Rabu, 08 Mei 2013

Kini ku tersadar..


Kini ku sadari betapa berharganya waktu
Ketika ia pergi ia tak akan pernah kembali
Ketika ia berlalu tak akan pernah sudi menghampiri lagi
Setiap menit adalah perhitungan
Yang seharusnya di isi dengan kebaikan

Betapa ku tersadar kini...
Betapa banyak waktu yang ku buang untuk hal yang sia-sia
Bahkan aku tak perduli dengan itu
Aku tak pernah memikirkan itu
Aku tak pernah memikirkan hari itu
Hari di mana setiap detik yang aku lewati akan di hisab

Batapa ku tersadar kini..
Betapa diri sering terbuai oleh angan-angan kosong
Memikirkan hal-hal yang tak sepantasnya aku pikirkan
Bahkan aku sering terlewat batas terlalu yakin dan terlalu menuruti perasaan hati
Seakan-akan lupa ada Allah yang Maha menentukan takdir dan kehidupan

Kini ku tersadar...
Betapa indah cara Allah menegurku
Allah memberi aku masalah agar aku bisa belajar
Belajar  menyelesaikan masalah agar bisa menjadi amal ibadah
Allah memberi aku kesedihan agar aku bisa tegar
Allah memberi aku kebahagiaan agar aku bisa memaknai arti kehidupan

Kini ku tersadar...
Betapa Allah sangat mencintaiku
Betapa Allah sangat menyayangiku
Pasti DIA tidak ingin kalau aku menduakan cinta-Nya

Mulai detik ini Ya Allah..
Ajari aku bagaimana cara mencintai-Mu
Ajari aku bagaimana cara menjadi hamba-Mu yang Kau Cintai
Sudah cukup apa yang aku lakukan dulu
Jangan biarkan aku lakukan itu untuk yang ke dua kali
Aku akan berusaha sepenuh hati untuk melabuhkan cinta ini hanya untuk-Mu
Akan aku labuhkan hati ini hanya pada-Mu
Karena Engkau-lah Pemilik hatiku
Dan Sudah sepantasnya hati ini aku berikan hanya pada-Mu

Kuatkan jalanku Ya Allah..
Ridhai-lah jalanku..
Peluk aku di kala aku terjatuh
Dekap aku di kala aku terpuruk
Tarik aku kembali ke dalam samudra cinta-Mu
Samudra cinta sejati yang tak akan pernah bertepi.

Minggu, 14 April 2013

Indahnya Menulis

Assalamu'alaikum sahabat...apa kabar dengan keimanan sahabat di jum'at yang penuh berkah ini? semoga sahabat senantiasa berpijak di atas jalan lurus-Nya. menapaki setiap jengkal kehidupan dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.karena itulah kunci kebahagian dan kesuksesan dunia dan akhirat. keimanan dan ketakwaan merupakan salah satu motivasi hidup yang harus senantiasa kita pertahankan, dan kita perjuangkan dengan segala daya upaya yang kita miliki.. kenapa dan mengapa? mungkin pertanyaan itu akan muncul di benak pikiran saudara ketika membaca pernyataan di atas..dengan pemahaman saya yang sedikit saya akan mencoba menguraikannya.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan terlebih dahulu kita pelajari tentang apa tujuan hidup kita? untuk apa Allah menciptakan kita? Allah menciptakan kita tidak main-main. di balik penciptaan manusia ada maksud dan tujuannya dalam al-Qur'an Sural Al-mu'minun ayat 105 Allah SWt berfirman, " Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"


Dalam surat lain Allah SWT ber firman " “Dan tidaklah Aku menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tdk menghendaki rizki sedikitpun dari mereka & Aku tdk menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.Adz Dzariat : 56-58)

Dari ayat di atas kita sudah mengetahui bahwa di balik penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya. Tugas manusia yang paling utama dalah menyembah-Nya di setiap saat kapanpun dan dimanapun.

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia, manusia bisa lebih mulia di banding malaikat jika ia beriman dan bertakwa namun sebaliknya manusia bisa lebih hina dari binatang ternak jika ia ingkar pada-Nya. Manusia di beri akal untuk berpikir, namun tak jarang ia gunakan pikiran itu untuk hal-hal yang di haramkan dan mengundang murka Allah. padahal setiap apa yang ia lakukan akan di mintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Tulisan ini aku buat sebagai bahan pengingat diri, bahwa manusia adalah hamba Allah yang mempunyai kewajiban menyembah dan taat hanya kepada-Nya. karena hanya Allah tempat kita bergantung, tempat kita meminta dan tempat kita memohon pertolongan. tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.

Sebagai penutup tulisan singkat ini aku ingin mengajak saudara ku semua termasuk diri ini yang lemah tiada daya  marilah kita tanamkan keimanan yang kokoh di dalam hati kita, Marilah kita berlomba untuk menjadi hamba yang Allah cintai. karena hanya cinta Allah lah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.

Semua kebenaran hanya milik Allah apabila ada kesalahan itu dari diri saya sendiri yang dhoif. mohon di maafkan

semoga bermanfaat






Sabtu, 13 April 2013

KETIKA CINTA HARUS BERSABAR


Namanya Dinda seorang muslimah yang ramah dan cantik parasnya,  di usianya yang sudah mencapai 27 tahun membuat orangtuanya selalu menyuruhnya untuk menikah. Bagi seorang Muslimah yang taat ia yakin kalau jodohnya pasti ada dan Allah pasti sudah ciptakan pasangan hidup untuknya. Sebagai seorang penulis novel sekaligus pekerja di salahsatu penerbit majalah islam terkemuka di ibukota membuat hari-hari selalu sibuk.

Siang itu saat ia sedang asyik dengan komputernya meng-edit ulang novel barunya. Seorang wanita paruh baya yang selalu menemaninya setiap saat masuk ke dalam kamarnya.
"Din, anterin mama menjenguk teman lama mama yah di rumahnya. Sekarang ia sedang sakit dan mama ingin berkunjung kerumahnya."

Awalnya aku ingin sekali menolak permintaan mama namun aku tega melihat mama pergi sendirian, dan mama juga punya penyakit asma yang sering kali kambuh setiap saat. Dengan alasan ingin berbakti kepadanya akhirnya aku mau menemaninya.

Dari sanalah awal pertemuan aku dengannya, sosok yang aku anggap sebagai malaikat, wajahnya yang bersih, tingkah lakunya yang sopan dan tutur katanya yang menawan membuat aku tertawan begitu melihatnya. Yang belakangan aku tahu namanya adalah Yusuf

Beberapa hari setelah aku bertemu dengan lelaki yang mampu menggetarkan hatiku. Ibu mengabarkan kalau keluarga Bu yunita beserta suami dan anak lelakinya akan datang untuk bersilaturahmi sekaligus membicarakan hal yang sangat penting.  Awalnya aku tidak tahu tentang hal penting apa yang akan di bicarakan aku hanya menurut apa kata mama agar nanti malam aku bisa menemaninya dan bersua dengan keluarga besar Yusuf.

Malam itu merupakan malam yang indah untukku, penantian ku yang panjang kini ber akhir sudah aku telah di khitbah olehseorang ikhwan yang di mataku sangat sempurna. Aku merasa cintaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Aku menyangka Yusuf juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Namun kebahagianku hanya sesaat, kebahagianku hancur berkeping-keping setelah aku membaca surat dari Yusuf yang aku sangka isinya adalah surat cinta untukku.

 Di surat itu jelas di katakan kalau ia melakukan semua itu hanya karena orang tuanya. Ia tidak mau melihat ibunya masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya gara-gara penolakannya untuk menikah dengan gadis pilihanya. Yang lebih lagi sakit aku rasakan ia bilang tidak mencintaiku dan sangat sulit untuk mencintaiku karena ada nama lain yang kini bersemayam dihatinya. Ia bilang akan sulit untuk mencintaiku karena aku buka wanita yang ia cintai.

Singkat cerita acara pernikahanku berjalan dengan lancar, meskipun hatiku berontak ingin rasanya aku berteriak agar semua orang tahu bahwa aku tidak mengingankan pernikahan ini terjadi. Namun aku tak kuasa menyakiti dan mengecewakan orang –orang yang aku sayangi. Ku lihat wajah itu sungguh kaku dan tak ada senyuman pun tersungging dari  bibirnya, ia berdiri di sebelahku namun seakan-akan ia berada jauh dari jangkauanku.

Tibalah saat malam pertama pernikahanku, sebagian orang bilang malam pertama adalah malam yang terindah yang tak bisa terlupaka namun berbeda denganku, malam itu merupakan awal kesabaran dan cintaku di uji. Tidak ada kata-kata sayang aku dapatkan yang ada hanya kebisuan, kesunyian dan kehampaan. Meskipun ia sempat mencium kening dan mengucapkan doa yang seperti Rasulullah ajarkan padaku dan itupun karena aku yang memintanya. Aku dan dia sempat melakukan ibadah itu namun itu semua bukan karena dasar cinta tapi karena sebuah keterpaksaan.

Malam itu berjalan amat lamban aku rasakan, aku sesaatpun tidak bisa memejamkan mataku, aku muak, aku benci, aku sedih dengan semua kejadian ini.  sebagai seorang istri aku mempunyai hak untuk mendapatkan kasih sayang dari suamiku. Dan sebagai seorang suami ia mempunyai kewajiban untuk membahagiakanku. Namun apa yang aku dapatkan sebaliknya suamiku tidak bisa mencintaiku karena di hatinya hanya ada satu nama yaitu ”Alifa”

Alifa seorang akhwat berkerudung panjang nan cantik dan sopan. Seorang gadis yang membuat suamiku tidak bisa mencintai wanita yang menjadi istrinya kini. Aku tidak mengenalnya sebelumnya, aku melihatnya saat ia dan teman-temannya datang di hari pernikahanku.

Tak terasa sudah lima bulan usia pernikahanku, namun aku belum bisa merasakan menjadi istri yang sesungguhnya, sikap Yusuf kepadaku masih belum berubah, ia begitu kaku dari sorot matanya tak ada sama sekali tanda-tanda cinta untukku. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suami, meskipun suamiku belum bisa mencintaiku, namun aku selalu berusaha menjadi istri yang berbakti padanya, aku menjalankan tugasku sebagai istri dengan tulus mengharap ridha-Nya. Setiap pagi aku membuatkan sarapan untuknya, menyiapkan baju kerjanya, dan mengantarkannya sampai kedepan pintu ketika ia hendak pergi kerja. Aku ingin menjadi istri yang bisa mengantarkannya ke syurga-Nya.

Tak bisa ku pungkiri setiap hari rasa cintaku kepadanya semakin besar, meskipun rasa cinta ini belum bisa terbalas namun aku tak peduli karena bagiku ia adalah suamiku orang yang layak aku cintai. Dalam do’a di penghujung malam aku selalu menyebut namanya berharap agar Allah selalu melindunginya di manapun dia berada.

Undangan pernikahan Alifa dengan ikhwan bernama guntur ku berikan pada Mas yusuf, dari raut wajahnya nampak kemurungan. Aku yakin Mas Yusuf merasa kecewa meskipun ia tak mampu menunjukan perasaannya itu padaku.

Meskipun Alifa kini sudah menikah namun sikap Mas Yusuf tidak jauh berbeda, ia masih sama seperti dulu. Hanya buku harian dan sajadah panjangku yang menjadi saksi betapa tersiksa nya  hatiku dan betapa tulusnya cintaku untuknya.

Dua bulan setelah pernikahan Alifa, aku mendapat kabar dari temannya bahwa Alifa masuk rumah sakit karena setiap hari kesehatannnya menurun, ia mengalami tekanan bathin karena suami nya meninggal saat usia pernikahannya baru satu minggu, ia tidak bisa menerima kenyataan yang ada sehingga membuatnya koma. Mendengar kabar itu aku langsung menjenguknya di rumah sakit tempat ia di rawat. Keadaan Alifa sungguh sangat memprihatinkan, dokter bilang semangat hidupnya hanya akan kembali lagi jika ia mendapat kasih sayang dari sosok lelaki yang bernama suami. Hanyakata- kata mesra dari suaminya lah yang mampu menghidupkan gelora hidupnya kembali. Dan dokter menyarankan agar secepatnya mencarikan suami untuk Alifa sebelum terlambat. Aku pun berinisiatif membantunya mencarikan seorang suami untuknya. Ada tanda tanya besar di hatiku siapa dan dimana aku harus mencarinya??

Tiba-tiba nama mas Yusuf terlintas di pikiranku, apakah aku harus menikahkan suamiku sendiri dengan Alifa, apakah aku harus melakukan itu, apakah aku mampu melihat laki-laki yang sangat aku cintai bersama wanita lain. Tapi aku tidak bisa melihat Alifa menderita ia butuh seorang suami untuk menyelamatkan hidupnya.

Pikiran itu terus menerus menghantui ku, keinginanku untuk menikahkan Mas Yusuf dengan Alifa begitu besar. Aku belajar untuk berdamai dengan hatiku, biarlah aku tidak bisa mendapatkan cintanya asal aku bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Salah satu cara adalah membiarkan Mas Yusuf menikah dengan wanita yang di cintainya. Jika ini merupakan jalan untuk suamiku hidup bahagia aku rela meskipun aku harus di madu.

Malam itu juga aku sampaikan niat hatiku pada suamiku, ia begitu kaget dengan kabar tentang Alifa dan kekagetan itu semakin bertambah mendengar permintaanku untuk menikahinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ia terdiam. Membisu seperti patung yang bernyawa.

Sehari setelah mendengar kabar itu malam harinya suamiku tidak pulang kerumah, aku menjadi resah, HP nya aku hubungi tidak aktif, aku telpon kantornya pun tak ada jawaban, tidak sampai di situ aku mencari kabar melalui teman-temannya tapi tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Aku tak bisa menahan airmata ini, aku menangis aku merindukannya, aku sangat mengkhawatirkannya.

Berita itu sontak mengagetkanku, suamiku kecelakaan dan kini di rawat ditempat Alifa di rawat. Menurut seorang polisi yang menghubungiku suamiku terpelanting sejauh 15 meter dari motornya. Dengan segera aku pergi kerumah sakit tempat suamiku di rawat, airmata ini tak berhenti mengalir mengkhawatirkan keadaannya. Di sebuah ruangan VIP suamiku dirawat dan ia tidak sadarkan diri, anggaota badannya penuh dengan perban, meskipun menurut dokter tak ada luka yang serius dan dalam beberapa hari ini akan sadarkan diri namun melihat keadaannya aku tak tega. Aku tidak mau melihat suamiku menderita.

Suamiku sudah hampir dua hari dalam keadaan koma, ia belum juga sadarkan diri aku bertambah cemas di buatnya, selama dua hari itu aku tak pernah meninggalkannya, aku selalu di sampingnya, merawatnya dengan tulus, di saat yang seperti itulah aku bisa memandangnya sepuasnya. Melihat wajahnya dan menggenggam tangannya yang sebelumnya tak pernah aku lakukan. Wajah itu sungguh bersih, sama seperti pertama kali aku melihatnya, mengenggam tangannya membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan untuk pertama kali aku menciumnya, ya aku menciumnya dalam keadaan ia tak sadarkan diri. Namun rasa bersalah tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku merasa telah berbuat kurang ajar dengan menciumnya, aku takut ia tidak meridhainya.

Aku memilih duduk dikursi menjauh darinya aku tak kuasa jika terus menerus memandangnya. Tiba-tiba aku lihat tangan suamiku bergerak-gerak dan ia mulai membuka matanya. Betapa bahagianya hatiku ketika yang keluar pertama kali dari mulutnya adalah namaku. Ia memanggil namaku dengan suara yang sangat lirih, mendengar suaraku di panggil aku langsung menghampirinya. Melihat suamiku sadarkan diri aku bermaksud memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Namun belum jauh kaki ini melangkah tiba-tiba pandanganku kabur, badanku lemas dan aku terjatuh tak sadarkan diri.

Selama dua hari aku tak sadarkan diri, aku berbaring lemas di rumah sakit, aku terlalu capai dan kurang istirahat yang membuat kondisi badanku menurun. Begitu terkejutnya diriku begitu aku sadarkan diri suamiku berada di sisiku ia sedang mencium keningku dan memanggilku dengan pangilan sayang, panggilan yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Ia juga mengenggam tanganku begitu erat. Dan yang membuatku terkejut ia menangis sambil menciumi tanganku. Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkinkah ia sudah bisa menerimaku dan mencintaiku. Apakah cinta ini sudah terbalas, berbagai pertanyaan bermain-main di pikiranku. Dan sebuah perkataannya yang tak akan pernah aku lupa yang mampu mebuat hatiku berbunga-bunga serta tak kuasa menahan haru.

”Dinda, istriku maafkan aku yang selama ini telah menyia-nyiakanmu, kini aku sadar engkau adalah karunia yang terbesar yang Allah berikan untukku. Sayang maafkan aku karena telah membuatmu selalu menangis di malam-malammu, maafkan aku yang pernah membohongimu. Kini aku sadar aku telah melakukan kesalahan besar. Dan terimakasih Dinda atas buah hati yang kini sedang bersemai di rahimmu, buah hati cinta kita.”

Aku tak kuasa menahan airmata ini, aku bahagia, aku terharu aku tak bisa menjelaskan kebahagian ini dengan kata-kata, aku hanya bisa menangis sambil aku menggenggam erat tangan suamiku yang kini sudah memberikan cintanya padaku.

Tiba-tiba aku teringat dengan Alifa, aku tidak mungkin egois dengan memikirkan diriku sendiri, aku sudah bertegad untuk menikahkan Alifa dengan Mas Yusuf.  Akhirnya aku memberanikan diri bertanya tentang Alifa padanya dan meminta nya untuk menikahinya. Mendengar permintaanku tiba-tiba suamiku meminta izin untuk keluar sebentar sebelum menjawabnya, aku tak tahu apa yang suami aku lakukan di luar sana. Yang aku tahu ketika ia datang kembali ia tak sendiri ia bersama Alifa yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seorang lelaki yang tak asing lagi dan ia adalah Randi sahabat Mas Yusuf. Ternyata Alifa sudah menikah dengan Randi dua hari yang lalu. Dan kini Alifa sudah menemukan semangat hidupnya kembali.

Kini kebahagianku lengkap sudah, aku menemukan cintaku, kesabaran ini berbuah kemanisan, ketulusan cinta ini terbalas sudah. Ketika cinta harus bersabar, di situlah ketulusan cinta di uji. Kesabaran pasti akan berbuah keindahan karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang bersabar.

Ringkasan dari novel yang berjudul ketika cinta harus bersabar dengan gaya bahasa yang telah di ubah sesuai gaya bahasa tulisanku.
Semoga bermanfaat.

Isi surat Yusuf untuk Dinda 

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Kepada yth : Adinda Altharina putri
Ditempat

Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu apalagi yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah denganmy. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.

Merekan bilang, sejak pertama kali Melihatmu, hati mereka langsung bergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orangtuaku dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu.semua ini adalah rencana orangtuaku dan orangtuamu untuk menjodohkan kita.

Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi, maka banyak orang yang akan aku bohongi, aku akan menjadi seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.

Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab melihat kondisi ibuku yang sudah lemah, aku takut bila aku menolak permintaannya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang lalu ibu masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.

 Jadi aku mohon bantulah aku memainkan sandiwara ini di depan orangtua kita masing-masing. Aku tau segala sesuatunya itu akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta'ala, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal itu.

Aku merasa belajarku selama beberapa tahun tentang islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.

Pernikahan bukanlah hal yang main-main untuk di jalankan terlebih lagi bila tidak di landasi dengan rasa cinta. Sesungguhnya ada nama lain yang mengisi relung hatiku. Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus nama itu dan berusaha menggantinya dengan namamu.

Jika memang tak ada cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini padamu. Jujur. Tidak ada yang di tambahkan atau di kurangkan. Aku tidak mau mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak mencintaimu.

Mungkin ketika membaca surat ini, matamu sudah di penuhi dengan airmata. Aku akan berusaha mengganti airmatamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf, beribu-ribu maaf aku pinta kepadamu.

Tolonglah malam ini kau sholat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu dengan kepalsuan cintaku.
Dan tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku. Sekian dulu surat dariku, bila semua ini kurang berkenan di hatimu, mohon di bukakan pintu maafmu untukku,. Afwan.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

Dari seorang pengecut
Yusuf Abdullah Fattah

Selasa, 19 Februari 2013

Udah Putusin Aja

Malam ini pengen buat artikel yang berjudul udah putusin aja, waduh dari judulnya sudah kelihatan mau buat provokasi..tenang aja masbro/mbasis. Ini bukan untuk memprovokasi tapi untuk mengompori para mereka aktivis pacaran..hee

Bagi para pengguna twitter mungkin kata udah putusin aja sudah tidak asing lagi di telinga mereka Karena sudah terlalu banyak kultweet yang ber-hastag Udah putusin aja berkeliaran di sana.

Belum lama ini aku menghadiri sebuah acara bedah buku yang berjudul Udah putusin aja. Sebuah buku yang cukup menarik menurutku.sebuah buku motivasi untuk mereka para aktivis pacaran untuk bersegera memutuskan gebetannya.. Hee nyingir dulu ah sebelum di komplint para aktivis pacaran.
Mungkin bagi para aktivis pacaran keberadaan mereka mulai terancam dengan keluarnya buku ini. Bagaimana tidak terancam karena modus-modus mereka akhirnya terungkap juga..hee ternyata orang pacaran itu banyak modusnya loh..baru nyadar kan!!

Hey girls.. Simak baik-baik yah apa sih modus mereka para peng-gombal cinta sebelum halal itu? do you know sis seorang laki-laki yang hanya beraninya mengajak pacaran itu laki-laki pengecut, mengapa di katakan pengecut karena dia hanya mau nya seneng-seneng saja. Ia belum siap berkomitmen dalam sebuah pernikahan.emang kalian mau mba sis jika hanya di jadikan sebagai permainan saja kalau aku yang di tanya seperti itu sih sudah pasti aku jawab "T I D A K" tanpa pikir panjang lagi. Emang gue barang mau di mainin ogah banget gitu loh. Survei membuktikan orang yang berpacaran kebanyakan pasti putus kenapa demikian karena pacaran adalah awal dari putus. Jadi kalau ga mau putus ga usah pacaran.

Bagi mereka para aktivis pacaran selalu berdalil kalau Pacaran membuat semangat dalam menjalani hidup, semangat dalam belajar, semangat dalam bekerja, benarkah?? Buktinya mana?? Maksudnya semangat menjalani hidup karena dunia ini milik berdua yang lain ngontrak gitu..lebay coy kalau itu alasannya. Sudah ga zaman. Kalau mau cari alasan yang berkelas dikit kenapa. Atau semangat dalam belajar? Wah bagaimana bisa, yang ada malas belajar iya, bagaimana mau belajar yang ada di pikirannya hanya dia, dia dan dia. Bilangnya mau belajar bersama giliran sudah ketemuan bukan pelajaran yang di bahas tapi yang lain yang di bahas..hayoo ngaku!!! Atau membuat semangat untuk bekerja, iya kah?? Belum ada buktinya juga.. Yang ada mereka aktivis pacaran hidupnya itu selalu gaber (galau berat). Maunya tampil selalu kecek di depan wanita yang di kaguminya, padahal kantongnya selalu boke.

Hey sis..pasti kalian mempunyai mimpi seperti kebanyakan wanita yang lainnya, punya suami yang baik, sholeh, taat dan lain sebagainya. Tentu tipe lelaki yang seperti ini tidak akan di dapatkan pada sosok lelaki yang hidupnya hanya meng-gombali cewek, berani bermaksiat pada Rabb-Nya. Pernahkah kalian berpikir lelaki yang seperti Itu tidak mustahil jika kelak ketika ia sudah beristri berani juga berselingkuh di belakang kalian.

Mba Sis ga ada untungnya sama sekali berpacaran, sudah rugi waktu, rugi tenaga, rugi juga pikiran, mending lebih baik kita pikirkan bagaimana mempersiapkan diri agar layak untuk di jemput sebagai istri, gali ilmu yang perlu kita gali, perbaiki diri. Udah putusin aja jika ia jodoh kita tak akan kemana namun jika bukan jodoh kita ada yang lebih baik menanti kita. Jangan berani coba-coba untuk bermaksiat, karena yang bakal rugi adalah kita kaum wanita

Semoga artikel ini bermanfaat
Salam santun selalu

Kamis, 24 Januari 2013

Jilbab Biru Milik Sofia


Mentari belum belum terlihat di langit yang indah  ketika ku langkahkan kakiku keluar rumah, jalanan masih basah oleh siraman air hujan semalam, dedaunan di tepi jalan begitu segar kulihat di tambah embun yang bergelayutan di dahan-dahan menambah keindahan pemandangan pagi hari.

Ku lalui jalanan yang penuh dengan kerikil batu, sepatu lusuhku yang mungkin untuk sebagian orang sudah tidak layak pakai lagi  aku kenakan sebagai pelindung kakiku dari menginjak kerikil batu yang tajam.

"Kak sofia tunggu.." Teriak bocah kecil persis di belakangku.

Aku serta merta menghentikan langkahku dan memalingkan kepalaku kebelakang. Ku lihat tak jauh dari tempatku berdiri Mizan dengan tergopoh-gopoh lari menghampiriku.

"Ada apa Miz, kok sampai berlari-lari seperti itu..". Tanyaku melihat keadaan Mizan yang terengah-engah karena mengejarku

"Kakak harus kembali rumah, ibu semakin parah batuknya dan tadi dari mulut ibu keluar darah kak..Mizan takut, dan sekarang Ibu di temani bik marni karena ibu kini tak sadarkan diri. " Cerita bocah kecil itu sambil menangis sesenggukan.

Mendengar kabar itu. Kakiku langsung lemas, aliran darahku seakan berarti mengalir, jantungku berdetak begitu kencang. Aku hampir terjatuh jika tidak bersandar pada tiang di sebelahku berdiri. Ku usah wajahku menggunakan kedua tanganku, bermaksud untuk menenangkan diri, dan usahaku ternyata tidak sia-sia, aku mulai sedikit tenang. ku rengkuh bocah kecil yang ada di sampingku dengan begitu erat. Sebelum aku memutuskan untuk berbalik arah kembali ke rumah.

Mizan adalah adikku satu-satunya. Ia kini menjadi tanggungan hidupku. Semenjak ayahku meninggal dunia dan ibuku sakit-sakitan semua keperluan hidupnya menjadi tanggung jawabku. Lima tahun yang lalu ayah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Pesawat yang ayah tumpangi raib entah kemana bahkan jasad ayah sampai kini pun tidak di temukan. Berbulan-bulan aku dan ibu selalu menunggu kabar tentang keberadaan ayah namun tetap sia-sia. Pencarian terus di lakukan namun tak seorang pun yang berhasil menemukan jejak pesawat tersebut.

Ayah ku anak orang berada. Orangtuanya tinggal di jakarta dan perusahaan di mana-mana. Pernikahan ayah dengan ibuku-lah yang membuat ia di usir dari keluarganya. Bahkan orangtuanya tidak mengakui sebagai anaknya lagi. Menurut cerita ibu, ayah tidak pernah pulang kerumah orang tuanya semenjak pindah ke kampung ini.

Ibuku memang hanya seorang gadis kampung, bahkan ia pun bukan orang yang berpendidikan, namun karena akhlak dan tingkahlakunya yang sopan membuat ayahku jatuh cinta padanya. Ayahku saat itu sedang menjadi relawan korban banjir di kampung ini. dari situlah awal pertemuan ayah dan ibu hingga berlanjut ke pelaminan.

*********

Dari jauh nampak sebuah rumah mungil yang sudah kelihatan tua, itulah tempat dimana aku, ibu dan adikku tinggal. Jantungku semakin  berdetak tidak beraturan ketika ku lihat banyak orang di rumahku, dari jauh ku lihat Mang Suryo suami dari Bik Marni mondar-mandir di depan rumah. Perasaan tidak enak mulai menyeruak di hatiku. Pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak. Ku percepat langkahku sambil ku gandeng adikku yang sedari tadi hanya diam membisu.

Ku singkap kain yang menutupi kepala ibu, tak ada suara, tak ada senyum yang menghiasi bibirnya. Ibuku kini terbujur kaku. Ibuku sudah pulang ke haribaan-Nya. Belum sempat lisan ini berucap maaf padanya. Belum sempat diri ini membahagiakannya, namun kini ibu telah pergi untuk selama-lamanya. Tak kuasa aku menahan air mata ini. Berulang kali ku menghapus airmata yang menetes di pipi. Adikku masih mendekap ibuku begitu erat ia memanggil namanya sambil menangis tersedu-sedu. Melihat keadaannya airmata semakin deras mengalir. Namun aku tak mau ikut-ikutan lemah sepertinya. Aku harus bisa menjadi penguatnya. Kuraih adikku dan kupeluk ia begitu erat. Airmatanya kini membasahi bahuku, ku belai kepalanya memberi ketenangan padanya, "Dik jangan menangis lagi yah masih ada kak yang tetap akan menjaga adik sampai kapan pun. " Bisikku lirih di telinganya.

Bik Marni yang yang sedari tadi hanya diam, ia kini angkat bicara.

 "Nak sudahlah relakan ibumu pergi, biarkan dia tenang di sana. Ia sudah terlalu lama menderita karena penyakitnya. " Ucapnya sambil memegang bahuku dengan tangannya.

"Bik..terimakasih atas semua bantuan dan kebaikan Bik Marni. Kami tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Kami sangat berhutang budi pada Bik Marni dan Mang Surya. " Ucapku

"Nak..tidak perlu berterimakasih. Kalian adalah keluarga ku juga. Sudah menjadi tanggung jawab Bik Marni untuk membantu. "

"Sof..sekarang sepertinya sudah waktunya ibumu di makamkan. Cuaca begitu medung. Takutnya nanti hujan dan bisa menghalangi pemakaman ibumu. " Lanjutnya lagi

Aku hanya mengangguk tanda menyetujuinya. Ku pandangi ibuku yang kini terbujur kaku terbungkus selembar kain kafan, matanya terpejam, ku mendekat padanya ku cium dahinya untuk terakhir kalinya sambil ku berbisik lirih, Bu selamat jalan..maafkan sofia yang belum bisa membahagiankanmu. Sofia janji akan jadi kakak yang baik untu Mizan. Air mataku kembali menetes namun secepat mungkin ku menghapusnya karena aku tak mau air mataku jatuh di jenazah ibuku.


***

Malam kian larut, suara celoteh anak manusia tak lagi terdengar,  hujan yang sedari tadi sore turun belum lagi berhenti di selingi suara guntur dan kilat yang menyambar. Suasana yang sepi begitu aku rasakan, sekilas ku pandangi wajah adikku yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Tak tau kenapa bening-bening kristal kembali menetes. Aku sedih..amat sedih.. Dulu aku merasa kehilangan ayah dan sekarang aku harus kehilangan ibu. ku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar tidurnya
Sebuah ranjang lusuh di sudut kamar tempat dimana ibu menghabiskan harinya.  Ku pandangi setiap sudut kamar dengan begitu teliti. Sudut kamar yang mengingatkan ku akan seseorang yang begitu berjasa dalam hidupku. Namun seseorang kini telah pergi dan tak akan pernah kembali. Kepergiannya membuat luka di hati dan meninggalkan kenangan yang tak akan pernah bisa di lupakan oleh hati.
Ku buka lemari baju tempat ibu menyimpan baju-baju dan barang berharganya.  Ku buka laci kecil yang ada di dalamnya. Mataku tertuju pada sebuah buku kecil berwarna hitam , ku jambil buku itu ku pandangi sesaat sebelum memutuskan untuk membuka lembar per lembarnya. Di sampul depan ter pampang foto pernikahan ibu dan ayah, sudah kelihatan lusuh memang namun melihat foto itu membuat bibir ini tersenyum.

Saat ku buka bagian tengah buku itu hatiku berdetak lebih kencang, mata ku terbelalak melihatnya, sebuah tulisan yang ibu tulis khusus untukku. Dengan tangan yang bergetar aku membacanya :
Untuk anakku sofia
Saat tulisan ini engkau baca mungkin ibu sudah pergi jauh, saat tulisan engkau temukan mungkin engkau tidak akan pernah bertemu dengan ibu lagi.  Nak, maafkan ibumu yang belum bisa membuatmu bahagia, penyakit ibu yang tak kunjung sembuh membuat ibu sering meropotkanmu. Sebenarnya ibu tak tega melihat keadaanmu, di usiamu yang masih belia kamu harus menanggung beban seberat ini, kamu bekerja siang dan malam untuk menghidupi ibu dan adikku. Satu yang membuat hati bui miris dan sedih melihatnya, engkau korban kan hijabmu hanya untuk menafkahi ibu. Kau korbankan hijabmu untuk pekerjaanmu. Dalam hati ibu amat tidak rela kamu melakukan itu. Ibu merasa menjadi penyebab hal itu terjadi.
Nak..maafkan ibumu yang hanya bisa menjadi beban dalam hidupmu, nak kalau ibu boleh pinta kenakan hijabmu kembali, ibu masih simpan rapi hijab birumu di lemari baju, kenakan lah kembali, tanggalkan gaya tomboymu, kenakan baju muslimahmu dulu seperti saat engkau masih duduk di bangku sekolah, penuhilah impian ayah ibumu. Hijabmu akan menjadi pelindungmu.
Nak..ibu titip Mizan, jaga adikmu ajari ia ilmu agama agar kelak ia bisa menjadi mujahid kebanggaan agamanya. Pergilah kekota nak..carilah keluarga ayahmu. Ayahmu mempunyai seorang adik yang baik hatinya namanya tante Salma, ia pernah menawarkan ibu untuk tinggal bersamanya namun ibu menolak karena saat itu ibu masih bisa menghidupi kamu dan adikmu.
Tinggal kan pekerjaanmu, carilah pekerjaan yang lain bisa menerimamu dengan hijabmu, taati ajaran agamamu. Hanya itu permintaan terakhir ibu.
Semoga kelak kita bisa di persatukan di syurga-Nya
Peluk cinta dari ibu untukmu dan Mizan

Berulang kali aku baca tulisan itu, berulang kali juga airmata ini menetes. Aku tersadar betapa selama ini aku telah melupakan-Nya. Melupakan Sang Pemberi hidup aku tak lagi mengerjakan perintah-Nya, larangan-Nya sering aku kerjakan. Bahkan hanya karena pekerjaan aku rela melepas hijabku yang sedari kecil aku pertahankan. Ku pandangi wajahku di depan cermin ku lihat diriku yang sungguh berbeda dari yang dulu, rambut yang ku potong pendek, kaos ketat dan celana jeans yang aku kenakan. Aku hampir tak mengenal diriku sendiri. Seperti ini kah diriku?? seperti inikah harus ku jalani hidupku?? Begitu jauh dari syariat agama?? Saat itu juga aku tersadar.. saat itu juga aku tersungkur sujud dihadapan-Nya.  Airmata ini tak berhenti mengalir menyesali perubahan diri, menyesali tentang dosa-dosa diri.  Ya Allah ampuni segala dosa-dosaku. Bisikku dalam hati. Ibu terimakasih engkau telah mengingatkan kembali akan jilbab biru pemberian ayah. Jilbab yang dulu pernah menjadi kebanggaan di hatiku.

Kamis, 22 November 2012

KESUCIAN CINTA

Hujan masih turun rintik-rintik di luar sana, mendung hitam masih menaungi kota Bandung,aku dekati jendela kamarku, ku buka tirai yang menutupinya. Nampak jalanan yang basah, dedaunan yang hijau nan segar, bunga-bunga yang bermekaran, rerumputan dan ilalang pun turut menikmati indahnya rahmat yang telah Allah turunkan melalui air hujan.

Sudah hampir tiga tahun aku tinggal di tempat ini. Ya..tiga tahun yang lalu aku memutuskan untuk tinggal di bandung, tempat di mana aku di pindahkan tugas oleh atasanku, sedih memang ketika pertama kali harus meninggalkan kampung halaman tempat di mana aku di besarkan. Apalagi saat itu ayah dan ibuku belum lama meninggal. Kecelakaan itu merenggut nyawa ayah dan ibuku.Kejadian itu begitu mendadak aku tak pernah menyangka sama sekali kalau aku akan di tinggal secepat itu oleh mereka. Namun itulah takdir Allah yang tidak bisa di tolak. Jika Allah sudah berkehendak mengambil milik-Nya kapanpun dan di manapun tak akan ada yang bisa menolaknya apalagi menahannya. Sedih saat itu melihat kenyataan yang ada namun aku mencoba untuk tabah menghadapinya. Aku harus tegar di hadapan Sarah, adik perempuanku satu-satunya yang aku sayangi. hanya akulah yang menjadi tumpuan hidupnya.

Aku begitu menyayanginya. Usia yang tak terpaut jauh hanya 4 tahun membuat aku begitu akrab dengannya.Kami hidup rukun dan bahagia meskipun kami hidup tanpa orang tua. Alhamdulillah segala kebutuhan Sarah bisa aku penuhi dari penghasilanku. Namun semua itu hanya menjadi masalaluku. Sarahku yang dulu telah hilang, Sarah yang periang kini berubah menjadi pendiam, Sarah yang selalu bisa membuatku tertawa kini lesu seolah-olah tak bernyawa, tatapannya kosong, jiwanya rapuh, semangatnya telah hilang, ia bak seorang mayat hidup yang hanya bisa mendengar tanpa bisa merasa.

Peristiwa yang di alaminya membuat ghairah hidupnya lenyap.kehormatannya dan kesuciannya yang selama ini ia pertahankan di renggut oleh preman-preman jalan yang tak bertanggung jawab, hijab yang ia kenakan dan ia jaga mati-matian terkoyak karena ulah para penghamba syetan. Sejak peristiwa itu peristiwa dimana harga diri dan kehormatan dirinya di ambil secara paksa, Ia begitu sangat terpukul ia lebih suka mengurung di kamar, senyumannya tak pernah lagi terlihat dari bibir mungilnya yang ada ia lebih sering menangis sendirian.hari-harinya ia temani dengan airmata. Setiap kali aku melihat dan menatapnya hati ini menangis, dan sedih. Ingin rasanya meringankan bebannya, namun aku tak tau bagaimana caranya, aku tak bisa berbuat apa-apa, guyonanku sudah tak mampu lagi membuat ia tertawa.


###

Bunyi bel pintu membuyarkan lamunanku, tak terasa sudah hampir setangah jam aku berdiri di depan jendela. Ku lihat jam dinding di sudut ruangan, jarum jam menunjukan pukul 17.00 WIB, sudah sore begini siapa yang datang yah bisikku dalam hati. Kupercepat langkahku menuju pintu depan. Ku buka pintu setelah terlebih dahulu memastikan siapa gerangan yang datang.

"Assalamu'alaikum kak Indah maaf sebelumnya Rina datang ga kasih tahu terlebih dahulu dan maaf juga Rina datang bawa rombongan." Ucap Rina teman akrab Sarah yang selama ini setia menemani Sarah.

"Wa'alaikumus salam.. Ga apa-apa Rina..silahkan masuk." Balas Kak Indah dengan nada yang sedikit terkejut karena kedatangan Rina dengan rombongan yang tidak di kenalinya.

"Maaf Kak sebelumnya jika kedatangan kami mengejutkan kak indah, terlebih dahulu Rina kenalkan ini Kak Isma kakak sepupu Rina, ini Akhmad senior Sarah di kampius sekaligus adik dari kak Isma dan yang ini Roni teman Akhmad." Lanjut Rina sambil memperkenalkan Rombongan yang di bawanya.

"Sarahnya ada kak?" Tanya Rina melanjutkan pembicaraannya

"Ada di kamar seperti biasa."

"Boleh Rina masuk kekamar Sarah kak untuk mengajak Sarah keluar?" Izin Rina pada kak sarah

"Silahkan.." Jawabku.

Lima menit kemudian Rina muncul dengan Sarah di sampingnya. Sarah nampak begitu berbeda, ia kini kurus, matanya sangat cekung kehitam-hitaman pertanda ia terlalu sering menangis. Jilbab yang ia kenakan pun acak-acakkan. Sungguh sangat berbeda dengan sarah dua bulan yang lalu. Akhmad yang melihat perubahan fisik wanita yang di kaguminya secara diam-diam sedikit terkejut. ia tidak menyangka gadis yang selalu ceria dalam meniti hari-harinya berubah menjadi gadis yang pendiam yang hilang semangat hidupnya. Namun fisik Sarah tak membuat Akhmad berhenti untuk mengaguminya. ia masih tetap berharap suatu saat kelak bisa mempersunting sarah untuk di jadikan istrinya. kini kekagumannya pada Sarah kian bertambah apalagi setelah mengetahui peristiwa yang di alami sarah membuat ia semakin kuat untuk menikahinya.

Akhmad adalah senior kampus sekaligus pemuda masjid kampus. Sudah lama Akhmad mengagumi Sarah. Namun Akhmad lebih suka mencintai Sarah dalam diamnya dalam kematangan sikapnya. Karena ia punya rencana suatu saat jika sudah siap segalanya ia akan datang kerumahnya untuk meminangnya. Dua bulan ketidak munculan Sarah di kampus membuat Akhmad selalu bertanya-tanya. Di setiap sudut kampus ia selalu mencari sosok Sarah yang selama ini dirinduinya. Rasa rindu dan rasa ingin tahunya yang amat besar membuat ia memberanikan diri datang kerumah Rani sahabat karib Sarah. Dari Rani-lah ia mengetahui segalanya termasuk peristiwa yang di alami Sarah secara detail.

***

Melihat banyak orang di ruang tamu, apalagi di antara mereka ada Akhmad senior nya di kampus membuat Sarah ingin mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. ia memutar balikkan badannya kebelakang bermaksud untuk masuk kembali kekamarnya, namun tangan Rina yang sedari tadi memeluk tubuhnya menghalangi niat Sarah. "Ga apa-apa Sarah Akhmad bermaksud baik..Insya Allah dia orang yang paling memahami kondisi Sarah saat ini." Bisik Rina mencoba untuk meyakinkan Sarah dengan suara yang begitu lirih di telinganya. tiba-tba tangan Sarah begitu kuat memegang tangan sahabatnya seolah-olah meminta kekuatan dan perlindungan pada sahabat karibnya itu. dengan langkah yang gontai sarah berjelan mendekati ruang tamu dimana kak Indah dan tamunya berada.

Aku yang sudah tau apa maksud dan tujuan kedatangan mereka hanya bisa berharap kalau niat baiknya bisa di sambut baik oleh sarah. rasanya aku sudah tidak sanggup melihat kondisi Sarah yang kian hari kian memburuk.aku ingin melihat Sarah semangat lagi dalam melanjutkan hidupnya yang masih panjang. sekilas aku pandangi Sarah kemudian pandanganku beralih kepada Akhmad dan Kakaknya dengan harapan mereka segera mengatakan apa yang menjadi tujuannya.

Ternyata mereka bisa membaca pandangan mataku tidak beberapa lama setelah itu Akhmad pun mulai berbicara.

"Apa kabar Sarah? " tanyanya mengawali pembicaraan

Tak ada jawaban apapun dari sarah yang ada hanya pandangan kosong tak terarah.

"Sudah lama kak Akhmad cari Sarah di kampus tapi Sarah ga datang-datang.. Sarah ga rindu sama suasana kampus? taman-teman Sarah banyak loh yang cari Sarah, suasana kampus terasa kurang tanpa sarah." lanjutnya lagi.

Sama tak ada jawaban, tak ada ekpresi apapun dari raut mukanya. ia seperti patung yang bernyawa.

"Mau sampai kapan Sarah seperti ini, Masih banyak orang-orang yang mencintai sarah, yang rindu ingin melihat Sarah ceria seperti dulu lagi, apa Sarah tidak kasian sama kak Indah yang selama ini sangat bersedih dengan perubahan sikap Sarah.. apa Sarah juga tidak kasian juga sama Rina sahabat Sarah. Rina merasa kehilangan sahabat nya yang dulu sahabat yang bisa di jadikan tempat berbagi dalam suka dan duka..ingat masih banyak orang-orang  di sekeliling Sarah yang mencintai Sarah termasuk kak akhmad sendiri. Kak Akhmad minta maaf kalau selama ini sering memperhatikan gerak-gerik Sarah, Kak akhmad juga minta maaf kalau selama ini mengagumi Sarah tanpa sepengetahuan Sarah, bahkan selama Sarah tidak masuk kampus rasa rindu ini kian membuncah seakan-akan hanya bisa terobati dengan melihat Sarah. Untuk itulah Kak Akhmad memberanikan diri datang kerumah Sarah, meminta Sarah pada Kak Indah. dengan niat baik  dan karena Allah Kak Akhmad datang kerumah Sarah untuk meminang sarah Apakah Sarah mau jika Kak Akhmad menikahi Sarah?? maukah Sarah menjadi istri kak Akhmad??" lanjut Akhmad sambil menundukan kepalanya.

sarah yang sedari tadi diam tanpa ekpresi, mendengar perkataan Akhmad tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah dimana ucapan dan kata-kata itu berasal. hanya beberapa detik mata Sarah memandang Akhmad sebelum ia kembali ke sikap semulanya. suasana menjadi hening berharap ada sepatah dua kata yang keluar dari mulut Sarah.

"Kak Akhmad salah orang. Sarah bukan orang yang tepat untuk kak Akhmad, Sarah kotor..Sarah sudah tidak suci lagi..bahkan untuk memandang diri sendiripun sarah merasa jijik. Sarah ga pantes untuk Kak Akhmad. masih banyak wanita di luar sana yang lebih pantas untuk kak Akhmad.." kata-kata itu keluar dari mulut Sarah di ikuti dengan isak tangis dan airmata yang menetes di pipinya.

Aku yang duduk di sebelah Sarah tidak tega melihat kondisi Sarah..aku peluk Sarah sekuat tenagaku dan di luar dugaanku Sarah merespon pelukanku.selama ini jika ia di peluk ia hanya bisa diam namun kini ia membalas pelukanku, ia memelukku begitu erat, ia menangis sekuat-kuatnya di bahuku. apakah ini pertanda Sarahku akan kembali seperti dulu. bisikku dalam hati.

"Maafkan sarah kak yang selama ini membuat kakak sedih, Sarah ga tau apa yang sarah yang sarah lakukan, sarah hancur..maafkan sarah kak.."ucap Sarah di pelukanku dengan suara yang tidak jelas karena menahan tangis.

"Sudah lah Sarah..Sarah sudah mau bicara saja kakak sudah amat senang, betapa selama ini kakak rindu ingin mendengar suara sarah, sudah hampir dua bulan kakak tidak pernah mendengar suara sarah."..ucapku

Bak melihat sebuah adegan film yang mengharukan. Rina, Kak Isma pun turut hanyut melihat adegan yang mengharukan itu, Rina dan kak Isma tidak bisa menahan airmatanya, Suasana menjadi hening tak ada seorang pun yang berbicara yang ada hanya suara isak tangis anak manusia.

BERSAMBUNG.....



Jumat, 09 November 2012

Mencintai Itu Fitrah

Bismillah...kali ini aku mau share TL-nya @kadoNikah di twitter dengan hastag #mencintaitufitrah makanya aku kasih judul mencintai itu fitrah. sebelumnya aku sudah minta izinnya sama Miminnya untuk mengshare tulisan ini alasannya saya ingin memotivasi teman-teman yang sudah pada siap nikah biar termotivasi..he..padahal diri sendiri juga belum nikah. jujur ga pake bohong saat membaca cerita-nya aku senyum-senyum sendiri. untung saat baca tulisan itu aku sedang sendiri coba kalau ada orang lain yang lihat bisa divonis orang yang kurang nih..senyum-senyum sendiri depan HP. tapi kayaknya sudah menjadi hal yang lumrah yah MasBro, MbaSis senyum-senyum sendiri sama HP...ayo ngaku MasBro/MbaSis juga suka kan senyum-senyum sendiri? tapi tenang aja MasBro/MbaSis selagi senyumnya masih manis insya Allah masih normal..kok jadi ngelantur yah langsung saja aku share ceritanya. pastikan kalau ga ada orang di depan, belakang, samping MasBro/MbaSis karena di jamin cerita ini akan membuat MasBro/mbaSis senyum-senyum sendiri apalagi yang belum nikah. semoga bisa termotivasi dan cepat-cepat memutuskan untuk menikah #UdahPutusinAja kata Ustadz @Felixsiauw termasuk yang nulis nih. (hmm...jadi malu)Eng..ing..eng.. bukan sulap bukan sihir..simak yah..!!!

Cinta mengandung segala makna yaitu kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan. Firman Allah dalam al-Qur'an surat ar-Rum ayat 21"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Allah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. dan di jadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." Betapa indahnya cinta itu, betapa indahnya kasih sayang.

Tersebutlah seorang gadis, Riri namanya. dia wanita yang istiqomah dan memutuskan memakai hijab. Eits..jangan di bayangkan pakai hijabnya jaman sekarang loh. ini era tahun 90-an dimana memakai hijab adalah sebuah perjuangan keras. dan sebutlah seorang pria, Malik namanya.. dia adalah pejuang masjid yang semangat. Malik saat itu adalah seorang pengajar muda, sedang Riri adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan tugas akhirnya. Malik adalah pengajar yang berprestasi, single, tampan, sholeh, dan nyaris semua gadis muda menyukainya.

Riri dan Malik mengerjakan penelitiannya masing-masing, tapi mereka satu ruangan yaitu di ruangan laboratorium. Suatu saat teman Riri menyampaikan,

"Ri.., kamu di panggil tuh ma Kak Malik di laboratorium." Ucap temannya
"Apah?? Waduh salah apa nih penelitianku? Hadduuuh..Ga beres-beres nih tugas akhirku. bisik Riri dalam hati

Rari berlari kecil menuju Lab, di situ sudah ada malik, nguprek dengan alat-alat Lab-nya. tak sedikitpun memandang Riri.

"Iya kak ada apa?" Tanya Riri
"Silahkan duduk dek..mau tanya hari sabtu kamu pulang ke sukabumi seperti biasa?" Ucap Malik sambil mengajukan sebuah pertanyaan kepada Riri
"Hah?? Kok tahu? ada apa??" ucap Riri kaget.
"Oo..kalau begitu nanti saya nyusul kesukabumi ya." Ucap Malik lagi
"Hah? untuk apa kak??" Tanya Riri masih dengan kekagetan dan ketidak tahuannya
"tolong salamin ke orang tuamu, sabtu nanti saya mau meminang kamu."

Cetaaarrrrrrrrrrrrr..serasa di sambar petir, Riri langsung lemas, lutut Riri seakan-akan tidak bertulang. Ia diam  isu tanpa kata. ia tidak menyangka akan mendapat kan berita yang tak terduga hari ini. sama sekali ia tak menyangka akan mendapatkan berita yang sedemikian mengagetkannya. Riri masih diam dalam kebisuannya. suasana hening sesaat tak ada yang bersuara.

"Ya Sudah kamu boleh keluar (dari Lab)..kamu pikir-pikir yah." ucap Malik mencairkan keadaan dan semua itu terucap dari malik dengan kepala tetap menunduk.

kejadian itu membuat Riri galau, dan kaget. Malik, pemuda yang begitu banyak di puj wanita..memilihnya wanita cupu, kikuk dan ga gaul.hampir tiap malam dia memikirkan. buat dia sabtu (3 hari lagi) itu serasa tiga abad, parahnya jum'at ada kuis mata kuliah.Aarrgghhhhh..Riri ingin berteriak, gemas, kaget sekaligus senang dan bahagia campur aduk jadi satu. Riri pun curhat sama sahabatnya tentang hal itu. sahabatnya bilang dia sudah tahu sebab tanpa sepengetahuan Riri, Malik sering tanya-tanya tentang Riri pada kepadanya.

Dan jum'at pun tiba ga ada satu ilmu pun yang nyantol di kepala Riri..kuisnya jeblok....!!!

Tiba deh hari sabtu, Riri menunggu di rumah dengan orangtuanya.Malik dengan sangat jantan datang meminang Riri SEORANG DIRI!!!! Bada isya Malik bertemu dengan orang tua Riri..sedangkan Riri nguping di balik lemari ruang tamu. jam 8....jam 9... jam10...main catur, ngobrol, nonton dunia dalam berita..dan lain-lain di lakoni ayah dan malik. Riri yang nguping di balik lemari jadi mikir. "ini orang jadi ga sih ngelamar..bisanya bikin perasaan orang dag dig dug ajah."

Tepat saat Riri sampai hampir ketiduran, jam setengah sebelas dengan jantan Malik meminta Riri dari orang tuanya. Sang ayah menjawab "TIDAK MENGIZINKAN!!!! Riri kaget bukan kepalang dengan keputusan sang ayah. dengan gagah Malik tahu yang di maksud sang ayah.

"Pak, Riri tidak saya nikahi sekarang, saya tahu saya akan menunggunya hingga ia lulus." Ucap malik

Maka malam itu jadilah Riri wanita yang sudah terpinang oleh Malik, Dalam islam laki-laki tidak boleh meminang wanita yang sudah di pinang orang lain.

Perjuangan Riri dan Malik pun di mulai. selains sahabat Riri tidak ada yang tahu bahwa Malik sudah meminang Riri.

Nah..begitulah, buat Malik semua aktivitas di kerjakan seperti biasanya. bekerja di Lab tanpa menegur Riri, kalaupun berpapasan hanya senyum saja.

Akhirnya kabar itu bocor bahwa Malik telah meminang seorang gadis. sampai pula kabar itu ke teman-teman Riri yang satu jurusan dengannya. saat Riri sedang makan siang, ada dua wanita sedang mengobrol di sampingnya

Wanita 1 : "eh katanya kak Malik sudah lamaran loh"

Wanita 2 : "apa??" siapa ceweknya? beruntung banget."

Wanita 1: "pasti gaul dan cantik"

Wanita 2 : " iya pasti cerdas, kak Malik gitu loh. idaman banyak perempuan, pasti ga sembarangan milih cewek."

Riri cuma menunduk mendengarkannya..hhiikkss..cewek yang di maksud kan aku.

pernah suatu hari ketika ada study tour, yang pacar-pacaran duduk sebangku, sedangkan Riri dan Malik jauh-jauhan meski satu bus. saat yang lain asyik bercanda ria di tempat tujuan study tour, malik hanya "menjaga" keselamatan Riri dari jauh.

Sebagai wanita biasa, Riri pun punya rasa rindu dan cinta yang semakin dalam tapi terpaksa harus terpendam. saat rindu itu membuncah, biasanya Riri jatuh sakit dan pulang ke sukabumi ke rumah orangtuanya. saat itulah Malik menyusul di sana seperti biasa Riri di balik lemari. alik dan ayahnya di ruang tamu. dengan mendengarkan tawa renyah sang kekasih saja merupakan obat buat Riri. dan saat Riri sembuh dia kembali kekampus lagi.

Begitu terus hubungan Malik dan Riri, begitu mulia, begitu suci, setiap Riri sakit tanda rindu, ia pulang malik pun menyusul. suatu ketika Riri sedang menyiapkan "Makhluk hidup" untuk penelitiannya. 3 bulan dia harus memberi makan dan membersihkan kandang. pada suatu ketika ia lupa menyetel suhu. Ceetttaaarrrr... makhluk-makhluknya mati semua. ia nangis karena harus mengulang lagi..tiga bulan terasa trbuang sia-sia.

karena satu Lab, Malik melihat Riri menangis. ia berjalan kearahnya (tanpa ada yang tahu) dan memberikan sapu tangannya dan langsung ngeloyor...takut fitnah.

Akhirnya saat itu tiba. Riri Lulus!!! dan wisuda :D

Seminggu setelah wisuda, Malik sekeluarga datang kerumah Riri menentukan tanggal pernikahan. satu tahun...pertunanagan mereka tidak ada yang tahu sampai saat undangan tersebar. saat undangan di sebar heboh lagi saat tahu ternyata sang wanita adalah Riri..si cupu dan berkerudung.teman-teman se-kost Riri juga heboh..."Wah Riri abis wisudaan langsung boyongan" . banyak nada sumbang tapi banyak juga yang mendukung

Tiba hari H pernikahan. Daaannnn..malam pertama..uhuk..uhuk..Pertama kali nya Malik dan Riri bisa mengobrol mesra

"Terimakasih sudah bersabar dan saling menjaga kehormatan kita, kehormatanmu sayang. aku tahu sifat dasar wanita itu manja, maka dulu aku pernah berazam dalam hati jika sekali saja kamu menggodaku, demi Allah aku akan menjauhimu." Ucap Malik

Riri pun berkata dengan lembut "Masya Allah kita sama. demi Allah aku juga pernah berazzam sekali saja kamu merayuku aku tidak mau kau lanjutkan pinanganmu. ternyaya Allah menjaga kita.. Malam itu pertama kalinya Malik memegang tangan Riri, dan Riri serasa melayang dan saat Malik mengusap ubun-ubun Riri dan mengecupnya Riri serasa naik ke jet coaster meluncur ke awan putih . Surga!!!

Hmmm..segitu baru pegang tangan dan kecup kening lho..selanjutnya..Riri merasa menjadi bidadari di jannah-Nya Allah. kini mereka menjadi orang tua yang hebat dengan anak-anak yang juga luar biasa hebat, semua lima besar di sekolah. semua tepat waktu solat shubuh. alasan Malik jatuh cinta pada Riri karena wanita dulu wanita berhijab itu juuuaaaarrrraaannnngggggggggg banget karena hambatannya besar. malik tahu dari wanita seperti inilah pejuang-pejuang Allah dengan sempurna tercetak. dia mencintai Riri bukan karena alasan nafsu dan pribadi. dia mencintai Riri karena mencintai agamanya dan Rabb-Nya.

Menarik kan ceritanya. sudah terbesit di hati MasBro/MbaSis untuk mencontoh mereka. Tidakkah terbesit di antum dan antunna termasuk ana sendiri untuk seperti mereka. memelihara cinta hingga waktunya tiba, menutup aurat untuk menjaga kehormatan diri. melawan nafsu untuk kesucian diri. Yuuk perbaiki diri untuk mendapatkan cinta yang sejati dan suci. Insya Allah cinta akan mendekati diri ketika kita bisa memperbaiki diri.

Barakalluhufikuma..semoga bermanfaat