Senin, 07 Mei 2012

Cinta untuk Kekasih Halalku

Malam sudah begitu larut. Derap langkah kaki anak manusia sudak tak lagi terdengar. Hanya embusan angin malam seakan-akan bersaut-sautan dengan bunyi binatang malam. Malam kian merambat sinar bulan purnama yang begitu indah menambah pesona malam. Desiran angin malam yang membawa udara dingin masuk kedalam kamarku melalui jendela yang sengaja akau biarkan terbuka membuat aku sedikit kedinginan.emang demikian udara di musim kemarau kalau siang udara begitu panas namun ketika malam tiba udara seakan berubah 180 derajat.

Jam disbelah kamarku menunjukan pukul 11.45 sudah begitu larut pikirku namun sekejap pun aku belum memejamkan mata dan anehnya tanda-tanda mengantuk sama sekali. Kepenatan yang aku rasakan karena aktifitas kesehariaanku tidak mempengaruhinya. Pikiran dan otakku belum bisa di ajak untuk beristirahat. Pikiran ini masih terus melayang dan memikirkan peristiwa yang telah aku alami baru-baru ini.

Tepatnya siang tadi, aku mengalami peristiwa penting dalam hidupku, aku telah bertunangan dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya. Dia lah yang bakal menjadi calon pendamping hidupku.

Namanya Hamdan seorang dokter anak. Dia adalah anak dari teman oom dan tante ku. Pertunangan ini terjadi karena hasil perjodohan. Ya, aku di jodohkan oleh oom dan tanteku. Emang sekerang merekalah wali-ku sekaligus pengganti orang tuaku. Semenjak ayah-ibu ku meninggal karena kecelakaan 15 tahun yang lalu aku diurus dan di rawat oleh oom ku karena beliaulah satu-satunya adik kandung dari ayahku. Sebelum oom aku menikah dengan perempuan yg kini menjadi istrinya. Aku sungguh beruntung memiliki oom dan tante yg begitu amat sayang padaku.kasih sayangnya padaku seperti kasih sayang seorang ibu kandung.

Sebuah peristiwa yang tidak aku duga sebelumnya aku bakal jodohkan dengan sosok lelaki yang tidak aku cintai dan tidak aku kenal. Meskipun hubungan oom dan tanteku dengan orang tua hamdan begitu dekat. Sebelumnya mereka tidak pernah membicarakan hal ini padaku hingga di suatu sore satu minggu yang lalu selepas aku melaksanakan sholat Maghrib mereka memanggilku

"Nisa, sekarang kamu sudah besar dan sudah saatnya kamu menikah, om dan tante ingin melihat Nisa bersanding di pelaminan yang merupakan keinginan dan cita-cita oom dan tante.". Ucap Oom Rasyid mengawali pembicaraan

"Namun Nisa belum ada calon Oom dan Nisa masih ingin mangamalkan ilmu Nisa dengan mengabdi di Madrasah Tsanawiyyah. Nisa masih ingin bekerja Oom."

"Oom tahu itu, menikah bukan berarti Nisa tak bisa bekerja, Nisa masih bisa bekerja setelah menikah. Dan Oom minta maaf sebelumnya. Sebetulnya kami telah memilihkan calon pendamping hidup untuk Nisa dan kami yakin dia adalah lelaki yang cocok untuk Nisa, dia pasti bisa memimpin Nisa karena selain dia dokter dia adalah alumnus pondok pesantren yang kami yakin dia seorang yang baik akhlak dan budi pekertinya."

Saat itu ingin rasanya aku memprotes dan menolak perjodohan itu namun aku tak sanggup menyakit hati dan perasaan mereka aku tak akan sanggup jika melihat mereka kecewa dan aku tidak punya alasan sama sekali untuk menolaknya apalagi dari karakter yang disebutkan Oom dan tanteku merupakan karakter yang aku terapkan dalam mencari pendamping hidup.Namun bagaimana dengan Hafidz sosok yang aku cintai yang kini bersemayam di dalam hatiku? Meskipun aku sadar dia bukan siapa-siapaku namun aku tak yakin kalau aku bisa menggantikan namanya dengan nama lelaki selainnya.

Tiga bulan lagi menurut kesepakatan yang telah di sepekati oleh kedua belah pihak aku akan menikah dengannya. Pergulatan bathin inilah yang membuatku begitu sulit untuk memejamkan mataku. Hatiku begitu menolak akan kehadirannya yang begitu cepat. Aku tidak yakin apakah aku bisa bahagia dengannya atau bisakah aku membahagiakannya sedangkan benih-benih cinta untuknya tidak ada sama sekali.

Tak kuasa menahan jeritan hati aku pun menangis sejadi-jadinya. Angin malam bulan dan bintang menjadi saksi kegalauan hatiku. Air mata ini mengalir begitu desar dan tak mampu ku tahan lagi. Dengan linangan airmata aku mencoba untuk menata kesadaranku kembali. Aku mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Mungkin inilah yang telah Allah tuliskan untukku. Mungkin dialah jodoh yang telah Allah tetapkan untukku. ke-tidak keikhlasanku malah akan membuatku menderita.

Setelah sedikit tenang ku jamah buku diaryku kecoret nama Hafidz dari diary aku..sebuah nama yang melekat begitu erat di dalam hatiku dan menjadi penghias buku diaryku..dengan harapkan degan tercoretnya namanya di buku diaryku tercoret juga namanya di dalam hatiku.meskipun tak semudah itu. Kini aku harus terima kenyataan yang ada karena yang terbaik menurutku belum tentu terbaik menurut Allah.

Tanganku begitu lincah menari, menggoreskan tinta hati ke selembar kertas berharap setelah itu tak ada lagi kegaulaan dan kegundahan, berharap ketidak ikhlasan ini berubah menjadi keridhoan.

Diary...
Saat ini hanya keikhlasan yang hanya mampu membuatku lepas dari kegundahan hati
Mungkin saat ini aku tak mencintainya
Karena di hatiku bukan namanya yang bertahta
Namun nama seseorang yang aku cinta meskipun aku tau dia bukan siapa-siapa

Diary..
Selama ini diri ini selalu bermimpi kalau dia kelak yang akan datang meminangku
Namun..kenyataan berkata lain.
Justru seorang lelaki yg belum kenal yang datang meminangku..
Ingin hati menjerit
Ingin diri berontak
Namun untuk apa??
Apa hanya untuk mengikuti egoku yang besar

Diary..
Tidak ada alasan untuk aku menolak perjodohan ini
Dia laki-laki yang baik yang masuk dalam kriteriaku
Mungkin dia-lah yang telah Allah pilihkan untukku
Yang akan menjadi kekasih halalku.

Diary..
Akan ku hapus namanya dari dalam hatiku
Akan aku isi hatiku dengan namanya
Meskipun saat ini hati ku masih menolak
Namun seiring berjalannya waktu hati ini akan menerima kehadiranyya

Diary..
Kini keputusan telah ku ambil
Dan pilihan telah ku tentukan
Aku akan selalu berusaha untuk berdamai dengan keadaan
Karena pilihan yang telah Allah tentukan tidak akan pernah mengecewakan..

****_______******

 "Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS al-Baqaroh : 216)

______________________________


Mentari duha bersinar begitu indah, kehangatannya mampu mengusir rasa kantuk yang tersisa, embun-embun di dedaunan nampak indah bak mutiara yang bersinar. Seminggu sudah berlewatkan dari peristiwa itu , hati ini sudah sedikit ikhlas menerima kenyataan yang ada. Dalam waktu satu minggu ini aku merenung memikirkan setiap kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupku. Tak ada hal kebetulan semua pasti sudah ada yang mengatur. Dan tidak akan ada yang sia-sia dalam pengaturannya.

Liburan panjang sekolah telah pun usia. Hari ini adalah hari pertama aku mulai mengajar kembali.
Berbagi ilmu untuk anak bangsa dengan harapan suatu saat anak-anak bangsa lahir menjadi anak-anak yang cerdas bukan hanya cerdas dalam urusan dunianya namun juga urusan akhiratnya.

Jarak antara rumah dan tempat aku mengajar tidak begitu jauh, sehingga aku lebih memilih berjalan kaki, di samping bisa menyehatkan badan aku juga bisa menghirup udara pagi yang segar lebih lama. Dan setiap langkah kaki yang terayun aku gunakan untuk berdzikir kepada-Nya dengan harapan setiap langkah yang aku ayunkan menjadi pahala.

***

"Assalamu'alaikum Ibu Nisa,". Terdengar suara orang menyapaku, suara yang tak asing di telingaku..suara itu..ya aku kenal suara itu. Bisikku lirih.Suara seseorang yang selama ini aku rindu, aku pasti tidak salah dengar itu emang suara Hafiz tapi mana mungkin dia ada disini bukankah dia masih di Malaysia menyelesaikan S2 nya.


Ku palingkan wajahku kebelakang untuk memastikan siapa gerangan yang berucap salam padaku belum sempat aku membalas salamnya, aku melihat senyumnya. Sebuah senyuman yang mampu meluluhkan hatiku, yang membuat jantungku berdetak lebih kencang dan seakan-akan aliran darahku berhenti mengalir. Sebuah moment yang tidak pernah aku duga sebelumnya akan bertemu dengannya di sekolah ini. Emang tidak mustahil jika dia berada di tempat ini. Selain dia anak pak kepala sekolah, dulu dia termasuk salah satu pengajar di sekolah ini. Namun kehadirannya saat ini tidak aku duga sama sekali. Dan mengapa dia harus datang lagi, disaat aku mulai bisa melupakannya. Disaat aku mulai bisa mengikis namanya kini dia muncul lagi di hadapanku. Kedatangannya pasti akan membuatku bertambah sulit untuk melupakannya

"Nisa kenapa bengong gitu kayak lihat syetan aja, " tegurnya begitu melihat aku bengong tanpa ekpresi dan tanpa balasan salam.

Aku tersipu menahan malu, aku tak tahu mau berkata apa padanya. Aku bak patung yang bernyawa di hadapannya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku takut jika nanti aku salah berucap karena terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya bermain di otakku.Melihatku diam tanpa kata Hafiz pun mencoba mencairkan keadaan.

"Nis, selamat yah. Aku dengar dari ayah, Nisa sudah tunangan, ternyata aku datang terlambat, semoga Nisa kelak bisa bahagia dengan pendamping hidup Nisa. "

Setelah berucap demikan Hafiz meninggalkanku sendirian di dalam kebisu-an ku, lagi-lagi aku seperti patung tak bernyawa. Tak terasa butiran-butiran permata mengalir dari kedua bola mataku, aku tak tahu mengapa aku menangis, aku tak tahu untuk apa tangisan ini yang pasti aku sedih mendengar pernyataannya. Mengapa harus sekarang dia datang padaku, setelah ada orang lain yang meminangku kenapa tidak dari dulu. Ternyata selama ini cintaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun semua sudah terlambat, aku sudah bertunangan dan dalam hitungan bulan aku akan melaksanakan resepsi pernikahan.

Hafiz adalah senior aku saat aku duduk di bangku kuliah, aku mengenalnya saat aku ikut kegiatan Rohis di kampus, dia-lah yang menjadi ketua Rohis. saat itu aku ada tugas dari dosen ku untuk membuat makalah tentang kegiatan-kegiatan anak Rohis. Dari situlah aku mengenalnya, pembawaannya yg supel, ramah dan tingkahlakunya yang sopan membuat aku menaruh hati padanya secara diam-diam. Dan belakangan baru aku tahu kalau rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalku dan ayahnya adalah guru ngajiku

Setelah aku menyelesaikan perkuliahanku, aku di minta oleh ayahnya untuk mengabdi dimadrasan yang beliau pimpin. Aku pun langsung menerimanya karena cita-citaku dari dulu adalah ingin menjadi seorang guru, ternyata Hafiz juga mengajar dimadrasah itu. Benih-benih cinta ini semakin tumbuh subur apalagi setiap hari aku selalu bertemu dengannya. Namun setahun yang lalu dia pergi ke negeri jiran untuk melanjutkan S2, kepergiannya membuat aku merasa kehilangan. Dia pergi tanpa pesan dari saat itulah aku merasa kalau cintaku tidak akan pernah menjadi realita

***

Suasana kelas yang sepi seakan menjadi saksi bisu, hanya bangku dan kursi yang berderet rapi yang menjadi teman diri. Semua anak didik sudah tiada lagi, semua guru pun sudah pulang kerumah masing-masing untuk berkumpul dengan anak dan istri. Tinggal aku sendirian di dalam ruangan itu. aku merasa amat enggan untuk pulang ke rumah. Kaki ini rasanya tak kuasa untuk berdiri, jiwa ini rasanya tidak bersemangat untuk meniti hari.

Suara Adzan berkumandang begitu indah dari surau samping madrasah. Aku tersadar dari lamunanku, tak terasa sudah hampir satu jam aku duduk sendirian . Aku pun beranjak pergi meninggalkan ruangan dan bergegas ke surau guna melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu mengerjakan sholat fardhu. Surau nampak sepi tak ada jama'ah perempuan selain aku. Aku masih sempat berjama'ah meskipun hanya sebagai jama'ah masbuk.

Seusai sholat hati ini seakan-akan damai, gundah di hati mulai menghilang, perasaan yang berkecamuk di dalam hati mulai sirna.ingin rasanya aku duduk berlama-lama berdua- duaan dengan Rabbku, ingin ku adukan segala resah dan gundahku pada-Nya, meskipun tanpa aku kasih tahu pun Allah sudah tahu semuanya.hanya kepada Allah-lah tempat aku mengadu, tempat aku merintih,hanya DIA-lah tempat curhat yang terbaik. Ku angkat tanganku dan ku tengadahkan wajahku di hadapan-Nya. Dari mulutku keluar bait-baik doa yang indah.

Ya Rabb..
Kini hamba bersimpuh di hadapan-Mu
Di dalam rumah-Mu yang indah dan damai
Hamba yang penuh dosa
Hamba yang bergelimang maksiat
Hamba yang terlalu sering mendurhakai-Mu
Hamba yang jarang mengingat-Mu
Ampuni segala dosa-dosa hamba


Ya Allah..
Engkau tahu kalau hati hamba sedang gelisah
Karena kegelisahan ini Engkau juga yang menciptakan
Sangat mudah bagi-Mu membolak-balikkan hati hamba
Berikanlah ketenangan dan ketentraman di hati hamba
Jangan biarkan setan-setan tertawa di atas kegelisahan hatiku
Tentramkan hatiku
Berilah setitik kesejukan dalam jiwaku agar aku bisa berpikir secara jernih, dan tidak berlarut-larut dalam mengikuti perasaanku

Ya Rabbul Izati
Ajari aku menjadi dewasa, bukan hanya dewasa dalam berpikir. Juga dewasa dalam bertindak dan bertutur kata.
Dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang ada
Dan Dewasa dalam meniti kehidupan

Ya Illahi..
Engkau tahu kalau di hatiku masih tersimpan namanya
Hapuskan namanya dari dalam hatiku
Jangan biarkan nama dia yang bertahta di hatiku
Aku tidak mau terus-menerus menzinai hatiku ini
dengan memikirkan seseorang yang bukan siapa-siapa untukku.

Ya Allah..
Kini semuanya aku pasrahkan kepada-Mu
Karena di tangani-Mu lah semua menjadi indah
Hidup dan matiku aku serahkan hanya pada-Mu


*****______******

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS ar-Ra'd : 28)

****

Janur kuning yang terpancang di depan rumahku melambai-lambai tertiup angin, kursi dan meja yang di desain sedemikian cantiknya berderet rapi, tak ketinggalan dengan kursi pelaminan yang di rancang bak singgasana ratu dan raja. Sedemikian mewahnya acara pernikahanku. Sungguh sangat bertolak belakang dengan keinginanku. Bukan seperti ini pernikahan yang aku harapkan. Untuk apa menghabiskan banyak uang hanya untuk membuat resepsi pernikahan. Terlalu mubadzir menurutku. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa semua sudah di rancang oleh orangtua calon suamiku meskipun sebelumnya oom dan tanteku pernah mengutarakan keberataannya akan hal itu.

Waktu merambat begitu cepat, tiga bulan aku lewati tanpa terasa. Hari ini adalah moment yang bersejarah untukku. Hari di mana hijab Qabul di ikrarkan, aku akan terikat oleh perjanjian besar yang karena perjanjian itu Arasy Allah ikut bergetar. Sebentar lagi awal kehidupan baru akan di mulai, yaitu kehidupan dua insan manusia yang berbeda karakter dan pandangan di satukan dalam biduk rumah tangga.

Dua minggu yang lalu keluarga dari Hamdan berkunjung kerumah ku. ini yang kedua kali aku melihat sosok yang bernama Hamdan. Semenjak acara pertunangan itu aku tidak pernah bertemu denganya. Kami hanya berkomunikasi lewat HP itu pun kalau ada hal-hal yang penting untuk di bicarakan.

Hamdan adalah anak pertama dari keluarga pengusaha yang kaya raya, sebagai anak pertama apalagi anak lelaki satu-satunya menjadikan dia amat di sayang oleh orangtuanya apalagi ibunya. dia mempunyai adik perempuan yang se-umuran dengan ku namanya mawar, gadis yang sangat cantik menurutku. Suatu hari ketika aku sedang membantu tante beres-beres di dapur dia mengampiriku. Dia berbicara banyak tentang kehidupan abangnya. Menurutnya meskipun abangnya sangat di sayang sama ibunya tidak menjadikanya tumbuh menjadi lelaki yang manja. Dia amat mandiri dan penurut apapun yang dikatakan orangtuanya selalu di "iya" kannya selama itu baik untuk dirinya dan orang tuanya. Kekayaan yang dia miliki dan title yang berderet di belakang namanya juga tidak lantas membuatnya sombong. Rasa tenggang rasa dan tanggung jawabnya begitu besar. Dan semua itu di buktikannya dengan mendirikan sebuah panti asuhan untuk anak-anak jalanan.

***

Iring-iringan pengantin sudah tiba, pak penghulu sudah lama menunggu. Dan para tetamu sudah mulai berdatangan,Aku pun sudah siap dengan gaun pengantin yang aku kenakan, sesaat ku pandangi wajahku di depan cermin. Ada airmata yang keluar dari bolamataku, aku tak tau kenapa hati ini seakan-akan belum ikhlas, rasa ragu masih menancap di relung hatiku, aku tidak yakin bisa bahagia dan aku juga tidak yakin bisa membahagiakan suamiku, apalagi benih-benih cinta untuknya belum tumbuh di hatiku.

"Aku terima nikah dan kawinnya Nisa syifa' juwairiyah binti Muhammad Ilyas dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai.

Ijab-Qabul telah di ucapkan, perjanjian telah di ikrarkan. Dua insan manusia telah disatukan. ucapaan do'a dan selamat aku dapatkan dari para tamu. Dari wajahku tak nampak keceriaan dan kebahagiaan. Hamdan yang saat ini duduk persis di sebelah ku lebih banyak diam dan hanya sekali-kali memandangku. Aku dengannya bagai orang asing yang baru kenal, tidak ada kata terucap, hanya senyuman yang bisa kami lakukan untuk para tamu sebagai tanda terimakasih dan rasa hormat kami kepada mereka. Banyak dari mereka yang mengatakan kalau kami adalah pasangan yang serasi, mereka tidak tahu isi hati kami saat ini.


***

Kamar tidur yang begitu luas dengan ranjang sangat besar berhiaskan beraneka macam bunga di atasnya, disamping kanan kirinya terdapat meja kecil dengan ukiran yang sangat indah, di pojok kamar itu ada sebuah kamar mandi yang sangat mewah, "bak sebuah kamar ratu inggris" gerutuku dalam hati, aroma semerbak wangi dari bermacam-macam bunga itu membuat aku sedikit pusing, dari dulu aku emang paling tidak suka dengan bau-bauan yang tajam, sedang asyik mengamati kamar baruku terdengar bunyi pintu di buka.

"Assalamu'alaikum Dek Nisa, maaf saya masuk tanpa mengetuk pintu, Dek Nisa Abang minta maaf jika pernikahan ini kesannya di paksakan, abang juga minta maaf bukan maksud abang menghancurkan masa depan Nisa, abang tau kalau Nisa tidak suka dengan pernikahan ini. Sebelumnya abang juga ragu dengan pernikahan ini, abang sudah terlanjur menyetujuinya dan abang tidak mau melihat orangtua abang kecewa dengan sikap abang. " Ucapnya sambil ia berdiri tepat di belakangku, aku sendiri tidak berani memalingkan wajahku kebelakang, aku belum berani menatap wajahnya. Meskipun dia sekarang adalah seseorang yang halal untukku namun aku merasa asing dengannya.

"Nisa, abang tak kan pernah memaksa untuk nisa mencintai abang, dan abang juga jika tidak akan memaksa Nisa untuk melakukan hubungan badan dengan abang. Abang tidak mau memperkosa istri abang sendiri. Untuk saat ini biarlah abang tidur di kamar sebelah. Jadi Nisa tak perlu cemas dan takut karena abang tidak akan pernah memaksa nisa, Untuk sekian kalinya abang minta maaf untuk semua ini." Lanjutnya.

Lagi-lagi aku masih belum berani memalingkan wajahku, aku masih dalam posisiku yang semula, sampai terdengar pintu kamar tertutup yang bertanda hamdan sudah meninggalkan kamar. Aku rasa begitu egoisnya diriku betapa angkuhnya diriku, tidak sopannya diriku padanya, padahal sekarang ini aku adalah istrinya yang mempunyai kewajiban untuk melayaninya, menghormatinya dan membahagiakannya, namun apa yang aku berbuat padanya sungguh bukan yang agama aku ajarkan. Namun mengapa saat ini egoku lebih tinggi. Aku lebih suka mendengarkan kata hawa nafsuku dari pada kata hatiku.

***___***


Tanpa di sadari kini sudah setengah tahun aku bergelar sebagai istri namun sampai saat ini aku belum benar-benar menjadi seorang istri, aku belum bisa menjalankan peranku dengan baik. Tidak ku pungkiri Hamdan begitu baik, perhatian, dan dia tak pernah menuntut apapun dariku, dia selalu memenuhi kebutuhanku. Nafkah darinya selalu ku dapat.sampai suatu hari hanya karena aku demam dia rela untuk tidak masuk kerja, dia lebih rela menjagaku, ia amat sabar dengan ulahku yang manja dan kekanak-kekanakan. Namun entah kenapa sikap ku kepadanya masih saja dingin,aku masih belum bisa mencintainya, egoisku masih begitu besar. Aku masih tidak mau mengakui kalau aku mulai mengaguminya. Aku tidak mau mengakui kalau benih-benih cinta untuknya mulai tumbuh di hatiku. Selama enam bulan pernikahanku, aku belum pernah di sentuh oleh suamiku.meskipun kami tinggal serumah kami jarang berkomunikasi, kami lebih sibuk dengan aktifitas masing-masing. Hamdan lebih suka menghabiskan waktunya di kamarnya begitu juga dengan diriku, meskipun sekali-kali kita sarapan dan juga makan malam bersama.

Malam ini tidak seperti malam biasanya Hamdan sampai larut malam belum juga sampai kerumah, aku di buat cemas olehnya, berulang kali aku telphone ke hp nya namun tidak juga aktif.aku telpon ke tempat kerjanya tak ada jawaban. Aku tak tau mengapa aku begitu khawatir padanya, aku takut terjadi apa-apa apadanya, sampai apapun yang aku lakukan selalu serba salah, aku sendiri dalam Kegelisahan.yang ada dalam pikiranku hanya dia..iya hanya dia suamiku. Entah mengapa malam ini rasa kantuk itu hilang begitu saja, keletihan seakan-akan sirna yang ada saat ini adalah keinginan untuk melihatnya, melihat wajahnya, melihat senyumnya, dan mendengar suaranya, saat itu juga aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya, begitu dia pulang nanti aku akan bilang kepadanya kalau aku mencintainya. Aku ingin menjadi ibu dari anak-anaknya.

Entah apa yang membuatku ingin masuk kekamarnya. Semenjak aku hidup bersama dengannya aku belum pernah masuk kekamarnya. Rasa rindu kepada-nyalah yg mangantarkan aku memasukinya, aku mengamati kamar nya dari sudut ke sudut, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah buku berwarna hitam yang bergeletak di atas meja kerjanya. Ku ambil buku itu ku pandangi sekilas karena semakin penasaran dengan isinya aku pun memberanikan diri untuk membukanya. Aku baca lembar demi lembar. Tak terasa airmataku mengalir saat ku baca tulisan itu. Aku tersadar akan sifat ku selama ini. Ternyata selama ini suamiku begitu tersiksa karena ulahku

"...Allah telah menganugerahkan padaku istri yang begitu sempurna, dia cantik, dan pintar, laki-laki mana yang tidak bahagia mendapatkannya, saat pertama kali melihatnya aku sudah menyukainya, meskipun saat ini aku belum bisa mendapatkan cintanya.. Namun aku yakin suatu saat dengan berjalannya waktu dia akan mencintaiku, Begitu rindunya diri ini menyentuhnya, membelai rambut indahnya. Entah kapan itu terjadi tapi yang pasti suatu saat nanti cintanya akan aku dapatkan. Sehingga kami akan saling mencintai hingga anak cucu kami..".


Sekitar pukul 01.00 terdengar pintu depan terbuka, aku yang saat itu masih duduk di sofa ruang depan segera berlari kearahnya dan langsung memeluknya. hamdan begitu terkejut dengan reaksiku, dia masih berdiri di depan pintu diam tanpa kata. air mataku menetes, aku menangis dalam pelukannya. Kini tangan hamdan membelai kepalaku dengan lembut sangat lembut. Seakan-akan dia takut kalau aku menolaknya.

"Nisa, apakah arti pelukan ini?" Tanyanya dengan suara lirih

Aku tidak menjawab pertanyaanya, yang ada aku malah mempererat pelukanku dan airmataku semakin deras mengalir sehingga membasahi dadanya. Tak ada kata yang teucap, kami bak dua insan manusia yang saling mencintai yang sudah lama tidak bertemu, hati kami saling berbicara, menyalurkan kerinduan yang ada. Aku merasa damai dalam pelukannya,

"Bang, Nisa minta maaf karena selama ini Nisa belum bisa menjadi istri yang baik untuk abang, Nisa tidak menjalankan tanggung jawab Nisa sebagai istri abang, Nisa tidak melayani abang dengan baik, maafkan Nisa Bang, betapa nisa selama ini mendurhakai suami Nisa sendiri. Suami yang harusnya di hormati dan di taati. Nisa begitu berdosa kepada abang dan juga kepada Allah, Nisa hampir mengesampingkan aturan Allah. Abang, nisa mohon maafkan Nisa. Nisa mau melakukan apa saja asal abang memaafkan Nisa. Dan nisa pun sudi kalau nisa suruh cium kaki abang asal abang Ridho dan mau memaafkan kesalahan-kesalahan Nisa. Ucap Nisa masih dalam tangisnya."

Tak ada jawaban dari mulut Hamdan, hanya detak jantungnya yang tidak beraturan terdengar keras di telingaku.

"Nisa coba tatap mata abang, " Nisa pun melepaskan pelukannya dan memberanikan diri menatap mata hamdan ini kali pertamanya Nisa melakukan itu, dalam hatinya ia tidak memungkiri betapa indah mata suaminya.

"Apakah Nisa lihat ada sorot mata kebencian dari mata abang? Apakah Nisa lihat di mata abang cinta yang besar untuk Nisa, perlu Nisa tau Abang begitu mencintai Nisa begitu cintanya abang ke nisa abang tidak mau kalau hati Nisa tersakiti. Telah kupendam rasa rindu ini untuk Nisa. Berharap suatu saat Nisa akan menerima abang sebagai suami Nisa tanpa ada paksaan. Setiap bait-bait doa yang abang panjatkan kepada Allah salah satunya adalah agar nisa mau membuka hati untuk Abang. Dan abang yakin suatu saat Allah akan mengabulkan doa abang."

Mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya airmataku semakin deras mengalir diri ini semakin merasa bersalah. Betapa ruginya diri ku telah menyia-nyiakan seorang suami yang begitu baik, yang tak ada celah kekurangan sedikitpun."

"Nisa kini abang minta ucapkan kata itu untuk abang, ucapkan kalau Nisa mencintai abang, ucapkan kalau Nisa mau menjadi ibu untuk anak abang." Pinta Hamdan

"Iya Bang Nisa mencintai abang, Nisa ingin hidup selamanya bersama abang dalam suka dan duka dan Nisa siap menjadi Ibu dari anak-anak abang."

Udara yang dingin, bulan dan bintang yang bersinar terang kini menjadi saksi akan cinta kami, mereka seakan-akan iri akan kebahagiaan kami. Kini cinta itu telah berirama indah. Dengan irama tasbih yang bermuara kepada cinta-Nya.

**********______________**********

"Laki-laki  (suami ) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. maka perempuan-perempuan yang sholeh adalah mereka yang taat  (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka..."(QS an -Nisa :34)

Jumat, 17 Februari 2012

Tamani aku hingga ke syurga



Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki pergiliran pagi, siang, petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Harus. Kita tak mungkin selamat mengharungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Kerana, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya.
“Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (Qs. An Nisa:28)
Saudaraku,
Kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah lah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT memberitakan bahwa hanya pertemanan atas dasar iman dan takwalah yang abadi.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67).
Ibnu Katsir mengatakan, “Seluruh pertemanan dan persahabatan yang tidak kerana Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya, yang menyebutkan bahwa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang kita cintai.
Saudaraku,
Merenunglah. Siapa orang-orang yang kita cintai? Siapa orang-orang yang paling dekat dalam hidup dan hati kita? Siapa orang yang menghiasi ingatan kita? Siapa orang yang menemani langkah-langkah hidup kita? Orang solehkah dia? Mengajak pada kebaikan dan keridhaan Allah kah dia? Bayangkanlah persahabatan orang beriman di akhirat sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. “Ada dua orang mukmin yang bersahabat dan berteman akrab. Salah seorang di antara keduanya meninggal lebih dahulu dan ia mendapat berita gembira dengan syurga. Ketika itu ia mengingat teman akrabnya di kala di dunia lalu in berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya fulan adalah teman akrabku, dia yang menganjurkanku berlaku taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Dia yang mengajakku melakukan kebaikan dan mencegahku melakukan kemungkaran. Dia juga yang menyadarkanku akan pertemuan dengan-Mu. Ya Allah jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku sampai Engkau memperlihatkan kepada-nya kenikmatan yang Engkau berikan padaku dan sampai Engkau meridhainya sebagaimana Engkau ridha kepadaku,” Maka Allah berkata kepadanya, “Pergilah, seandainya engkau tahu yang Aku berikan kepadanya pasti engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis. “
Kemudian teman akrabnya itu meninggal dan ruh mereka bertemu. Dikatakan pada mereka, “Saling memujilah kalian kepada sahabat kalian.” Maka masing-masing mereka mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik saudara, sebaik-baik sahabat….”
Duhai indahnya. Pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan.
Saudaraku,
Banyak kisah-kisah yang ditinggalkan para salafusoleh tentang keadaan mereka setelah meninggal dunia. Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats Tsauri beberapa hari setelah ia meninggal dunia. Aku bertanya padanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu sekarang?” Ia menjawab, “Aku bertemu Muhammad (SAW) dan pasukannya..”
Dalam kisah lain, Ibnu Abid Duniya menyebutkan sebuah riwayat dari Yaqzhah binti Rasyid yang bercerita, “Marwan Al Mahlamy adalah tetanggaku. Dulu dia seorang hakim dan bersungguh-sungguh dalam ibadah ketika meninggal dunia aku menangkap kegembiraan yang terpancar dari mukanya. Tak berapa lama setelah itu aku mimpi bertemu dengannya, seperti layaknya mimpi yang terjadi dalam tidur. Aku bertanya, “Wahai Abu Abdullah apa yang Allah lakukan terhadap dirimu.“ Ia menjawab, “Allah memasukkan aku ke dalam syurga,” jawab-nya. “Kemudian apalagi?” “Aku dipertemukan dengan golongan kanan,” jawabnya. Kemudian apa lagi?” “Aku dipertemukan dengan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.” Aku bertanya, “Siapa orang yang engkau lihat di sana?” tanyaku. “Aku melihat Al Hasan bin Sirrin dan Maimun bin Sayyah,” jawabnya.
Seperti itulah keadaan mereka setelah meninggalkan dunia. Bertemu dengan orang-orang yang dahulunya menjadi teman dan penghias hari-hari mereka. Orang-orang soleh yang menjadi ingatan mereka dalam hidup. Mereka itulah yang akan menemaninya di alam akhirat.
Saudaraku,
Hati-hatilah menyusuri jalan kebersamaan dengan orang-orang soleh. Waspadalah untuk tidak melakukan penyimpangan, yang membuat kesenjangan diri kita dengan mereka. Salim bin Abi Ja’ad mengatakan bahwa Abu Darda pernah berkata, “Hendaklah seseorang berhati-hati bila ia dibenci oleh hati orang-orang beriman dari arah yang tidak ia sadari.” Kemudian sahabat Abu Darda bertanya, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan kata-kata itu?” Salim mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Abu Darda menjelaskan, “Yaitu seorang hamba bermaksiat kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu Allah menghunjamkan kemarahan-Nya dalam hati orang-orang beriman tanpa ia sadari.” (Al-Hilya: 1/215)
Kemarahan hati orang beriman, adalah kesengsaraan. Kebencian orang-orang yang beriman adalah pangkal kesempitan dan penderitaan. Kerana merekalah sebenarnya yang dapat mengubah dunia dengan segala permasalahannya menjadi indah. Mulut-mulut merekalah yang menuangkan nasihat dan membicarakan kalimat demi kalimat yang dapat menentramkan hati. Lidah-lidah merekalah yang menyiram hati kita untuk senantiasa berada dalam keridhaan dan tidak terlalu jauh menyimpang dari ridha Allah SWT. Tangan-tangan merekalah yang menuntun kita. Telapak tangan merekalah yang tertengadah di malam sunyi dan gelap malam hingga memberi kekuatan iman dalam diri kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW tentang do’a seorang mukmin di tengah malam yang dijamin diterima Allah SWT.
Saudaraku,
Bersahabat dengan mereka, akan mendekatkan kita pada Allah. Dan ketaatan kita pada Allah, juga akan mendekatkan kita pada mereka. Ibnu Asakir meriwayatkan, Abu Darda‘ menulis surat pada Maslamah bin Makhlad. “Seorang hamba jika ia telah berbuat kebajikan untuk taat kepada Allah, maka Allah mencintainya. Bila Allah telah mencintainya, Allah akan menjadikan makhluk cinta padanya. Dan bila ia bermaksiat pada Allah, maka Allah akan memarahinya. Bila ia telah dimarahi olehNya, Maka Allah akan menjadikan seluruh makhluk benci padanya.” (Al Kanz, 8/255)
Semoga Allah menghimpun kita dalam golongan orang-orang yang mendapat ridha-Nya di akhirat.
Amin Allahuma amin..
P.S. Tuntuni aku hingga ke syurga.

Kamis, 16 Februari 2012

Cinta Pada pandangan Pertama

cinta pada pandangan pertama,di lihat dari judulnya mirip dengan judul lagu yah.tapi tenang aja artikel ini bukan untuk membahas judul lagu tersebut.kata sebagian orang cinta berawal dari mata lalu turun ke hati.Mungkin sebagian orang pernah merasakan cinta pada pandangan pertama,apakah benar cinta bisa langsung terdeteksi saat pertama kita melihatnya?


Tadi malam aku mendengarkan kajian Samara di salah satu stasiun Radio yang temanya menyangkut cinta pada pandangan pertama,menurut nara sumber acara tersebut,cinta pada pandangan pertama bisa saja terjadi, reaksi pertama yang akan muncul saat itu adalah bergetarnya hati,getaran yang mungkin di anggap tidak wajar karena getarannya mencapai 8,9 ritcher (hehe sedahsyat gempa dijepang.hehe narsis.com).namun sebagai orang islam yang faham dengan ajaran islam ia tidak akan meneruskan pandangan-pandangan yang selanjutnya.karena islam mengajarkan ummatnya untuk "Ghadhul bashar" atau menundukan pandangan.pandangan pertama diperbolehkan karena mungkin  faktor ketidak sengajaan,namun pandangan kedua dan seterusnya tidak di perbolehkan karena ia merupakan faktor kesengajaan.


Jika saat pertama memandangnya kita sudah merasakan reaksi cinta,solusi yang terbaik adalah mendatangi walinya dan meminangnya.namun, anak-anak muda zaman sekarang menerapkan persepsi yang salah yaitu berawal dari pandangan mata,kenalan,ketemuan dan di lanjutkan jalan bareng (pacaran) sungguh itu persepsi yang salah,papar beliau. Tak ada namanya jalan bareng sebelum pernikahan, tidak ada ajaran islam yang mengajarkan.jika ingin membina suatu rumah tangga yang islami maka jalan yang harus di tempuh untuk mendapatkan pasangan juga harus melalui cara-cara yang islami.


Pandangan mata ibarat sebuah arak yang bisa memabukkan jika kita tidak bisa mengimbangi dengan keimanan karena dari pandangan matalah mula-mula awal perzinahan


Cinta menurut Ibnu Qayyim adalah,"cinta laksana sebuah pohon yang tumbuh di dalam hati akar-akarnya adalah rasa rendah di hadapan Dzat yang dicintainya.batangnya adalah mengenal-Nya,rantingnya adalah rasa takut kepada-Nya,daun-daunnya adalah rasa malu kepada-Nya,buahnya adalah taat kepada-Nya.dan bahan yang di buat untuk menyiramnya adalah mengingat-Nya (dzikir) jika salah satu hal tersebut tidak ada dalam cinta maka cinta tersebut tidak sempurna."

Jika diantara kalian yang saat ini sedang merasakan jatuh cinta karena pandangan yang pertama maka bersegeralah ambil tindakan, jemput dia di rumah walinya sehingga pandangan-pandangan yang seterusnya akan menjadi halal bagimu..hee

Mengisi waktu luang dengan corat-coret di blog semoga bermanfaat

Salam santun selalu

Minggu, 20 November 2011

Patutkah manusia sombong?



 "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang ber akal, (yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) , "Ya Tuhan kami, Tidaklah Engkau menciptakan semuai ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."(QS.Ali-Imran 190-191)


Pernahkan kita merasa besar dan sombong?. Seringkah kita merasa lebih hebat dari pada yang lain. Padahal kita hanya setitik debu dibandingkan dengan dunia ini. Dunia ini pun setitik debu jika dibandingkan dengan tata surya.

1.Perbandingan Bumi dengan planet terdekat. Bumi (Earth), Venus, Mars dan Mercury 

Dalam skala ini, Planet Bumi(earth) terlihat lebih besar dari planet terdekat

2. Perbandingan seluruh planet dalam tata surya. Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Bumi (Earth), Venus, Mars, Mercury dan Pluto

 Dalam skala ini, Bumi terlihat planet terbesar kelima dari tata surya

3. Perbandingan planet-planet dengan Matahari (Sun).

Dalam skala ini, Planet bumi (Earth)  terlihat hanya seperti titik kecil dari Matahari (the sun)

4. Perbandingan Matahari dengan bintang-bintang yang lain. Matahari (Sun), Sirius, Pollux dan Arcturus.

 Dalam skala ini, Bumi sudah tak terlihat. Matahari (Sun), Sirius, Pollux dan Arcturus.

5. Perbandingan Bintang-bintang yang lebih besar. 


 Dalam skala ini Mataharipun sudah hampir tak terlihat. Matahari (Sun), Sirius, Pollux, Arcturus, Rigel, Aldebaran, Betelgeuse dan Antares.



Bila kita perhatikan jagad raya ini:

Bila matahari di bandingkan dengan antares matahari hanya sebesar debu didekat bola basket besar

Pantaskah pengatur alam raya adalah matahari atau salah satu seorang di antara kita?

Bila matahari sebesar sartu pixel di samping bola basket besar, bagaimana bumi dan bagaimana penghuninya?

Pantaskah Pencipta dan pengatur alam raya ini salah satu penghuni bumi yang bumi hanyalah planet kecil di antara planet-planet lain yang amat besar??

Ciptaan-Nya sangat besar, Maka bagaimana dengan Pencipta-Nya


            ALLAHU AKBAR....!!!!!


"Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah bersujud kepada matahari jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."(QS Fussilat : 37)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Nantikan Aku di Istana Syurgamu

Oleh: Bila Hati Rindu Menikah




"Nantikan Aku Di Istana Surgamu"
(Abu Lathifa)

Larik-larik benang perak mulai teruntai dari langit. Seiring gemuruh langit yang memaksaku menghentikan laju sepeda motorku. Padahal belum lama aku meluncur dari perusahaan textile di kawasan industri Batujajar. Tepat di bawah jembatan tol Cilame, Padalarang aku berteduh. Hitung-hitung melepas lelah setelah seharian bekerja, pikirku. Tak hanya aku, belasan bahkan mungkin puluhan motor berteduh di bawah jembatan itu. Sebaian kecil memilih melanjutkan perjalanannya setelah mereka mengenakan jas hujannya. Sedangkan aku memilih untuk menunggu hingga reda.

Hampir satu jam hujan tak kunjung reda. Separuh dari mereka yang berteduh sudah meninggalkan tempatnya semula. Sementara aku masih menunggu. Hingga ponselku bernyanyi, “Assalaamu’alaikum… Ya akhii, Ya ukhtii…”, sebuah panggilan masuk dari Mamah.
“Assalaamu’alaikum, Mah…” sambutku.
“Wa’alaikumsalaam…kamu lagi di mana, Adnan? Kenapa belum pulang?” tanyanya resah.
“Iya Mah, masih di Cilame…hujannya belum reda.”
“Tuh kan…tadi pagi udah Mamah ingetin ‘bawa jas hujan’, bandel sih kamunya…”
“Iya Mamaaah, maafin Adnan…”
“Iya… Mamah cuma khawatir, takutnya ada apa-apa sama kamu…”
“InsyaAllah semua baik-baik aja, Mah…” jawabku menenangkan beliau.
“Ya sudah…pulangnya hati-hati ya…asalaamu’alaikum.”
“InsyaAllah…wa’alikumsalaam.” jawabku mentup percakapan.

Kekhawatiran seorang Ibu, yang terkadang membuatku merasa risih. Tapi kenapa harus risih? Memang begitulah naluri seorang Ibu. Apalagi karena besok adalah hari bersejarahku. Ya…besok adalah hari yang aku rindukan. Karena besok aku akan menggenapkan separuh agamaku. Maka wajar saja bila Mamah semakin khawatir.

Namun satu hal yang masih kusangsikan. Bahwa aku akan menikahi seorang perempuan yang tidak aku cintai. Kulitnya memang putih, tetapi wajahnya biasa saja (untuk tidak mengatakan jelek, maaf!), juga tidak begitu tinggi. Sejujurnya, tak ada sedikit pun rasa mahabbah di hati. Tak pernah ku lalui satu malam pun tanpa istikharah pada Allah. Bahkan hingga malam terakhir sebelum aku menikahinya, aku tetap istikharah. Tetapi semakin aku beristikharah dengan segenap kesungguhanku, kecenderungan itu semakin mantap kepadanya. Hingga kuyakinkan bahwa dirinya adalah pilihan Allah.

Namanya Nurul Azkiyya, gadis kelahiran Palembang yang besar di Bandung. Ia besar di tengah keluarga yang cukup sederhana, bersama seorang Ibu dan dua adik lelakinya. Karena sudah 8 tahun lebih mereka ditinggal wafat Bapaknya. Azkiyya seorang mahasisiwi semester lima di Fakultas Tarbiyah UNISBA (Universitas Islam Bandung). Kepeduliannya terhadap pendidikan agama Islam begitu besar. Untuk tambahan biaya kuliahnya, ia kerap mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Mulai dari TAAM (Taman Asuh Anak Muslim), TKA (Taman Kanak-kanak Al Quran), TPA (Taman Pendidikan Al Quran), dan TQA (Ta’limul Qur’an lil Aulad). Kesibukannya cukup menguras waktu dan tenaganya. Hingga tak jarang ia jatuh sakit karena kelelahan.

***

Pagi itu mentari cukup hangat menyapa embun. Sehangat bathinku yang sudah siap mengucap akad. Tepat jam 07.30 WIB, kami sekeluarga sudah tiba di halaman masjid Raudhatul ‘Irfan daerah Cipaganti. Kaum hawa di arahkan ke pintu belakang masjid, sementara kaum adam masuk lewat pintu depan. Ruang utama masjid disekat dengan tabir hijau setinggi dada. Kaum adam berada di sebelah utara, sedangkan kaum hawa berada di selatan ruang utama. Di sana sudah hadir kerabat dari Azkiyya dan beberapa orang petugas dari KUA. Setelah semua menempati tempatnya, rangkaian acara penyambutan hinga serah terima pun dilaksanakan.

Anehnya, menjelang akad, tak sedikit pun rasa gugup menyapaku seperti cerita sahabat-sahabatku yang sudah menikah. Hingga aku duduk di hadapan meja akad nikah. Di sekitar meja sudah ada dua orang petugas KUA, dua orang saksi, dan Zakky adik kandung Azkiyya yang bertindak sebagai wali. Sedangkan Azkiyya belum dihadirkan sesuai kesepakatan hingga akad nikah ditunaikan.

Khutbah nikah telah disampaikan. Pemeriksaan keakuratan data pengantin sudah dilakukan. Semua rukun nikah pun sudah disiapkan. Kini tanganku menjabat tangan Zakky. Sejak itulah rasa gugup mulai menjalar menyusuri tanganku. Suara Zakky mulai kudengar dengan jelas saat mengucapkan ijab,
“Saya nikahkan anda Muhammad Adnan bin Rasyid Musthofa dengan kakak kandung saya Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, dengan mahar 20 keping uang dirham dan 11 gram perhiasan emas, dibayar tunai…”

Tatkala Zakky mungucapkan kalimat sakral itu, pikiranku mulai tak focus. Serasa ada ribuan batu angin menghujani wajahku, menyumpali mulutku. Seakan-akan menghalangiku untuk mengucap kalimat qabul. Ini upaya syetan, tepisku. Bagaimana tidak? Hanya dengan satu kalimat saja, yang semula haram akan menjadi halal. Yang semula dosa akan menjadi pahala. Seraya memohon perlindungan kepada Allah dari tipu daya syetan yang terkutuk, akhirnya Allah memampukan aku mengucap,
“Saya terima nikahnya Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, dengan mahar 20 keping uang dirham dan 11 gram perhiasan emas, dibayar tunai…”

“Bagaimana para saksi, Sah?”, “Sah…!”, “Sah…!”
“Alhamdulillah…” suara serempak mereka yang menyaksikan.

“Barokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jamaa’a bainakuma fii khoir”
“Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” (HR Ahmad)

Serangkaian do’a-do’a pun dilantunkan. Seketika itu pula air mataku bercucuran. Berharap agar kami diterima sebagai ummat Nabi SAW, seperti yang pernah beliau sabdakan,
“Nikah itu sunnahku. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia termasuk golongan (ummat) ku.” (HR Ibnu Majah)

Usai berdo’a, Azkiyya pun dihadirkan. Ia keluar dari balik tabir, dari arah selatan. Tak henti kupandangi kedatangannya, yang kusambut dengan berdiri dan mengulurkan tangan. Ia pun segera meraih kedua tanganku hingga kami bergenggaman. Terang saja kejadian itu mengundang senyum dan tawa bahagia yang tidak kami pedulikan. Kulihat semburat senyum di wajahnya yang bermake-up sederhana. Selaksa embun pun menghias di pelupuk matanya. Yang perlahan terjatuh menyusuri pipinya.

Setelah ucapan-ucapan selamat dan do’a kami terima, rangkaian acara akad pun ditutup. Dari masjid kami semua berjalan menuju kediaman Azkiyya yang tak jauh dari sana. Dengan resepsi seadanya, kami hanya mengundang kerabat keluarga dan para tetangga. Tak lupa pula sahabat-sahabat dekat. Dan hari itu menjadi hari bersejarah dan melelahkan bagi kami.

***

Senja telah berganti malam. Malam ini malam zafaf (malam pengantin) bagi kami. Usai berjama’ah ‘Isya di masjid, aku bergegas pulang. Memasuki kamar Azkiyya yang sudah bertabur aroma wewangian. Di dalam kamar Azkiyya sudah menggelar dua sajadah. Satu digelar di depan dan satu lagi sedang ia duduki di belakang. Akupun melihat segelas air susu yang diletakkan di atas meja dekat tempat tidur. Sementara di bawah dekat tempat tidur ada bejana kecil berisi air. Nampaknya Azkiyya sudah faham. Segelas air susu untuk kami minum bersama, seperti ‘Aisyah RHa yang menyiapkannya untuk Rasulullah SAW. Lalu air di bejana, untuk membangunkan salah satu di antara kami yang belum bangun di sepertiga malam nanti. Sebagaimana Beliau SAW sabdakan:
"Allah merahmati suami yang bangun di malam hari dan menunaikan shalat. Kemudian ia membangunkan istrinya, dan jika ia enggan maka dipercikkan air ke mukanya. Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan maka dipercikkan air ke wajahnya." (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, An Nasa'i dan Ibnu Majah)

“Asslaamu’alaik Yaa Baabar Rohmah…” ucapku sambil memasuki kamarnya.
“`Alayya wa `alaika salaam…” sambutnya seraya bangkit dari simpuhnya.

Tak lama kemudian kami bersalaman. Lembut bibirnya mengecup punggung tangan kananku. Betapa bahagianya aku. Begitupun Azkiyya yang wajahnya sudah merona saat menatapku. Sebelum kukecup keningnya, kuletakkan telapak tangan kananku pada ubun-ubunnya seraya berdo’a,
“Allahumma innii as`aluka min khairiha wa khairi maa jabaltaha. Wa a’udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha.”
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya . Dan aku mohon perlindungan –Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. (Hadits Imam Bukhari,Ibnu Majah, Abu Dawud dan Ibnu Sinni)
Perlahan lisan Azkiyya pun meng-aamiin-kan dengan membaca,
“Barakallahu likulli waahidin minna fi shaahibihi.”
Semoga Allah memberkahi masing masing di antara kita terhadap teman hidupnya. (Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkaar)

“Sajadahnya udah Kiyya siapin, Bang…”
“Kok masih manggil Abang? Kita kan udah halal…” cumbuku seraya mencubit pipi ‘chubby’nya.
“Oh…iya…” jawabnya sambil merunduk tersipu, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Sajadahnya sudah siap, Abi…sholat sekarang yuk?” ujarnya dengan wajah masih tersipu.
“InsyaAllah, syukron Ummi…” sahutku sambil mendaratkan kecupan di keningnya. Membuat putih wajahnya menjadi semakin merah merona.

Kami menunaikan shalat sunnat dua raka’at, seperti atsar shahabat yang disarankan kepada Abu Sa’id Maulana Usaid RA. Ia mengatakan : “Aku menikah, sedangkan aku seorang budak. Maka aku mengundang segolongan sahabat Nabi SAW. Di antara mereka ada Ibnu Mas’ud RA, Abu Dzar RA dan Hudzaifah RA. Dan mereka kemudian mengajariku dengan berkata, ”Jika engkau mendatangi istrimu, maka shalatlah dua rakaat, kemudia mintalah kepada Allah terhadap apa yang masuk kepadamu dan berlindunglah dari kejelekannya, kemudian keadaanmu dan istrimu.”

Usai sholat, kulafadzkan do’a ,
“Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya.
Allahumma ijma’ bainana kamaa jama’ta fii khair, wa farriq bainana idza farraqta ilaa khair.”
Ya Allah , barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku.
Ya Allah kumpulkan diantara kami apa yang engkau kumpuljan dengan kebaikan dan pisahkan antara kami jika engkau mememisahkan menuju kebaikan (Hadits Abdullah bin Mas’ud)
Dengan suara lembut dan perlahan Azkiyya meng-aamiin-kan. Setelah serangkaian do’a-do’a kami lantunkan, tiba-tiba Azkiyya menyandarkan tubuhnya merangkulku dari belakang.

“Abi…Ummi lelah, Bi…lelah sekali.” dengan suara lemahnya.
“Ya udah Ummi istirahat aja…Abi mau witir dulu ya.” ujarku.
Namun Azkiyya tak beranjak dari rangkulannya di punggungku. Tampaknya ia tertidur. Memang hari yang melelahkan setelah seharian melaksanakan resepsi meski sederhana. Namun kodisi tubuh Azkiyya yang mudah lelah memaksa ia menyerah pada pertahanan tubuhnya. Maka kurangkul ia dan memangkunya, menuju pembaringan. Usai kubaringkan tubuh lemahnya, di awal malam zafaf itu aku tunaikan 3 raka’at witir, khawatir nanti tidak sempat bangun di sepertiga malam terakhir. Seperti Shahabat Abu Bakar RA, yang dikisahkan oleh Abu Qatadah,
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, " Kapankah kamu melaksanakan witir?" Abu Bakr menjawab, “Saya melakukan witir di permulaan malam”. Dan beliau bertanya kepada Umar, "Kapankah kamu melaksanakan witir?" Umar menjawab, “Saya melakukan witir pada akhir malam”. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, "Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati." Dan kepada Umar beliau mengatakan, “Sedangkan orang ini begitu kuat." (HR. Abu Daud)

Memang Rasulullah SAW biasa mengakhirkan witir, namun terkadang beliau melaksanakannya di awal malam. Sebagaimana yang diungkapkan Ummul Mu’minin ‘Aisyah RHa,
“Kadang-kadang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim)

Usai sholat witir aku memperhatikan istriku yang sedang terbaring lemah. Azkiyya nampak lelap sekali dengan tubuh yang masih terbalut mukena. Perlahan kutanggalkan mukena yang masih dipakainya. Aroma melati pun lembut tercium dari tubuhnya. Rupanya istriku cantik sekali malam ini. Perlahan kubelai rambut panjangnya. Seakan tak percaya bahwa kini ia sudah menjadi milikku. Seekor nyamuk pun takkan kubiarkan menyentuh putih kulitnya, maka kutarik selimut untuk melindunginya.

Setelah memadamkan lampu aku berbaring di sebelah kirinya dengan posisi sunnah, miring ke sisi kanan di mana Azkiyya tengah terlelap. Tak lupa kulafadzkan do’a,
“Allahumma aslamtu nafsii ilaiKa, wa fawadhtu amrii ilaiKa, wal ja`tu zhohrii ilaiKa, rohbatan wa roghbatan ilaiKa, laa mal jaa`a wa laa manjaa minKa illaa ilaiKa, aamantu bi kitaabiKalladzii anzalta wa bin nabiyyiKalladzi arsalta
Ya Allah, kuserahkan diriku kepada-Mu, kuserahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.
Dengan membaca do’a ini, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci).” (HR Bukhari)

***

Hari ketiga dari tujuh hari pertama berumah tangga, aku tinggal bersama keluarga Azkiyya. Kuhabiskan hari cutiku bersama mereka. Keluarga yang harmonis nan cukup sederhana. Saling membantu dan pengertian adalah kebiasaan mereka. Tak jarang mereka pun saling bercanda. Kedua adik Azkiyya kerap menggoda Kakak perempuan satu-satunya. Karena sudah ada aku di samping Azkiyya. Suasana hangat itu membuatku tak kaku tinggal bersama mereka. Sesekali aku pun sering berbincang dengan Ibu dan kedua adiknya. Seperti menemukan keluarga yang sudah lama tak jumpa.

Suatu pagi selepas dhuha bersama, di ruang keluarga kupetik gitar milik Zainal, adik bungsunya. Mengungkapkan perasaanku pada Azkiya melalui sebuah lirik lagu yang disukainya.

“Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian”
(Tempat Terakhir - Padi)

Azkiyya pun tersenyum-senyum. Seiring senyum yang semakin melebar, ia berkata,
“Subhanallah, suaranya bagus Bi…”
“Ada tapinya enggak?” tanyaku seraya menggoda.
“Tapi lebih bagus lagi kalau Abi gak usah nyanyi…” lanjutnya seraya berlari kecil menuju ruang depan.

Tak kubiarkan, aku pun mengejarnya ke ruang depan. Kami berlarian seperti anak-anak yang sedang bermain ‘petak umpet’. Dari ruang depan Azkiyya berhasil menghindari kejaranku menuju kamarnya. Aku pun masih mengejarnya sampai ke kamar. Di kamar aku berhasil menangkapnya, lalu menggelitik badan dan pinggangnya. Ia tertawa-tawa tak kuasa menahan serangan jari-jariku di seputar badannya. Saat kulihat tawanya, Azkiyya semakin cantik saja.

Azkiyya hanya pasrah dalam belenggu pelukanku. Lalu kami terdiam dan saling menatap. Tatapan yang penuh cinta nan suci. Mengundang tatapan Allah pada kami dengan tatapan penuh rahmat-Nya.
Jemari tangan kami bergenggaman penuh mesra. Mengundang Allah mencurahkan maghfirah atas kami. Ketika itu malaikat-malaikat bertasbih, karena menyaksikan guguran dosa yang berserakan dari tubuh kami.

Perlahan, kudekatkan bibirku pada bibirnya. Hingga kedua bibir kami berpagutan penuh cinta nan mesra. Namun Azkiyya terperanjat dalam pelukan dan segera menarik bibirnya. Dengan mata yang tampak kaget ia berrtanya,
“Abi masih punya wudhu enggak, Bi?”
“Masih, Ummi sayang…kenapa?”
“Syukurlah, Ummi cuma takut aja. Jangan sampai syetan menyentuh Ummi mendahului Abi, hanya gara-gara Abi belum berwudhu.”
“MasyaAllah…makasih Ummi, udah ngingetin. InsyaAllah Abi masih punya wudhu.”
“Sekalian aja yuk Bi…” sahutnya sambil menarik tubuhku ke arah tempat tidur dengan bibir yang masih bertautan.
Aku mengerti apa yang diinginkannya. Sebelum semua kemesraan itu berlanjut, segera ku lafadzkan do’a
“Allahumma Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy Syaithon Maa Rozaqtanaa.”
Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari kami terhadap apa yang Engkau rizqikan kepada kami.”
Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya seorang dari kalian ingin mendatangi istrinya, hendaklah dia berdoa (seperti do’a di atas). Sesungguhnya jika dikehendaki diantara mereka berdua seorang anak saat itu maka setan tidaklah dapat mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq Alaihi)
Dan pagi itu, kami habiskan dengan becumbu mesra. Berpeluh rindu dalam surga dunia. Berbuah rahmat, maghfirah dan surga yang dijanjikan-Nya.
"Masuklah kamu berserta istrimu ke dalam surga untuk digembirakan." (QS. Az Zukhruf: 70)

***

Masa cutiku telah selesai. Aku harus kembali bekerja. Bergelut kembali dalam Laboratorium obat pewarna. Kali ini bukan lagi menafkahi diri sendiri, tetapi ada seorang istri yang wajib aku nafkahi. Hari itu aku bekerja shift dua (14.00-22.00 WIB). Ba’da ‘Isya sekitar jam 20.00 WIB telpon kantor menyala, ada suara Zakky di seberang sana.

“Assalaamu’alaikum, Kak Adnan…bisa pulang sekarang Kak?”
“Wa’alaikumsalaam, ada apa Zak?”
“Kak Kiyya sakit lagi Kak…”
“Inalillah… sudah ditangani dokter? Coba hubungi Dr. Bobby…”
Dr Bobby adalah seorang mualaf yang pernah kuajar mengaji.
“Belum Kak, masih dikamar ditemani Ibu…tunggu Kak Adnan aja kata Ibu”
“Iya..iya…Kak Adnan pulang sekarang ya. Syukron, Zak…”

Setelah menutup perbincangan dan telponnya. Aku segera meminta izin pulang lebih awal. Dengan rasa penuh cemas kutancap gas motorku tak seperti biasanya. Pikiranku hanya tertuju pada Azkiyya. Sepenjang perjalanan Batujajar-Bandung lisanku tak henti berdo’a,
“Allahumma Robbannaasi adzhibil ba’sa isyfii, Anta Syafii`, laa syifaa`an illaa syifaa`uKa, syifaa`an laa yughoodhiru saqoman.”
Ya Allah Tuhan sekalian manusia hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tak ada yang menyembuhkan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada sakit lagi. (HR. Bukhari Muslim)

Sebelum menuju rumah, aku mampir ke Klinik Kita untuk menjemput Dr. Bobby. Tak lama kami pun tiba di rumah. Nafas Azkiyya tampak berat. Tubunya pun sedikit membengkak. Kami segera menghampiri, lalu aku berdiri di samping kanannya. Dengan bantuan Ibu, Dr. Bobby memeriksa Azkiyya sangat hati-hati, tanpa menyentuh kulitnya. Menurut Ibu, Azkiyya terlalu lelah mengajar dari pagi hingga sore.
“Mungkin sakit asmanya kambuh….” ujar Ibu.
“Sudah berapa lama Kiyya sakit begini, Bu…” sela Dr. Bobby.
“Sudah hampir setahun ini, Dok..” jawab Ibu.

Dr. Bobby termenung sesaat. Dia menatapku dalam-dalam. Seakan-akan matanya mengatakan sesuatu yang tidak kami harapkan.
“Saya mohon maaf…untuk saat ini saya belum bisa menangani Azkiyya...” ujar Dr. Bobby
“Maksud Dokter…?” sahutku cemas.
“Saya butuh hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit, dan sebaiknya kita periksakan Azkiyya ke sana…”

Tanpa berpikir lagi kami menyetujui saran Dr. Bobby. Dr. Bobby segera menelpon sopirnya untuk membawa mobilnya ke rumah kami. Sebuah Avanza pun tiba, aku bergegas menggendong Azkiyya yang sudah tak sadarkan diri ke dalam mobil. Sementara Ibu menyusul dari belakang setelah menyiapkan segala sesuatunya. Kami berlima menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin. Zakky dan Zainal tinggal di rumah.

Setibanya di RSHS, Dr. Bobby mengurus semuanya. Aku menggendong Azkiyya yang masih tak sadarkan diri menuju pelataran rumah sakit. Azkiyya pun segera ditangani beberapa perawat menuju ruang ICU. Sementara aku bersama Ibu menunggu dengan penuh khawatir cemas. Tak henti-hentinya bathinku memohon segala kebaikan untuknya. Setelah pemeriksaan selama 15 menit, Dr. Bobby muncul di hadapan kami.
“Istri saya sakit apa, Dokter…” tanyaku cemas.
“Dr. Syarif ingin bicara dengan kalian, mari ikut saya…!”

Di ruangan itu, Dr. Syarif sudah menunggu. Setelah memperkenalkan diri kami masing-masing, Dr. Syarif menerangkan,
“Menurut keterangan dari Dr. Bobby, Azkiyya sudah lama mengalami gejala seperti ini, betul Bu?”
“Betul, Dokter…udah hampir setahun.” sahut Ibu.
“Setiap sakit seperti ini, apakah tubuhnya selalu membengkak?” lanjut Dr. Syarif.
“Betul, Dok…memangnya Azkiyya sakit apa, Dok…?” ujar Ibu menimpali.
“Gejala apa yang dialami istri saya, Dokter?” tanyaku semakin cemas.

Dr. Syarif perlahan menatap ke arah Dr. Bobby, yang hanya menganggukkan kepala. Hey….ada apa ini? ungkapku dalam bathin. Setelah melepas kacamatanya, Dr. Syarif melanjutkan,
“Gejala yang dialami Azkiyya ini, bukan penyakit biasa. Bukan karena kelelahan ataupun sebagainya. Juga bukan karena sakit asma. Gejala-gejala ini diakibatkan oleh sebuah virus, yang kami kenal sebagai ‘Systemic Lupus Erythematosus’ (SLE), atau biasa kami sebut ‘Lupus’.”

INNALILLAAH…penyakit apa lagi ini? umpatku membathin seraya menatap Dr. Bobby yang tengah berdiri di sebelah meja Dr. Syarif. Seperti memahami bathinku Dr. Bobby ikut menerangkan,
“Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam. Pertama, Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus(SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu.”
“Betul…dan rupanya istri Bapak mengidap jenis yang kedua. Virus itu tidak hanya menyerang organ tubuh, tetapi ia juga menyerang system imun dan seluruh jaringan sel dalam tubuh. Maka wajar, ketika virus ini aktif pasien akan mudah lelah, karena kekebalan tubuhnya melemah. Tetapi ketika virus ini nonaktif pasien tidak akan merasakan apa, layaknya orang sehat biasa saja.” lanjut Dr. Bobby.

MaasyaAllah…mendengar penjelasan itu membangkitkan rasa berkecamuk dalam dada. Rongga dadaku seakan dipenuhi sesuatu hingga menyesak di dalamnya. Ibu hanya mampu menangis mendengar semuanya.
“Kasihan Kiyya…Ya Allah. Ini salah Ibu, kenapa enggak dibawa kedokter dari dulu…” lirihnya menyesali keadaan.
“Ibu…tenang, Bu… Azkiyya pasti sembuh.” ujarku meyakinkannya.

***

Di ruang ICU Azkiyya terbaring lemah tak sadarkan diri. Ditemani Ibu yang tak henti-henti mengalirkan tangis kasih sayangnya. Sementara aku berbincang lebih dalam bersama Dr. Syarif dan Dr. Bobby. Menurut mereka virus ini belum ditemukan obatnya. Tetapi bisa dicegah agar tidak menyebar dan menyerang organ tubuhnya lainnya. Ditengah perbincangan, seorang perawat menghampiri kami, menyerahkan amplop besar berwarna cokelat kepada Dr. Syarif. Kami pun segera kembali menuju ruang Dr. Syarif. Di dalam ruang itu Dr. Syarif membuka amplopnya.
“Ini hasil rontgen istri Bapak…” sambil mengeluarkan isinya.
Setelah melihat hasil rontgen, Dr. Syarif dan Dr. Bobby hanya saling menatap. Seakan-akan tak ingin mengabarkan hasilnya padaku. Lalu Dr. Bobby menatap ke arahku, dan tiba-tiba merangkulku sambil terisak-isak.

“Ada apa ini, Dok…? Bagaimana hasilnya?” tanyaku semakin heran dan penuh kecemasan.
“Maaf Pak Adnan…istri Bapak sudah tidak memiliki ginjal. Virus itu sudah menghabiskan kedua buah ginjalnya.” ujar Dr. Syarif.

Laksana gelegar halilintar di tengah siang, aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku melemah dalam rangkulan Dr. Bobby. Seakan tak percaya apa yang dikatakan Dr. Syarif. Dan sejak itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku pingsan…

Selama kurang lebih satu jam aku baru siuman. Dr. Bobby mengabarkan bahwa Azkiyya sudah sadar dan menanyakan keberadanku. Aku segera bergegas menghampirinya di ruang ICU. Tampak Azkiyya sedang duduk di dampingi Ibu. Aku segera memeluknya dan menangis dalam pelukannya.
“Abi, kenapa nangis? Ummi enggak apa-apa kok, Ummi udah baikan…” ucapnya meyakinkanku.
“Iya…Ummi pasti sembuh…Allah sayang sama Ummi.” jawabku.
Padahal aku lebih tau apa yang sedang menimpanya, dan tetap menangis dalam peluknya.

Tepat jam 02.00 WIB, aku diminta pulang untuk menyiapkan perlengkapan yang belum sempat disiapkan Ibu. Karena Azkiyya harus dirawat beberapa hari di sana. Setelah sholat witir dan membereskan semua perlengkapan, termasuk selimut dan pakaian ganti untuk Azkiyya, aku segera kembali ke rumah sakit.

Azkiyya masih terjaga, sedangkan Ibu terlelap di kursi ruangan itu. Setelah menyimpan semuanya aku kembali menghampiri Azkiyya. Menemani kesendiriannya dini hari itu.

“Abi…semester depan Ummi pengen istirahat aja, Bi…” ujarnya sambil memeluk tubuhku dan menyandarkan kepalanya di atas dadaku.
“Iya…Ummi harus banyak istirahat, Sayang…biar cepet sembuh.”
“Ummi udah sembuh Bi, nih lihat…Ummi udah enggak apa-apa kan?” ujarnya manja.
“Iya, iya…mudah-mudahan Ummi sudah benar-benar sembuh ya?
“Aamiin…”

Suasana cukup hening dini hari itu. Hanya kami berdua yang terjaga di ruang itu. Masih dalam pelukanku, Azkiyya bersenandung. Menyenandungkan sebuah nasyid ‘Muhasabah Cinta’.
“Eh…Abi kok nangis lagi?” ujarnya manja sambil menatap wajahku.
Aku tak mampu menjawab, sesak dalam dadaku semakin mendesak ke tenggorokanku.
“Abi…Ummi pengen pulang, Bi…Ummi gak betah di sini.” suaranya yang kembali memelukku.
“Iya…kita tunggu keputusan Dokter dulu ya. Mudah-mudahan nanti pagi atau siang kita bisa pulang.”
“Ya harus dong, Abi…masa mau nginep di sini terus…pulang sekarang aja yuk, Bi…”
“Iya…sabar, Sayang…! Kita harus tunggu dulu keputusan Dokter. Udah bisa pulang atau enggak…”

***

Lantunan syahdu adzan shubuh serasa merdu terdengar di telinga. Menyeru jiwa-jiwa yang tertidur untuk segera menghadap pada Sang Maha Pencipta. Aku pamit pada Azkiyya untuk mencari mushola. Sementara Ibu dan Azkiyya sudah siap untuk sholat di tempatnya.

Di mushola aku sholat bersama beberapa orang yang sudah ada di sana. Selesai sholat kupanjatkan do’a-do’a memohon kesembuhan untuk Azkiyya. Di tengah nikmat bermunajat, ada suara memanggil mengejutkanku. Rupanya Dr. Bobby menginap di rumah sakit malam itu.
“Nan…Adnan…Azkiyya, Nan…”
“Ada apa dengan Azkiyya, Dok…?”
“Azkiyya tak sadar lagi, Nan…Kali ini cukup kritis.”

Aku segera berlari menuju ruang ICU. Kulihat Ibu sedang menjaga Azkiyya. Dengan tubuh yang masih terbalut mukena, nafas Azkiyya kembali tersenggal-senggal. Aku tak mampu menahan tangis. Ia menatap lemah ke arahku. Lisannya seakan-akan ingat berkata-kata.
“Katakan Sayang, katakan…” ujarku seraya mendekatkan telingaku ke bibirnya.
Dengan nafas tersenggal-senggalnya, dan suara lemah yang terputus-putus, Azkiyya membacakan,
“Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ii ilaa Robbiki roodhiyatam mardhiyah, fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii janatii.” (QS Al Fajr : 29-32)

Allahuakbar… Aku faham maksudnya. Ia meminta keridhoanku agar ia segera bertemu dengan Rabbnya. Sekalipun aku tidak merelakan kepulangannya tetapi Allah sudah merindukan jiwanya.

Semburat senyum perlahan menghias di bibirnya. Seolah mengabarkan pada kita semua bahwa ia telah melihat istananya di surga. Keringat lembut pun mengembun disekitar keningnya. Pertanda syahid di akhir hayatnya. Rupanya keinginan Azkiyya untuk istirahat semester depan, adalah istirahat untuk selamanya. Keinginannya untuk pulang dini hari itu adalah pulang ke sisi Rabbnya.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…”

***

Proses pemulasaraan usai dilaksanakan. Aku sendiri turut memandikan, memimpin sholat jenazah, dan menidurkannya di pembaringan terakhir. Usai pemakaman, aku masih duduk di sebelah kiri pusaranya. “Allahummaghfir li Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, warfa’ darojataha fil mahdiyyin, wafsahlaha fii qobriha, wanawwir laha fiiha, wakhlufha fii ‘aaqibiha…”
Ya Allah berikan ampunan bagi Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, angkatlah derajatnya di pembaringan terakhirnya, lapangkanglah kuburnya, dan terangilah ia di dalamnya, serta gantikanlah ia dengan keturunannya…”

Siang itu suasana duka meliputi kami sekeluarga. Kepulangan Azkiyya harus kami terima dengan lapang dada. Karena tak lama lagi kami pun akan segera menyusulnya kesana. Banyak kerabat yang berdatangan. Termasuk Mamahku yang sejak pagi tak kuasa menahan tangisnya. Yang senantiasa mengingatkanku untuk tetap ikhlas dan bershabar.

“Kak Adnan, ini buku harian Kak Kiyya…” suara Zakky menyadarkanku dari lamunan. Sambil menyerahkan sebuah diary.
“Apa Kakak boleh membukanya, meski tak seizin Kak Kiyya?” tanyaku.
“Zakky pernah berusaha membacanya,Kak. Tapi Kak Kiyya mmelarangnya. Dan waktu itu Kak Kiyya bilang bahwa buku catatannya itu hanya boleh dilihat sama suaminya nanti. Jadi hanya Kak Adnan lah yang berhak membaca isinya…” tutur Zakky.

Lembar demi lembar kubaca catatannya. Isinya hanya catatan pengalaman sehari-harinya. Namun ada satu halaman yang mengundangku untuk terus membacanya,

“Semestinya aku banyak berdzikir
Bukan hanya menyesali takdir
Seharusnya aku banyak berfikir
Sebelum hidupku harus berakhir…

Ya Rabbi…
Jika sakit ku ini karena dosa-dosaku yang harus digugurkan
Maka ampunilah dosa-dosaku..
Tetapi jika sakit ini adalah kasih sayang-Mu
Maka biarlah aku menikmati sebentuk kasih sayang-Mu
Hingga nanti kunikmati syurga-Mu…”

Kemudian bait berikutnya sebuah lirik nasyid yang ia senandungkan sewaktu memelukku di ruang ICU,
“Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Bila ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu…

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung do;aku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku…
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah slama ini Ya Ilahi
Muhasabah Cintaku…”

Setelah membaca semua catatannya, rupanya Azkiyya sudah tahu kondisi fisiknya. Hanya saja Ia tidak ingin membuat Ibu cemas. Ia tidak ingin menyusahkan Ibu. Ia ridho dengan segala keadaannya. Karena itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepadanya.

Di buku catatan itu aku menulis balasan atas semua catatannya,
“Pulanglah istriku, temui Rabbmu
Karena Allah lebih merindukanmu
Pulanglah istriku dengan jiwa tenangmu
Karena aku telah meridhoimu
Pulanglah istriku ke tempat terakhir di sisi Rabbmu
Dan nantikan aku di istana syurgamu