayahmu. Ayahmu mempunyai seorang adik yang baik hatinya namanya tante Salma, ia pernah menawarkan ibu untuk tinggal bersamanya namun ibu menolak karena saat itu ibu masih bisa menghidupi kamu dan adikmu.
Tinggal kan pekerjaanmu, carilah pekerjaan yang lain bisa menerimamu dengan hijabmu, taati ajaran agamamu. Hanya itu permintaan terakhir ibu.
Semoga kelak kita bisa di persatukan di syurga-Nya
Peluk cinta dari ibu untukmu dan Mizan

Berulang kali aku baca tulisan itu, berulang kali juga airmata ini menetes. Aku tersadar betapa selama ini aku telah melupakan-Nya. Melupakan Sang Pemberi hidup aku tak lagi mengerjakan perintah-Nya, larangan-Nya sering aku kerjakan. Bahkan hanya karena pekerjaan aku rela melepas hijabku yang sedari kecil aku pertahankan. Ku pandangi wajahku di depan cermin ku lihat diriku yang sungguh berbeda dari yang dulu, rambut yang ku potong pendek, kaos ketat dan celana jeans yang aku kenakan. Aku hampir tak mengenal diriku sendiri. Seperti ini kah diriku?? seperti inikah harus ku jalani hidupku?? Begitu jauh dari syariat agama?? Saat itu juga aku tersadar.. saat itu juga aku tersungkur sujud dihadapan-Nya.  Airmata ini tak berhenti mengalir menyesali perubahan diri, menyesali tentang dosa-dosa diri.  Ya Allah ampuni segala dosa-dosaku. Bisikku dalam hati. Ibu terimakasih engkau telah mengingatkan kembali akan jilbab biru pemberian ayah. Jilbab yang dulu pernah menjadi kebanggaan di hatiku.