Jumat, 17 Februari 2012

Tamani aku hingga ke syurga



Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki pergiliran pagi, siang, petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Harus. Kita tak mungkin selamat mengharungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Kerana, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya.
“Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (Qs. An Nisa:28)
Saudaraku,
Kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah lah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT memberitakan bahwa hanya pertemanan atas dasar iman dan takwalah yang abadi.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67).
Ibnu Katsir mengatakan, “Seluruh pertemanan dan persahabatan yang tidak kerana Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya, yang menyebutkan bahwa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang kita cintai.
Saudaraku,
Merenunglah. Siapa orang-orang yang kita cintai? Siapa orang-orang yang paling dekat dalam hidup dan hati kita? Siapa orang yang menghiasi ingatan kita? Siapa orang yang menemani langkah-langkah hidup kita? Orang solehkah dia? Mengajak pada kebaikan dan keridhaan Allah kah dia? Bayangkanlah persahabatan orang beriman di akhirat sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. “Ada dua orang mukmin yang bersahabat dan berteman akrab. Salah seorang di antara keduanya meninggal lebih dahulu dan ia mendapat berita gembira dengan syurga. Ketika itu ia mengingat teman akrabnya di kala di dunia lalu in berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya fulan adalah teman akrabku, dia yang menganjurkanku berlaku taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Dia yang mengajakku melakukan kebaikan dan mencegahku melakukan kemungkaran. Dia juga yang menyadarkanku akan pertemuan dengan-Mu. Ya Allah jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku sampai Engkau memperlihatkan kepada-nya kenikmatan yang Engkau berikan padaku dan sampai Engkau meridhainya sebagaimana Engkau ridha kepadaku,” Maka Allah berkata kepadanya, “Pergilah, seandainya engkau tahu yang Aku berikan kepadanya pasti engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis. “
Kemudian teman akrabnya itu meninggal dan ruh mereka bertemu. Dikatakan pada mereka, “Saling memujilah kalian kepada sahabat kalian.” Maka masing-masing mereka mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik saudara, sebaik-baik sahabat….”
Duhai indahnya. Pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan.
Saudaraku,
Banyak kisah-kisah yang ditinggalkan para salafusoleh tentang keadaan mereka setelah meninggal dunia. Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats Tsauri beberapa hari setelah ia meninggal dunia. Aku bertanya padanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu sekarang?” Ia menjawab, “Aku bertemu Muhammad (SAW) dan pasukannya..”
Dalam kisah lain, Ibnu Abid Duniya menyebutkan sebuah riwayat dari Yaqzhah binti Rasyid yang bercerita, “Marwan Al Mahlamy adalah tetanggaku. Dulu dia seorang hakim dan bersungguh-sungguh dalam ibadah ketika meninggal dunia aku menangkap kegembiraan yang terpancar dari mukanya. Tak berapa lama setelah itu aku mimpi bertemu dengannya, seperti layaknya mimpi yang terjadi dalam tidur. Aku bertanya, “Wahai Abu Abdullah apa yang Allah lakukan terhadap dirimu.“ Ia menjawab, “Allah memasukkan aku ke dalam syurga,” jawab-nya. “Kemudian apalagi?” “Aku dipertemukan dengan golongan kanan,” jawabnya. Kemudian apa lagi?” “Aku dipertemukan dengan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.” Aku bertanya, “Siapa orang yang engkau lihat di sana?” tanyaku. “Aku melihat Al Hasan bin Sirrin dan Maimun bin Sayyah,” jawabnya.
Seperti itulah keadaan mereka setelah meninggalkan dunia. Bertemu dengan orang-orang yang dahulunya menjadi teman dan penghias hari-hari mereka. Orang-orang soleh yang menjadi ingatan mereka dalam hidup. Mereka itulah yang akan menemaninya di alam akhirat.
Saudaraku,
Hati-hatilah menyusuri jalan kebersamaan dengan orang-orang soleh. Waspadalah untuk tidak melakukan penyimpangan, yang membuat kesenjangan diri kita dengan mereka. Salim bin Abi Ja’ad mengatakan bahwa Abu Darda pernah berkata, “Hendaklah seseorang berhati-hati bila ia dibenci oleh hati orang-orang beriman dari arah yang tidak ia sadari.” Kemudian sahabat Abu Darda bertanya, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan kata-kata itu?” Salim mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Abu Darda menjelaskan, “Yaitu seorang hamba bermaksiat kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu Allah menghunjamkan kemarahan-Nya dalam hati orang-orang beriman tanpa ia sadari.” (Al-Hilya: 1/215)
Kemarahan hati orang beriman, adalah kesengsaraan. Kebencian orang-orang yang beriman adalah pangkal kesempitan dan penderitaan. Kerana merekalah sebenarnya yang dapat mengubah dunia dengan segala permasalahannya menjadi indah. Mulut-mulut merekalah yang menuangkan nasihat dan membicarakan kalimat demi kalimat yang dapat menentramkan hati. Lidah-lidah merekalah yang menyiram hati kita untuk senantiasa berada dalam keridhaan dan tidak terlalu jauh menyimpang dari ridha Allah SWT. Tangan-tangan merekalah yang menuntun kita. Telapak tangan merekalah yang tertengadah di malam sunyi dan gelap malam hingga memberi kekuatan iman dalam diri kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW tentang do’a seorang mukmin di tengah malam yang dijamin diterima Allah SWT.
Saudaraku,
Bersahabat dengan mereka, akan mendekatkan kita pada Allah. Dan ketaatan kita pada Allah, juga akan mendekatkan kita pada mereka. Ibnu Asakir meriwayatkan, Abu Darda‘ menulis surat pada Maslamah bin Makhlad. “Seorang hamba jika ia telah berbuat kebajikan untuk taat kepada Allah, maka Allah mencintainya. Bila Allah telah mencintainya, Allah akan menjadikan makhluk cinta padanya. Dan bila ia bermaksiat pada Allah, maka Allah akan memarahinya. Bila ia telah dimarahi olehNya, Maka Allah akan menjadikan seluruh makhluk benci padanya.” (Al Kanz, 8/255)
Semoga Allah menghimpun kita dalam golongan orang-orang yang mendapat ridha-Nya di akhirat.
Amin Allahuma amin..
P.S. Tuntuni aku hingga ke syurga.

Kamis, 16 Februari 2012

Cinta Pada pandangan Pertama

cinta pada pandangan pertama,di lihat dari judulnya mirip dengan judul lagu yah.tapi tenang aja artikel ini bukan untuk membahas judul lagu tersebut.kata sebagian orang cinta berawal dari mata lalu turun ke hati.Mungkin sebagian orang pernah merasakan cinta pada pandangan pertama,apakah benar cinta bisa langsung terdeteksi saat pertama kita melihatnya?


Tadi malam aku mendengarkan kajian Samara di salah satu stasiun Radio yang temanya menyangkut cinta pada pandangan pertama,menurut nara sumber acara tersebut,cinta pada pandangan pertama bisa saja terjadi, reaksi pertama yang akan muncul saat itu adalah bergetarnya hati,getaran yang mungkin di anggap tidak wajar karena getarannya mencapai 8,9 ritcher (hehe sedahsyat gempa dijepang.hehe narsis.com).namun sebagai orang islam yang faham dengan ajaran islam ia tidak akan meneruskan pandangan-pandangan yang selanjutnya.karena islam mengajarkan ummatnya untuk "Ghadhul bashar" atau menundukan pandangan.pandangan pertama diperbolehkan karena mungkin  faktor ketidak sengajaan,namun pandangan kedua dan seterusnya tidak di perbolehkan karena ia merupakan faktor kesengajaan.


Jika saat pertama memandangnya kita sudah merasakan reaksi cinta,solusi yang terbaik adalah mendatangi walinya dan meminangnya.namun, anak-anak muda zaman sekarang menerapkan persepsi yang salah yaitu berawal dari pandangan mata,kenalan,ketemuan dan di lanjutkan jalan bareng (pacaran) sungguh itu persepsi yang salah,papar beliau. Tak ada namanya jalan bareng sebelum pernikahan, tidak ada ajaran islam yang mengajarkan.jika ingin membina suatu rumah tangga yang islami maka jalan yang harus di tempuh untuk mendapatkan pasangan juga harus melalui cara-cara yang islami.


Pandangan mata ibarat sebuah arak yang bisa memabukkan jika kita tidak bisa mengimbangi dengan keimanan karena dari pandangan matalah mula-mula awal perzinahan


Cinta menurut Ibnu Qayyim adalah,"cinta laksana sebuah pohon yang tumbuh di dalam hati akar-akarnya adalah rasa rendah di hadapan Dzat yang dicintainya.batangnya adalah mengenal-Nya,rantingnya adalah rasa takut kepada-Nya,daun-daunnya adalah rasa malu kepada-Nya,buahnya adalah taat kepada-Nya.dan bahan yang di buat untuk menyiramnya adalah mengingat-Nya (dzikir) jika salah satu hal tersebut tidak ada dalam cinta maka cinta tersebut tidak sempurna."

Jika diantara kalian yang saat ini sedang merasakan jatuh cinta karena pandangan yang pertama maka bersegeralah ambil tindakan, jemput dia di rumah walinya sehingga pandangan-pandangan yang seterusnya akan menjadi halal bagimu..hee

Mengisi waktu luang dengan corat-coret di blog semoga bermanfaat

Salam santun selalu

Minggu, 20 November 2011

Patutkah manusia sombong?



 "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang ber akal, (yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) , "Ya Tuhan kami, Tidaklah Engkau menciptakan semuai ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."(QS.Ali-Imran 190-191)


Pernahkan kita merasa besar dan sombong?. Seringkah kita merasa lebih hebat dari pada yang lain. Padahal kita hanya setitik debu dibandingkan dengan dunia ini. Dunia ini pun setitik debu jika dibandingkan dengan tata surya.

1.Perbandingan Bumi dengan planet terdekat. Bumi (Earth), Venus, Mars dan Mercury 

Dalam skala ini, Planet Bumi(earth) terlihat lebih besar dari planet terdekat

2. Perbandingan seluruh planet dalam tata surya. Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Bumi (Earth), Venus, Mars, Mercury dan Pluto

 Dalam skala ini, Bumi terlihat planet terbesar kelima dari tata surya

3. Perbandingan planet-planet dengan Matahari (Sun).

Dalam skala ini, Planet bumi (Earth)  terlihat hanya seperti titik kecil dari Matahari (the sun)

4. Perbandingan Matahari dengan bintang-bintang yang lain. Matahari (Sun), Sirius, Pollux dan Arcturus.

 Dalam skala ini, Bumi sudah tak terlihat. Matahari (Sun), Sirius, Pollux dan Arcturus.

5. Perbandingan Bintang-bintang yang lebih besar. 


 Dalam skala ini Mataharipun sudah hampir tak terlihat. Matahari (Sun), Sirius, Pollux, Arcturus, Rigel, Aldebaran, Betelgeuse dan Antares.



Bila kita perhatikan jagad raya ini:

Bila matahari di bandingkan dengan antares matahari hanya sebesar debu didekat bola basket besar

Pantaskah pengatur alam raya adalah matahari atau salah satu seorang di antara kita?

Bila matahari sebesar sartu pixel di samping bola basket besar, bagaimana bumi dan bagaimana penghuninya?

Pantaskah Pencipta dan pengatur alam raya ini salah satu penghuni bumi yang bumi hanyalah planet kecil di antara planet-planet lain yang amat besar??

Ciptaan-Nya sangat besar, Maka bagaimana dengan Pencipta-Nya


            ALLAHU AKBAR....!!!!!


"Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah bersujud kepada matahari jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."(QS Fussilat : 37)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Nantikan Aku di Istana Syurgamu

Oleh: Bila Hati Rindu Menikah




"Nantikan Aku Di Istana Surgamu"
(Abu Lathifa)

Larik-larik benang perak mulai teruntai dari langit. Seiring gemuruh langit yang memaksaku menghentikan laju sepeda motorku. Padahal belum lama aku meluncur dari perusahaan textile di kawasan industri Batujajar. Tepat di bawah jembatan tol Cilame, Padalarang aku berteduh. Hitung-hitung melepas lelah setelah seharian bekerja, pikirku. Tak hanya aku, belasan bahkan mungkin puluhan motor berteduh di bawah jembatan itu. Sebaian kecil memilih melanjutkan perjalanannya setelah mereka mengenakan jas hujannya. Sedangkan aku memilih untuk menunggu hingga reda.

Hampir satu jam hujan tak kunjung reda. Separuh dari mereka yang berteduh sudah meninggalkan tempatnya semula. Sementara aku masih menunggu. Hingga ponselku bernyanyi, “Assalaamu’alaikum… Ya akhii, Ya ukhtii…”, sebuah panggilan masuk dari Mamah.
“Assalaamu’alaikum, Mah…” sambutku.
“Wa’alaikumsalaam…kamu lagi di mana, Adnan? Kenapa belum pulang?” tanyanya resah.
“Iya Mah, masih di Cilame…hujannya belum reda.”
“Tuh kan…tadi pagi udah Mamah ingetin ‘bawa jas hujan’, bandel sih kamunya…”
“Iya Mamaaah, maafin Adnan…”
“Iya… Mamah cuma khawatir, takutnya ada apa-apa sama kamu…”
“InsyaAllah semua baik-baik aja, Mah…” jawabku menenangkan beliau.
“Ya sudah…pulangnya hati-hati ya…asalaamu’alaikum.”
“InsyaAllah…wa’alikumsalaam.” jawabku mentup percakapan.

Kekhawatiran seorang Ibu, yang terkadang membuatku merasa risih. Tapi kenapa harus risih? Memang begitulah naluri seorang Ibu. Apalagi karena besok adalah hari bersejarahku. Ya…besok adalah hari yang aku rindukan. Karena besok aku akan menggenapkan separuh agamaku. Maka wajar saja bila Mamah semakin khawatir.

Namun satu hal yang masih kusangsikan. Bahwa aku akan menikahi seorang perempuan yang tidak aku cintai. Kulitnya memang putih, tetapi wajahnya biasa saja (untuk tidak mengatakan jelek, maaf!), juga tidak begitu tinggi. Sejujurnya, tak ada sedikit pun rasa mahabbah di hati. Tak pernah ku lalui satu malam pun tanpa istikharah pada Allah. Bahkan hingga malam terakhir sebelum aku menikahinya, aku tetap istikharah. Tetapi semakin aku beristikharah dengan segenap kesungguhanku, kecenderungan itu semakin mantap kepadanya. Hingga kuyakinkan bahwa dirinya adalah pilihan Allah.

Namanya Nurul Azkiyya, gadis kelahiran Palembang yang besar di Bandung. Ia besar di tengah keluarga yang cukup sederhana, bersama seorang Ibu dan dua adik lelakinya. Karena sudah 8 tahun lebih mereka ditinggal wafat Bapaknya. Azkiyya seorang mahasisiwi semester lima di Fakultas Tarbiyah UNISBA (Universitas Islam Bandung). Kepeduliannya terhadap pendidikan agama Islam begitu besar. Untuk tambahan biaya kuliahnya, ia kerap mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Mulai dari TAAM (Taman Asuh Anak Muslim), TKA (Taman Kanak-kanak Al Quran), TPA (Taman Pendidikan Al Quran), dan TQA (Ta’limul Qur’an lil Aulad). Kesibukannya cukup menguras waktu dan tenaganya. Hingga tak jarang ia jatuh sakit karena kelelahan.

***

Pagi itu mentari cukup hangat menyapa embun. Sehangat bathinku yang sudah siap mengucap akad. Tepat jam 07.30 WIB, kami sekeluarga sudah tiba di halaman masjid Raudhatul ‘Irfan daerah Cipaganti. Kaum hawa di arahkan ke pintu belakang masjid, sementara kaum adam masuk lewat pintu depan. Ruang utama masjid disekat dengan tabir hijau setinggi dada. Kaum adam berada di sebelah utara, sedangkan kaum hawa berada di selatan ruang utama. Di sana sudah hadir kerabat dari Azkiyya dan beberapa orang petugas dari KUA. Setelah semua menempati tempatnya, rangkaian acara penyambutan hinga serah terima pun dilaksanakan.

Anehnya, menjelang akad, tak sedikit pun rasa gugup menyapaku seperti cerita sahabat-sahabatku yang sudah menikah. Hingga aku duduk di hadapan meja akad nikah. Di sekitar meja sudah ada dua orang petugas KUA, dua orang saksi, dan Zakky adik kandung Azkiyya yang bertindak sebagai wali. Sedangkan Azkiyya belum dihadirkan sesuai kesepakatan hingga akad nikah ditunaikan.

Khutbah nikah telah disampaikan. Pemeriksaan keakuratan data pengantin sudah dilakukan. Semua rukun nikah pun sudah disiapkan. Kini tanganku menjabat tangan Zakky. Sejak itulah rasa gugup mulai menjalar menyusuri tanganku. Suara Zakky mulai kudengar dengan jelas saat mengucapkan ijab,
“Saya nikahkan anda Muhammad Adnan bin Rasyid Musthofa dengan kakak kandung saya Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, dengan mahar 20 keping uang dirham dan 11 gram perhiasan emas, dibayar tunai…”

Tatkala Zakky mungucapkan kalimat sakral itu, pikiranku mulai tak focus. Serasa ada ribuan batu angin menghujani wajahku, menyumpali mulutku. Seakan-akan menghalangiku untuk mengucap kalimat qabul. Ini upaya syetan, tepisku. Bagaimana tidak? Hanya dengan satu kalimat saja, yang semula haram akan menjadi halal. Yang semula dosa akan menjadi pahala. Seraya memohon perlindungan kepada Allah dari tipu daya syetan yang terkutuk, akhirnya Allah memampukan aku mengucap,
“Saya terima nikahnya Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, dengan mahar 20 keping uang dirham dan 11 gram perhiasan emas, dibayar tunai…”

“Bagaimana para saksi, Sah?”, “Sah…!”, “Sah…!”
“Alhamdulillah…” suara serempak mereka yang menyaksikan.

“Barokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jamaa’a bainakuma fii khoir”
“Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” (HR Ahmad)

Serangkaian do’a-do’a pun dilantunkan. Seketika itu pula air mataku bercucuran. Berharap agar kami diterima sebagai ummat Nabi SAW, seperti yang pernah beliau sabdakan,
“Nikah itu sunnahku. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia termasuk golongan (ummat) ku.” (HR Ibnu Majah)

Usai berdo’a, Azkiyya pun dihadirkan. Ia keluar dari balik tabir, dari arah selatan. Tak henti kupandangi kedatangannya, yang kusambut dengan berdiri dan mengulurkan tangan. Ia pun segera meraih kedua tanganku hingga kami bergenggaman. Terang saja kejadian itu mengundang senyum dan tawa bahagia yang tidak kami pedulikan. Kulihat semburat senyum di wajahnya yang bermake-up sederhana. Selaksa embun pun menghias di pelupuk matanya. Yang perlahan terjatuh menyusuri pipinya.

Setelah ucapan-ucapan selamat dan do’a kami terima, rangkaian acara akad pun ditutup. Dari masjid kami semua berjalan menuju kediaman Azkiyya yang tak jauh dari sana. Dengan resepsi seadanya, kami hanya mengundang kerabat keluarga dan para tetangga. Tak lupa pula sahabat-sahabat dekat. Dan hari itu menjadi hari bersejarah dan melelahkan bagi kami.

***

Senja telah berganti malam. Malam ini malam zafaf (malam pengantin) bagi kami. Usai berjama’ah ‘Isya di masjid, aku bergegas pulang. Memasuki kamar Azkiyya yang sudah bertabur aroma wewangian. Di dalam kamar Azkiyya sudah menggelar dua sajadah. Satu digelar di depan dan satu lagi sedang ia duduki di belakang. Akupun melihat segelas air susu yang diletakkan di atas meja dekat tempat tidur. Sementara di bawah dekat tempat tidur ada bejana kecil berisi air. Nampaknya Azkiyya sudah faham. Segelas air susu untuk kami minum bersama, seperti ‘Aisyah RHa yang menyiapkannya untuk Rasulullah SAW. Lalu air di bejana, untuk membangunkan salah satu di antara kami yang belum bangun di sepertiga malam nanti. Sebagaimana Beliau SAW sabdakan:
"Allah merahmati suami yang bangun di malam hari dan menunaikan shalat. Kemudian ia membangunkan istrinya, dan jika ia enggan maka dipercikkan air ke mukanya. Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan maka dipercikkan air ke wajahnya." (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, An Nasa'i dan Ibnu Majah)

“Asslaamu’alaik Yaa Baabar Rohmah…” ucapku sambil memasuki kamarnya.
“`Alayya wa `alaika salaam…” sambutnya seraya bangkit dari simpuhnya.

Tak lama kemudian kami bersalaman. Lembut bibirnya mengecup punggung tangan kananku. Betapa bahagianya aku. Begitupun Azkiyya yang wajahnya sudah merona saat menatapku. Sebelum kukecup keningnya, kuletakkan telapak tangan kananku pada ubun-ubunnya seraya berdo’a,
“Allahumma innii as`aluka min khairiha wa khairi maa jabaltaha. Wa a’udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha.”
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya . Dan aku mohon perlindungan –Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. (Hadits Imam Bukhari,Ibnu Majah, Abu Dawud dan Ibnu Sinni)
Perlahan lisan Azkiyya pun meng-aamiin-kan dengan membaca,
“Barakallahu likulli waahidin minna fi shaahibihi.”
Semoga Allah memberkahi masing masing di antara kita terhadap teman hidupnya. (Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkaar)

“Sajadahnya udah Kiyya siapin, Bang…”
“Kok masih manggil Abang? Kita kan udah halal…” cumbuku seraya mencubit pipi ‘chubby’nya.
“Oh…iya…” jawabnya sambil merunduk tersipu, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Sajadahnya sudah siap, Abi…sholat sekarang yuk?” ujarnya dengan wajah masih tersipu.
“InsyaAllah, syukron Ummi…” sahutku sambil mendaratkan kecupan di keningnya. Membuat putih wajahnya menjadi semakin merah merona.

Kami menunaikan shalat sunnat dua raka’at, seperti atsar shahabat yang disarankan kepada Abu Sa’id Maulana Usaid RA. Ia mengatakan : “Aku menikah, sedangkan aku seorang budak. Maka aku mengundang segolongan sahabat Nabi SAW. Di antara mereka ada Ibnu Mas’ud RA, Abu Dzar RA dan Hudzaifah RA. Dan mereka kemudian mengajariku dengan berkata, ”Jika engkau mendatangi istrimu, maka shalatlah dua rakaat, kemudia mintalah kepada Allah terhadap apa yang masuk kepadamu dan berlindunglah dari kejelekannya, kemudian keadaanmu dan istrimu.”

Usai sholat, kulafadzkan do’a ,
“Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya.
Allahumma ijma’ bainana kamaa jama’ta fii khair, wa farriq bainana idza farraqta ilaa khair.”
Ya Allah , barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku.
Ya Allah kumpulkan diantara kami apa yang engkau kumpuljan dengan kebaikan dan pisahkan antara kami jika engkau mememisahkan menuju kebaikan (Hadits Abdullah bin Mas’ud)
Dengan suara lembut dan perlahan Azkiyya meng-aamiin-kan. Setelah serangkaian do’a-do’a kami lantunkan, tiba-tiba Azkiyya menyandarkan tubuhnya merangkulku dari belakang.

“Abi…Ummi lelah, Bi…lelah sekali.” dengan suara lemahnya.
“Ya udah Ummi istirahat aja…Abi mau witir dulu ya.” ujarku.
Namun Azkiyya tak beranjak dari rangkulannya di punggungku. Tampaknya ia tertidur. Memang hari yang melelahkan setelah seharian melaksanakan resepsi meski sederhana. Namun kodisi tubuh Azkiyya yang mudah lelah memaksa ia menyerah pada pertahanan tubuhnya. Maka kurangkul ia dan memangkunya, menuju pembaringan. Usai kubaringkan tubuh lemahnya, di awal malam zafaf itu aku tunaikan 3 raka’at witir, khawatir nanti tidak sempat bangun di sepertiga malam terakhir. Seperti Shahabat Abu Bakar RA, yang dikisahkan oleh Abu Qatadah,
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, " Kapankah kamu melaksanakan witir?" Abu Bakr menjawab, “Saya melakukan witir di permulaan malam”. Dan beliau bertanya kepada Umar, "Kapankah kamu melaksanakan witir?" Umar menjawab, “Saya melakukan witir pada akhir malam”. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, "Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati." Dan kepada Umar beliau mengatakan, “Sedangkan orang ini begitu kuat." (HR. Abu Daud)

Memang Rasulullah SAW biasa mengakhirkan witir, namun terkadang beliau melaksanakannya di awal malam. Sebagaimana yang diungkapkan Ummul Mu’minin ‘Aisyah RHa,
“Kadang-kadang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim)

Usai sholat witir aku memperhatikan istriku yang sedang terbaring lemah. Azkiyya nampak lelap sekali dengan tubuh yang masih terbalut mukena. Perlahan kutanggalkan mukena yang masih dipakainya. Aroma melati pun lembut tercium dari tubuhnya. Rupanya istriku cantik sekali malam ini. Perlahan kubelai rambut panjangnya. Seakan tak percaya bahwa kini ia sudah menjadi milikku. Seekor nyamuk pun takkan kubiarkan menyentuh putih kulitnya, maka kutarik selimut untuk melindunginya.

Setelah memadamkan lampu aku berbaring di sebelah kirinya dengan posisi sunnah, miring ke sisi kanan di mana Azkiyya tengah terlelap. Tak lupa kulafadzkan do’a,
“Allahumma aslamtu nafsii ilaiKa, wa fawadhtu amrii ilaiKa, wal ja`tu zhohrii ilaiKa, rohbatan wa roghbatan ilaiKa, laa mal jaa`a wa laa manjaa minKa illaa ilaiKa, aamantu bi kitaabiKalladzii anzalta wa bin nabiyyiKalladzi arsalta
Ya Allah, kuserahkan diriku kepada-Mu, kuserahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.
Dengan membaca do’a ini, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci).” (HR Bukhari)

***

Hari ketiga dari tujuh hari pertama berumah tangga, aku tinggal bersama keluarga Azkiyya. Kuhabiskan hari cutiku bersama mereka. Keluarga yang harmonis nan cukup sederhana. Saling membantu dan pengertian adalah kebiasaan mereka. Tak jarang mereka pun saling bercanda. Kedua adik Azkiyya kerap menggoda Kakak perempuan satu-satunya. Karena sudah ada aku di samping Azkiyya. Suasana hangat itu membuatku tak kaku tinggal bersama mereka. Sesekali aku pun sering berbincang dengan Ibu dan kedua adiknya. Seperti menemukan keluarga yang sudah lama tak jumpa.

Suatu pagi selepas dhuha bersama, di ruang keluarga kupetik gitar milik Zainal, adik bungsunya. Mengungkapkan perasaanku pada Azkiya melalui sebuah lirik lagu yang disukainya.

“Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian”
(Tempat Terakhir - Padi)

Azkiyya pun tersenyum-senyum. Seiring senyum yang semakin melebar, ia berkata,
“Subhanallah, suaranya bagus Bi…”
“Ada tapinya enggak?” tanyaku seraya menggoda.
“Tapi lebih bagus lagi kalau Abi gak usah nyanyi…” lanjutnya seraya berlari kecil menuju ruang depan.

Tak kubiarkan, aku pun mengejarnya ke ruang depan. Kami berlarian seperti anak-anak yang sedang bermain ‘petak umpet’. Dari ruang depan Azkiyya berhasil menghindari kejaranku menuju kamarnya. Aku pun masih mengejarnya sampai ke kamar. Di kamar aku berhasil menangkapnya, lalu menggelitik badan dan pinggangnya. Ia tertawa-tawa tak kuasa menahan serangan jari-jariku di seputar badannya. Saat kulihat tawanya, Azkiyya semakin cantik saja.

Azkiyya hanya pasrah dalam belenggu pelukanku. Lalu kami terdiam dan saling menatap. Tatapan yang penuh cinta nan suci. Mengundang tatapan Allah pada kami dengan tatapan penuh rahmat-Nya.
Jemari tangan kami bergenggaman penuh mesra. Mengundang Allah mencurahkan maghfirah atas kami. Ketika itu malaikat-malaikat bertasbih, karena menyaksikan guguran dosa yang berserakan dari tubuh kami.

Perlahan, kudekatkan bibirku pada bibirnya. Hingga kedua bibir kami berpagutan penuh cinta nan mesra. Namun Azkiyya terperanjat dalam pelukan dan segera menarik bibirnya. Dengan mata yang tampak kaget ia berrtanya,
“Abi masih punya wudhu enggak, Bi?”
“Masih, Ummi sayang…kenapa?”
“Syukurlah, Ummi cuma takut aja. Jangan sampai syetan menyentuh Ummi mendahului Abi, hanya gara-gara Abi belum berwudhu.”
“MasyaAllah…makasih Ummi, udah ngingetin. InsyaAllah Abi masih punya wudhu.”
“Sekalian aja yuk Bi…” sahutnya sambil menarik tubuhku ke arah tempat tidur dengan bibir yang masih bertautan.
Aku mengerti apa yang diinginkannya. Sebelum semua kemesraan itu berlanjut, segera ku lafadzkan do’a
“Allahumma Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy Syaithon Maa Rozaqtanaa.”
Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari kami terhadap apa yang Engkau rizqikan kepada kami.”
Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya seorang dari kalian ingin mendatangi istrinya, hendaklah dia berdoa (seperti do’a di atas). Sesungguhnya jika dikehendaki diantara mereka berdua seorang anak saat itu maka setan tidaklah dapat mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq Alaihi)
Dan pagi itu, kami habiskan dengan becumbu mesra. Berpeluh rindu dalam surga dunia. Berbuah rahmat, maghfirah dan surga yang dijanjikan-Nya.
"Masuklah kamu berserta istrimu ke dalam surga untuk digembirakan." (QS. Az Zukhruf: 70)

***

Masa cutiku telah selesai. Aku harus kembali bekerja. Bergelut kembali dalam Laboratorium obat pewarna. Kali ini bukan lagi menafkahi diri sendiri, tetapi ada seorang istri yang wajib aku nafkahi. Hari itu aku bekerja shift dua (14.00-22.00 WIB). Ba’da ‘Isya sekitar jam 20.00 WIB telpon kantor menyala, ada suara Zakky di seberang sana.

“Assalaamu’alaikum, Kak Adnan…bisa pulang sekarang Kak?”
“Wa’alaikumsalaam, ada apa Zak?”
“Kak Kiyya sakit lagi Kak…”
“Inalillah… sudah ditangani dokter? Coba hubungi Dr. Bobby…”
Dr Bobby adalah seorang mualaf yang pernah kuajar mengaji.
“Belum Kak, masih dikamar ditemani Ibu…tunggu Kak Adnan aja kata Ibu”
“Iya..iya…Kak Adnan pulang sekarang ya. Syukron, Zak…”

Setelah menutup perbincangan dan telponnya. Aku segera meminta izin pulang lebih awal. Dengan rasa penuh cemas kutancap gas motorku tak seperti biasanya. Pikiranku hanya tertuju pada Azkiyya. Sepenjang perjalanan Batujajar-Bandung lisanku tak henti berdo’a,
“Allahumma Robbannaasi adzhibil ba’sa isyfii, Anta Syafii`, laa syifaa`an illaa syifaa`uKa, syifaa`an laa yughoodhiru saqoman.”
Ya Allah Tuhan sekalian manusia hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tak ada yang menyembuhkan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada sakit lagi. (HR. Bukhari Muslim)

Sebelum menuju rumah, aku mampir ke Klinik Kita untuk menjemput Dr. Bobby. Tak lama kami pun tiba di rumah. Nafas Azkiyya tampak berat. Tubunya pun sedikit membengkak. Kami segera menghampiri, lalu aku berdiri di samping kanannya. Dengan bantuan Ibu, Dr. Bobby memeriksa Azkiyya sangat hati-hati, tanpa menyentuh kulitnya. Menurut Ibu, Azkiyya terlalu lelah mengajar dari pagi hingga sore.
“Mungkin sakit asmanya kambuh….” ujar Ibu.
“Sudah berapa lama Kiyya sakit begini, Bu…” sela Dr. Bobby.
“Sudah hampir setahun ini, Dok..” jawab Ibu.

Dr. Bobby termenung sesaat. Dia menatapku dalam-dalam. Seakan-akan matanya mengatakan sesuatu yang tidak kami harapkan.
“Saya mohon maaf…untuk saat ini saya belum bisa menangani Azkiyya...” ujar Dr. Bobby
“Maksud Dokter…?” sahutku cemas.
“Saya butuh hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit, dan sebaiknya kita periksakan Azkiyya ke sana…”

Tanpa berpikir lagi kami menyetujui saran Dr. Bobby. Dr. Bobby segera menelpon sopirnya untuk membawa mobilnya ke rumah kami. Sebuah Avanza pun tiba, aku bergegas menggendong Azkiyya yang sudah tak sadarkan diri ke dalam mobil. Sementara Ibu menyusul dari belakang setelah menyiapkan segala sesuatunya. Kami berlima menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin. Zakky dan Zainal tinggal di rumah.

Setibanya di RSHS, Dr. Bobby mengurus semuanya. Aku menggendong Azkiyya yang masih tak sadarkan diri menuju pelataran rumah sakit. Azkiyya pun segera ditangani beberapa perawat menuju ruang ICU. Sementara aku bersama Ibu menunggu dengan penuh khawatir cemas. Tak henti-hentinya bathinku memohon segala kebaikan untuknya. Setelah pemeriksaan selama 15 menit, Dr. Bobby muncul di hadapan kami.
“Istri saya sakit apa, Dokter…” tanyaku cemas.
“Dr. Syarif ingin bicara dengan kalian, mari ikut saya…!”

Di ruangan itu, Dr. Syarif sudah menunggu. Setelah memperkenalkan diri kami masing-masing, Dr. Syarif menerangkan,
“Menurut keterangan dari Dr. Bobby, Azkiyya sudah lama mengalami gejala seperti ini, betul Bu?”
“Betul, Dokter…udah hampir setahun.” sahut Ibu.
“Setiap sakit seperti ini, apakah tubuhnya selalu membengkak?” lanjut Dr. Syarif.
“Betul, Dok…memangnya Azkiyya sakit apa, Dok…?” ujar Ibu menimpali.
“Gejala apa yang dialami istri saya, Dokter?” tanyaku semakin cemas.

Dr. Syarif perlahan menatap ke arah Dr. Bobby, yang hanya menganggukkan kepala. Hey….ada apa ini? ungkapku dalam bathin. Setelah melepas kacamatanya, Dr. Syarif melanjutkan,
“Gejala yang dialami Azkiyya ini, bukan penyakit biasa. Bukan karena kelelahan ataupun sebagainya. Juga bukan karena sakit asma. Gejala-gejala ini diakibatkan oleh sebuah virus, yang kami kenal sebagai ‘Systemic Lupus Erythematosus’ (SLE), atau biasa kami sebut ‘Lupus’.”

INNALILLAAH…penyakit apa lagi ini? umpatku membathin seraya menatap Dr. Bobby yang tengah berdiri di sebelah meja Dr. Syarif. Seperti memahami bathinku Dr. Bobby ikut menerangkan,
“Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam. Pertama, Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus(SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu.”
“Betul…dan rupanya istri Bapak mengidap jenis yang kedua. Virus itu tidak hanya menyerang organ tubuh, tetapi ia juga menyerang system imun dan seluruh jaringan sel dalam tubuh. Maka wajar, ketika virus ini aktif pasien akan mudah lelah, karena kekebalan tubuhnya melemah. Tetapi ketika virus ini nonaktif pasien tidak akan merasakan apa, layaknya orang sehat biasa saja.” lanjut Dr. Bobby.

MaasyaAllah…mendengar penjelasan itu membangkitkan rasa berkecamuk dalam dada. Rongga dadaku seakan dipenuhi sesuatu hingga menyesak di dalamnya. Ibu hanya mampu menangis mendengar semuanya.
“Kasihan Kiyya…Ya Allah. Ini salah Ibu, kenapa enggak dibawa kedokter dari dulu…” lirihnya menyesali keadaan.
“Ibu…tenang, Bu… Azkiyya pasti sembuh.” ujarku meyakinkannya.

***

Di ruang ICU Azkiyya terbaring lemah tak sadarkan diri. Ditemani Ibu yang tak henti-henti mengalirkan tangis kasih sayangnya. Sementara aku berbincang lebih dalam bersama Dr. Syarif dan Dr. Bobby. Menurut mereka virus ini belum ditemukan obatnya. Tetapi bisa dicegah agar tidak menyebar dan menyerang organ tubuhnya lainnya. Ditengah perbincangan, seorang perawat menghampiri kami, menyerahkan amplop besar berwarna cokelat kepada Dr. Syarif. Kami pun segera kembali menuju ruang Dr. Syarif. Di dalam ruang itu Dr. Syarif membuka amplopnya.
“Ini hasil rontgen istri Bapak…” sambil mengeluarkan isinya.
Setelah melihat hasil rontgen, Dr. Syarif dan Dr. Bobby hanya saling menatap. Seakan-akan tak ingin mengabarkan hasilnya padaku. Lalu Dr. Bobby menatap ke arahku, dan tiba-tiba merangkulku sambil terisak-isak.

“Ada apa ini, Dok…? Bagaimana hasilnya?” tanyaku semakin heran dan penuh kecemasan.
“Maaf Pak Adnan…istri Bapak sudah tidak memiliki ginjal. Virus itu sudah menghabiskan kedua buah ginjalnya.” ujar Dr. Syarif.

Laksana gelegar halilintar di tengah siang, aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku melemah dalam rangkulan Dr. Bobby. Seakan tak percaya apa yang dikatakan Dr. Syarif. Dan sejak itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku pingsan…

Selama kurang lebih satu jam aku baru siuman. Dr. Bobby mengabarkan bahwa Azkiyya sudah sadar dan menanyakan keberadanku. Aku segera bergegas menghampirinya di ruang ICU. Tampak Azkiyya sedang duduk di dampingi Ibu. Aku segera memeluknya dan menangis dalam pelukannya.
“Abi, kenapa nangis? Ummi enggak apa-apa kok, Ummi udah baikan…” ucapnya meyakinkanku.
“Iya…Ummi pasti sembuh…Allah sayang sama Ummi.” jawabku.
Padahal aku lebih tau apa yang sedang menimpanya, dan tetap menangis dalam peluknya.

Tepat jam 02.00 WIB, aku diminta pulang untuk menyiapkan perlengkapan yang belum sempat disiapkan Ibu. Karena Azkiyya harus dirawat beberapa hari di sana. Setelah sholat witir dan membereskan semua perlengkapan, termasuk selimut dan pakaian ganti untuk Azkiyya, aku segera kembali ke rumah sakit.

Azkiyya masih terjaga, sedangkan Ibu terlelap di kursi ruangan itu. Setelah menyimpan semuanya aku kembali menghampiri Azkiyya. Menemani kesendiriannya dini hari itu.

“Abi…semester depan Ummi pengen istirahat aja, Bi…” ujarnya sambil memeluk tubuhku dan menyandarkan kepalanya di atas dadaku.
“Iya…Ummi harus banyak istirahat, Sayang…biar cepet sembuh.”
“Ummi udah sembuh Bi, nih lihat…Ummi udah enggak apa-apa kan?” ujarnya manja.
“Iya, iya…mudah-mudahan Ummi sudah benar-benar sembuh ya?
“Aamiin…”

Suasana cukup hening dini hari itu. Hanya kami berdua yang terjaga di ruang itu. Masih dalam pelukanku, Azkiyya bersenandung. Menyenandungkan sebuah nasyid ‘Muhasabah Cinta’.
“Eh…Abi kok nangis lagi?” ujarnya manja sambil menatap wajahku.
Aku tak mampu menjawab, sesak dalam dadaku semakin mendesak ke tenggorokanku.
“Abi…Ummi pengen pulang, Bi…Ummi gak betah di sini.” suaranya yang kembali memelukku.
“Iya…kita tunggu keputusan Dokter dulu ya. Mudah-mudahan nanti pagi atau siang kita bisa pulang.”
“Ya harus dong, Abi…masa mau nginep di sini terus…pulang sekarang aja yuk, Bi…”
“Iya…sabar, Sayang…! Kita harus tunggu dulu keputusan Dokter. Udah bisa pulang atau enggak…”

***

Lantunan syahdu adzan shubuh serasa merdu terdengar di telinga. Menyeru jiwa-jiwa yang tertidur untuk segera menghadap pada Sang Maha Pencipta. Aku pamit pada Azkiyya untuk mencari mushola. Sementara Ibu dan Azkiyya sudah siap untuk sholat di tempatnya.

Di mushola aku sholat bersama beberapa orang yang sudah ada di sana. Selesai sholat kupanjatkan do’a-do’a memohon kesembuhan untuk Azkiyya. Di tengah nikmat bermunajat, ada suara memanggil mengejutkanku. Rupanya Dr. Bobby menginap di rumah sakit malam itu.
“Nan…Adnan…Azkiyya, Nan…”
“Ada apa dengan Azkiyya, Dok…?”
“Azkiyya tak sadar lagi, Nan…Kali ini cukup kritis.”

Aku segera berlari menuju ruang ICU. Kulihat Ibu sedang menjaga Azkiyya. Dengan tubuh yang masih terbalut mukena, nafas Azkiyya kembali tersenggal-senggal. Aku tak mampu menahan tangis. Ia menatap lemah ke arahku. Lisannya seakan-akan ingat berkata-kata.
“Katakan Sayang, katakan…” ujarku seraya mendekatkan telingaku ke bibirnya.
Dengan nafas tersenggal-senggalnya, dan suara lemah yang terputus-putus, Azkiyya membacakan,
“Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ii ilaa Robbiki roodhiyatam mardhiyah, fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii janatii.” (QS Al Fajr : 29-32)

Allahuakbar… Aku faham maksudnya. Ia meminta keridhoanku agar ia segera bertemu dengan Rabbnya. Sekalipun aku tidak merelakan kepulangannya tetapi Allah sudah merindukan jiwanya.

Semburat senyum perlahan menghias di bibirnya. Seolah mengabarkan pada kita semua bahwa ia telah melihat istananya di surga. Keringat lembut pun mengembun disekitar keningnya. Pertanda syahid di akhir hayatnya. Rupanya keinginan Azkiyya untuk istirahat semester depan, adalah istirahat untuk selamanya. Keinginannya untuk pulang dini hari itu adalah pulang ke sisi Rabbnya.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…”

***

Proses pemulasaraan usai dilaksanakan. Aku sendiri turut memandikan, memimpin sholat jenazah, dan menidurkannya di pembaringan terakhir. Usai pemakaman, aku masih duduk di sebelah kiri pusaranya. “Allahummaghfir li Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, warfa’ darojataha fil mahdiyyin, wafsahlaha fii qobriha, wanawwir laha fiiha, wakhlufha fii ‘aaqibiha…”
Ya Allah berikan ampunan bagi Nurul Azkiyya binti Zainul ‘Arifin, angkatlah derajatnya di pembaringan terakhirnya, lapangkanglah kuburnya, dan terangilah ia di dalamnya, serta gantikanlah ia dengan keturunannya…”

Siang itu suasana duka meliputi kami sekeluarga. Kepulangan Azkiyya harus kami terima dengan lapang dada. Karena tak lama lagi kami pun akan segera menyusulnya kesana. Banyak kerabat yang berdatangan. Termasuk Mamahku yang sejak pagi tak kuasa menahan tangisnya. Yang senantiasa mengingatkanku untuk tetap ikhlas dan bershabar.

“Kak Adnan, ini buku harian Kak Kiyya…” suara Zakky menyadarkanku dari lamunan. Sambil menyerahkan sebuah diary.
“Apa Kakak boleh membukanya, meski tak seizin Kak Kiyya?” tanyaku.
“Zakky pernah berusaha membacanya,Kak. Tapi Kak Kiyya mmelarangnya. Dan waktu itu Kak Kiyya bilang bahwa buku catatannya itu hanya boleh dilihat sama suaminya nanti. Jadi hanya Kak Adnan lah yang berhak membaca isinya…” tutur Zakky.

Lembar demi lembar kubaca catatannya. Isinya hanya catatan pengalaman sehari-harinya. Namun ada satu halaman yang mengundangku untuk terus membacanya,

“Semestinya aku banyak berdzikir
Bukan hanya menyesali takdir
Seharusnya aku banyak berfikir
Sebelum hidupku harus berakhir…

Ya Rabbi…
Jika sakit ku ini karena dosa-dosaku yang harus digugurkan
Maka ampunilah dosa-dosaku..
Tetapi jika sakit ini adalah kasih sayang-Mu
Maka biarlah aku menikmati sebentuk kasih sayang-Mu
Hingga nanti kunikmati syurga-Mu…”

Kemudian bait berikutnya sebuah lirik nasyid yang ia senandungkan sewaktu memelukku di ruang ICU,
“Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Bila ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu…

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung do;aku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku…
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah slama ini Ya Ilahi
Muhasabah Cintaku…”

Setelah membaca semua catatannya, rupanya Azkiyya sudah tahu kondisi fisiknya. Hanya saja Ia tidak ingin membuat Ibu cemas. Ia tidak ingin menyusahkan Ibu. Ia ridho dengan segala keadaannya. Karena itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepadanya.

Di buku catatan itu aku menulis balasan atas semua catatannya,
“Pulanglah istriku, temui Rabbmu
Karena Allah lebih merindukanmu
Pulanglah istriku dengan jiwa tenangmu
Karena aku telah meridhoimu
Pulanglah istriku ke tempat terakhir di sisi Rabbmu
Dan nantikan aku di istana syurgamu

Minggu, 02 Oktober 2011

Aku, Dia dan Sahabatku

Siang itu udara sangat panas sudah hampir satu bulan ini jakarta tidak di guyur hujan di tambah polusi udara yang kian marah menambah kegersangan kota jakarta.Jam kuliah sudah pun selesai namun rasanya melihat teriknya sinar matahari siang itu membuat aku malas beranjak dari ruang kelas. Namun tidak rasanya aku duduk lama-lama di kelas ini karena sebentar lagi waktu sholat dzuhur. Dengan agak malas ku paksa melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu. baru sampai di depan pintu kelas terdengar suara seseorang memanggilku.

"Mir, tunggu bentar, " Teriak Sarmila sambil bergegas mendekatiku
"Kamu mau langsung pulang yah, mau ga kamu menemani aku makan siang kali ini, ada sesuatu yang pengen aku bicarakan sama kamu, it's very urgent for me,please..please..please.. " Bujuk Sarmila dengan penuh harap.

Dari kata-kata dan raut wajahnya nampak keseriusan sehingga aku pan tidak tega untuk menolak ajakannya. ku pandangi wajahnya beberapa saat, ku lihat dia tersenyum manis dengan gaya dan tingkahnya yang sangat aku hafal, aku pun menenuhi permintaannya namun dengan satu syarat yaitu setelah sholat dhuhur, karena bagiku makan siang sebelum sholat dhuhur tidak akan terasa nikmat sebelum mengerjakan kewajiban sebagai seorang hamba.

Sarmila adalah teman ku dari semenjak kecil. Dari SD sampai kuliah kami selalu satu sekolah meskipun kini kami beda  jurusan. Aku lebih memilih memperdalam agama islam. sedang ia lebih memilih sastra. Sarmila gadis yang cantik, siapa yang tidak terkagum-kagum melihat kecantikannya. saat duduk di bangku SMA ia sempat menjadi primadona di kelas. Kecantikanya bak Ratu sejagat julukan seperti itulah yang sering aku dengar dari mulut teman-temanku Namun kalau mau jujur aku sedikit tidak suka dengan tabiatnya, ia gadis yang centil, urakan dan manja apalagi ia belum mau berhijab, ia masih suka memamerkan rambutnya yang baginya merupakan mahkota yang memperindah penampilannya. Sudah berulang kali aku jelaskan kepadanya pentingnya jilbab bagi wanita namun jawaban yang sama yang selalu aku dengar darinya yaitu "belum ada hidayah dari Allah."

Suasana kantin agak sepi, hanya terlihat beberapa orang yang sedang duduk dan asyik menikmati makan siangnya, aku dan Sarmila memilih tempat duduk di pojok, karena di situlah tempat yang strategis untuk kami menikmati makan siang. kami bisa berbicara sesuka hati kami tanpa takut ada orang yang mendengarnya.

"Mir, kamu mau kan ajari aku pakai jilbab, sudah lama rasanya hidupku dalam kubangan dosa, tidak tentu arah, aku ingin berubah Mir, aku ingin menjadi orang baik, aku tidak mau hidup sengsara dunia-akhirat, aku ingin seperti mu, anggun, dan cantik. bukan hanya cantik dalam penampilan namun juga cantik di dalam hati." ucapnya dengan lembut

Saat itu juga aku peluk dirinya, tak terasa kami menangis, inilah airmata kebahagiaan tidak ada kata yang bisa terucap selain ucapan syukur pada-Nya, syukur yang tiada terkira atas semua nikmatnya. Sungguh Dia-lah Allah yang menggenggam jiwa-jiwa hamba-Nya. jika Dia sudah berkehendak tak akan ada yang bisa menghalanginya.

"Alhamdulillah, aku seneng banget mendengar ini, aku pasti akan bantu semampuku, " jawabku penuh kegembiraan sambil ku lupeskan pelukanku padanya.

"Dan kamu mau kan ajari aku ngaji dan ilmu agama, karena aku tidak mau kelihatan bodoh di hadapannya."

spontanitas aku langsung meng-iya-kannya, karena bagiku membantu teman adalah misi utamaku dalam hidupku, apalagi perubahan itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik. aku teringat dengan Hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang paling bermanfaat untuk sesamanya, aku ingin mempraktekkan hal itu dalam kehidupanku. apa-lah artinya hidup ini jika tidak bisa berbagi dengan sesama. jika harta tak punya sekedar berbagi ilmu pun tak apa.

*****#####****

Seperti biasa seusai sholat shubuh aku membantu ibu untuk bebenah rumah, dari menyapu, mengepel hingga menyiram tanaman di depan rumah, dan membantu merawat bunga-bunga adalah hal yang paling aku senangi selain bisa menikmati keindahan dan keharuman bunga aku juga bisa menikmati kesegaran udara pagi. bertemankan lagu-lagu nasyid dari negera jiran aku melakukan aktivitas pagi hariku. bunga-bunga mawar yang ada halaman rumah kini mulai bermekaran, duri-duri yang tajam kini siap melukai tangan jika tidak berhati-hati.




Jumat, 30 September 2011

Arti Kebahagiaan

Bahagia, siapa yang tak menginginkannya. semua manusia mengingkan dalam hidupnya selalu bahagia tak perduli orang itu cantik, jelek, tampan, miskin, apalagi orang yang kaya? Namun apa sebenarnya kebahagiaan itu? Apakah orang yang dalam hidupnya selalu berkecukupan itu selalu bahagia? Sehingga apa yang ia inginkan selalu di dapatkan? atau Apakah orang yang parasnya cantik/tampan sehingga ketika ia pergi kemana-kemana semua mata memandang kepadanya dan memujinya? Seperti itukah arti Kebahgiaan???


Apakah orang Kaya dan orang yang cantik parasnya selalu hidup bahagia?? Maka "Tidak" jawabnya. Kebahagiaan tidak dapat di ukur dengan banyaknya materi apalagi dengan cantiknya paras, semua itu tidak bisa menjamin seseorang untuk hidup bahagia. Banyak orang yang kaya hidupnya tidak tenang, keluarganya berantakan, anaknya jadi tidak karuan karena salah pergaulan. Dalam hidupnya yang ia pikirkan hanya bagaimana cara mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya dan pada akhirnya keluarga ia abaikan.

Kebahagian tidak bisa di ukur oleh banyaknya fasilitas dunia yang di miliki, mobil mewah, rumah mewah, kantor besar, jabatan tinggi dan segala macam fasilitas dunia lainnya yang mengakibatkan kesombongan, kecongkakakan sehingga selalu meremehkan orang lain yang di anggap berstatus di bawahnya. Rasulullah SAW pernah bersabda barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya maka ia akan sengsara, namun barang siapa menjadikan akhirat tujuannya ia akan hidup bahagia.

Sebaliknya orang yang miskin tidak selalu hidup sengsara, meskipun di dalam kehidupan nya ia selalu kekurangan namun ia selalu bersyukur akan pemberian rizki-Nya, ia selalu yakin akan rizki-Nya yang tidak akan pernah tertukar,ia tidak pernah meminta-minta apalagi mengharap bantuan dari orang lain.orang yang seperti itu hidupnya akan bahagia, meskipun di lihat dengan kasat mata ia hanya orang yang miskin dan tidak punya apa-apa. Orang yang mulia di sisi Allah bukan orang yang kaya, cantik ataupun miskin. orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang bertakwa.

Sekarang jelas sudah bahwa kehidupan tidak akan tercipta jika yang di tuju adalah dunia.namun kebahagian akan tercipta jika yang di tuju adalah akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, kehidupan yang abadi di sana akan ada kebahagian yang sebenarnya.kebahagian yang asli yang hanya akan di berikan bagi orang-orang yang bertakwa.

Kebahagian hanya lahir di dalam hati, Kebahagiaan akan tercipta dengan hati yang tenang, dan hati yang tenang hanya bisa di dapat dengan mengingat Sang Pemilik Kebahgiaan yaitu Allah Azza Wajalla. Dan Allah telah menyuruh kepada manusia untuk selalu mengingat-Nya karena hanya dengan mengingat-Nya hati akan menjadi tenang jika hati sudah tenang kebagiaan pun akan tercipta. Jika ingin hidup ini bahagia maka hiasalah kehidupan dengan memperbanyak mengingat-Nya, memuji kebesaran-Nya dan menjadikan al-Quran dan sunnah pedoman hidup.jika sudah demikan bukan hanya kebahagiaan didunia saja yang di dapat kebahagiaan di akhiratpun akan di raihnya. Wallahu 'alam

Mulianya Seorang Muslimah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Saudariku,catatan kecil ini untuk diriku, dirimu,dan anda semua yang bergelar Muslimah.
...
Ukhti Fillah,,

Engkau adalah bunga kehidupan,teramat sayang bila memperlakukanmu dengan kasar karena hal itu akan merusak keindahan yang ada dalam dirimu dan menodai kesempurnaanmu sehingga menjadikanmu layu tak berseri.

Allah SWT telah memuliakanmu, mensucikanmu dan mengangkat derajatmu dalam agama ini,

karenanya raihlah ia dengan memupuk ketaatanmu pada-NYA,

merajut benang-benang kehidupanmu diatas jalan Allah dan manhaj Rasul-Nya agar kebahagiaan tak pernah jemu menghampirimu.

Ingatlah selalu firman-Nya:

"Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rosulnya,maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar" (Al-Ahzab:71)

Camkanlah selalu dalam hatimu, bahwa berjalan diatas kebenaran (sunnah) ibarat memegang bara api,

banyak halangan dan rintangan yang menghalangimu.

Lihatlah keluar,

musuh kita bersatu padu untuk menghancurkan kita.

Dengan segenap daya dan upaya mereka ingin agar kita melepaskan pakaian akhlak dan rasa malu dari diri kita,

sehingga mereka lebih leluasa merongrong agama ini.

Sungguh aku tidak ingin dirimu dan juga diriku (dengan izin Allah) menjadi korban.

Karena itu palingkanlah wajahmu dari mereka dan sambutlah dengan penuh suka cita jalan kebenaran yang di tawarkan Allah dan Rasul-Nya.

Peganglah tali kendali itu dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh dalam kehancuran.

Kuatkanlah keteguhanmu berpegang pada agamamu,dengan menjaga rasa malumu dan beriltizam dengan hijabmu.

Ukhti Fillah..

Sesungguhnya mereka iri dengan apa yang kita miliki,
Sadarkah engkau saudariku??
Engkau adalah wanita berkedudukan tinggi, engkau wanita dengan kemuliaan,
kesucian dan kehormatan yang tinggi.
Kedudukanmu tinggi karena Al-Qur'an,
engkau mulia dengan iman dan suci karena engkau berpegang teguh pada agama ini.

Oleh karena itu engkau adalah mutiara yang teramat mahal, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya apalagi menyakitinya.

Itulah kelebihan dan keistimewaan yang tidak akan kau dapati selain dalam agama ini.

Wahai,Ukhti Fillah yang senantiasa sholat dan sujud kepada Dzat Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluknyahdan menundukan pendengaran dan penglihatan untuk-Nya,

cukuplah hadist Rasulullah berikut sebagai penyejuk hati:

"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah" (H.R.MUSLIM).

Ya Ukhti,engkau adalah sebaik-baik perhiasan dunia, engkau adalah harapan agama,

yang di harapkan dapat melahirkan generasi robbani. Perhiasan itu tidak mudah di dapat,

harganya terlalu mahal dan menjaganya pun tidaklah mudah. Setiap hamba Allah ingin mendapatkanya,

namun tidak semua bisa memilikinya.

Ia memberikan kesejukan di kala hati gersang dan menyegarkan pandangan di kala mata suram.

Perhiasan dunia itu,dalam kehidupanya senantiasa menampakan kemuliaan dirinya.

Bagaikan sekuntum mawar yang sedang mekar,harumnya tergambar dari pribadinya yang santun.

Tegas bicaranya, tunduk pandanganya,

Sedikitpun tidak ada keraguan dalam hati suaminya, jika meninggalkanya di rumah.

Ia menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dan senantiasa menjaga kehormatan diri dan suaminya. Ia tidak pernah berputus asa,

Ia senantiasa menjaga kesucian dirinya. Serta ia tidak mudah mengeksploitasi diri dan kehormatanya,

di saat wanita lain asyik memilih busana trendi, sibuk memoles tubuh dan wajah, berlomba-lomba memamerkan aurat mereka, engkau justru tampil dalam kesahajaan.

Ingatlah selalu saudariku, bunga yang istimewa hanya untuk yang istimewa.

Ukhti Fillah...

Itulah gambaran tentang dirimu. Sungguh teramat agung kedudukanmu.

Maka senantiasalah bersyukur kepada-Nya atas semua karunia,rahmat dan petunjuk-Nya.

Takutlah engkau pada Allah dan laksanakan tugas-tugas yang Dia wajibkan kepadamu agar engkau termasuk dalam golongan hambaNya yang selamat dan bahagia di dunia maupun di akhirat.

Jagalah akhlakmu,jagalah pakaianmu,&jagalah pandanganmu