Minggu, 14 April 2013

Indahnya Menulis

Assalamu'alaikum sahabat...apa kabar dengan keimanan sahabat di jum'at yang penuh berkah ini? semoga sahabat senantiasa berpijak di atas jalan lurus-Nya. menapaki setiap jengkal kehidupan dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.karena itulah kunci kebahagian dan kesuksesan dunia dan akhirat. keimanan dan ketakwaan merupakan salah satu motivasi hidup yang harus senantiasa kita pertahankan, dan kita perjuangkan dengan segala daya upaya yang kita miliki.. kenapa dan mengapa? mungkin pertanyaan itu akan muncul di benak pikiran saudara ketika membaca pernyataan di atas..dengan pemahaman saya yang sedikit saya akan mencoba menguraikannya.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan terlebih dahulu kita pelajari tentang apa tujuan hidup kita? untuk apa Allah menciptakan kita? Allah menciptakan kita tidak main-main. di balik penciptaan manusia ada maksud dan tujuannya dalam al-Qur'an Sural Al-mu'minun ayat 105 Allah SWt berfirman, " Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"


Dalam surat lain Allah SWT ber firman "Dan tidaklah Aku menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tdk menghendaki rizki sedikitpun dari mereka & Aku tdk menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.Adz Dzariat : 56-58)

Dari ayat di atas kita sudah mengetahui bahwa di balik penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya. Tugas manusia yang paling utama dalah menyembah-Nya di setiap saat kapanpun dan dimanapun.

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia, manusia bisa lebih mulia di banding malaikat jika ia beriman dan bertakwa namun sebaliknya manusia bisa lebih hina dari binatang ternak jika ia ingkar pada-Nya. Manusia di beri akal untuk berpikir, namun tak jarang ia gunakan pikiran itu untuk hal-hal yang di haramkan dan mengundang murka Allah. padahal setiap apa yang ia lakukan akan di mintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Tulisan ini aku buat sebagai bahan pengingat diri, bahwa manusia adalah hamba Allah yang mempunyai kewajiban menyembah dan taat hanya kepada-Nya. karena hanya Allah tempat kita bergantung, tempat kita meminta dan tempat kita memohon pertolongan. tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.

Sebagai penutup tulisan singkat ini aku ingin mengajak saudara ku semua termasuk diri ini yang lemah tiada daya  marilah kita tanamkan keimanan yang kokoh di dalam hati kita, Marilah kita berlomba untuk menjadi hamba yang Allah cintai. karena hanya cinta Allah lah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.

Semua kebenaran hanya milik Allah apabila ada kesalahan itu dari diri saya sendiri yang dhoif. mohon di maafkan

semoga bermanfaat






Sabtu, 13 April 2013

KETIKA CINTA HARUS BERSABAR


Namanya Dinda seorang muslimah yang ramah dan cantik parasnya,  di usianya yang sudah mencapai 27 tahun membuat orangtuanya selalu menyuruhnya untuk menikah. Bagi seorang Muslimah yang taat ia yakin kalau jodohnya pasti ada dan Allah pasti sudah ciptakan pasangan hidup untuknya. Sebagai seorang penulis novel sekaligus pekerja di salahsatu penerbit majalah islam terkemuka di ibukota membuat hari-hari selalu sibuk.

Siang itu saat ia sedang asyik dengan komputernya meng-edit ulang novel barunya. Seorang wanita paruh baya yang selalu menemaninya setiap saat masuk ke dalam kamarnya.
"Din, anterin mama menjenguk teman lama mama yah di rumahnya. Sekarang ia sedang sakit dan mama ingin berkunjung kerumahnya."

Awalnya aku ingin sekali menolak permintaan mama namun aku tega melihat mama pergi sendirian, dan mama juga punya penyakit asma yang sering kali kambuh setiap saat. Dengan alasan ingin berbakti kepadanya akhirnya aku mau menemaninya.

Dari sanalah awal pertemuan aku dengannya, sosok yang aku anggap sebagai malaikat, wajahnya yang bersih, tingkah lakunya yang sopan dan tutur katanya yang menawan membuat aku tertawan begitu melihatnya. Yang belakangan aku tahu namanya adalah Yusuf

Beberapa hari setelah aku bertemu dengan lelaki yang mampu menggetarkan hatiku. Ibu mengabarkan kalau keluarga Bu yunita beserta suami dan anak lelakinya akan datang untuk bersilaturahmi sekaligus membicarakan hal yang sangat penting.  Awalnya aku tidak tahu tentang hal penting apa yang akan di bicarakan aku hanya menurut apa kata mama agar nanti malam aku bisa menemaninya dan bersua dengan keluarga besar Yusuf.

Malam itu merupakan malam yang indah untukku, penantian ku yang panjang kini ber akhir sudah aku telah di khitbah olehseorang ikhwan yang di mataku sangat sempurna. Aku merasa cintaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Aku menyangka Yusuf juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Namun kebahagianku hanya sesaat, kebahagianku hancur berkeping-keping setelah aku membaca surat dari Yusuf yang aku sangka isinya adalah surat cinta untukku.

 Di surat itu jelas di katakan kalau ia melakukan semua itu hanya karena orang tuanya. Ia tidak mau melihat ibunya masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya gara-gara penolakannya untuk menikah dengan gadis pilihanya. Yang lebih lagi sakit aku rasakan ia bilang tidak mencintaiku dan sangat sulit untuk mencintaiku karena ada nama lain yang kini bersemayam dihatinya. Ia bilang akan sulit untuk mencintaiku karena aku buka wanita yang ia cintai.

Singkat cerita acara pernikahanku berjalan dengan lancar, meskipun hatiku berontak ingin rasanya aku berteriak agar semua orang tahu bahwa aku tidak mengingankan pernikahan ini terjadi. Namun aku tak kuasa menyakiti dan mengecewakan orang –orang yang aku sayangi. Ku lihat wajah itu sungguh kaku dan tak ada senyuman pun tersungging dari  bibirnya, ia berdiri di sebelahku namun seakan-akan ia berada jauh dari jangkauanku.

Tibalah saat malam pertama pernikahanku, sebagian orang bilang malam pertama adalah malam yang terindah yang tak bisa terlupaka namun berbeda denganku, malam itu merupakan awal kesabaran dan cintaku di uji. Tidak ada kata-kata sayang aku dapatkan yang ada hanya kebisuan, kesunyian dan kehampaan. Meskipun ia sempat mencium kening dan mengucapkan doa yang seperti Rasulullah ajarkan padaku dan itupun karena aku yang memintanya. Aku dan dia sempat melakukan ibadah itu namun itu semua bukan karena dasar cinta tapi karena sebuah keterpaksaan.

Malam itu berjalan amat lamban aku rasakan, aku sesaatpun tidak bisa memejamkan mataku, aku muak, aku benci, aku sedih dengan semua kejadian ini.  sebagai seorang istri aku mempunyai hak untuk mendapatkan kasih sayang dari suamiku. Dan sebagai seorang suami ia mempunyai kewajiban untuk membahagiakanku. Namun apa yang aku dapatkan sebaliknya suamiku tidak bisa mencintaiku karena di hatinya hanya ada satu nama yaitu ”Alifa”

Alifa seorang akhwat berkerudung panjang nan cantik dan sopan. Seorang gadis yang membuat suamiku tidak bisa mencintai wanita yang menjadi istrinya kini. Aku tidak mengenalnya sebelumnya, aku melihatnya saat ia dan teman-temannya datang di hari pernikahanku.

Tak terasa sudah lima bulan usia pernikahanku, namun aku belum bisa merasakan menjadi istri yang sesungguhnya, sikap Yusuf kepadaku masih belum berubah, ia begitu kaku dari sorot matanya tak ada sama sekali tanda-tanda cinta untukku. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suami, meskipun suamiku belum bisa mencintaiku, namun aku selalu berusaha menjadi istri yang berbakti padanya, aku menjalankan tugasku sebagai istri dengan tulus mengharap ridha-Nya. Setiap pagi aku membuatkan sarapan untuknya, menyiapkan baju kerjanya, dan mengantarkannya sampai kedepan pintu ketika ia hendak pergi kerja. Aku ingin menjadi istri yang bisa mengantarkannya ke syurga-Nya.

Tak bisa ku pungkiri setiap hari rasa cintaku kepadanya semakin besar, meskipun rasa cinta ini belum bisa terbalas namun aku tak peduli karena bagiku ia adalah suamiku orang yang layak aku cintai. Dalam do’a di penghujung malam aku selalu menyebut namanya berharap agar Allah selalu melindunginya di manapun dia berada.

Undangan pernikahan Alifa dengan ikhwan bernama guntur ku berikan pada Mas yusuf, dari raut wajahnya nampak kemurungan. Aku yakin Mas Yusuf merasa kecewa meskipun ia tak mampu menunjukan perasaannya itu padaku.

Meskipun Alifa kini sudah menikah namun sikap Mas Yusuf tidak jauh berbeda, ia masih sama seperti dulu. Hanya buku harian dan sajadah panjangku yang menjadi saksi betapa tersiksa nya  hatiku dan betapa tulusnya cintaku untuknya.

Dua bulan setelah pernikahan Alifa, aku mendapat kabar dari temannya bahwa Alifa masuk rumah sakit karena setiap hari kesehatannnya menurun, ia mengalami tekanan bathin karena suami nya meninggal saat usia pernikahannya baru satu minggu, ia tidak bisa menerima kenyataan yang ada sehingga membuatnya koma. Mendengar kabar itu aku langsung menjenguknya di rumah sakit tempat ia di rawat. Keadaan Alifa sungguh sangat memprihatinkan, dokter bilang semangat hidupnya hanya akan kembali lagi jika ia mendapat kasih sayang dari sosok lelaki yang bernama suami. Hanyakata- kata mesra dari suaminya lah yang mampu menghidupkan gelora hidupnya kembali. Dan dokter menyarankan agar secepatnya mencarikan suami untuk Alifa sebelum terlambat. Aku pun berinisiatif membantunya mencarikan seorang suami untuknya. Ada tanda tanya besar di hatiku siapa dan dimana aku harus mencarinya??

Tiba-tiba nama mas Yusuf terlintas di pikiranku, apakah aku harus menikahkan suamiku sendiri dengan Alifa, apakah aku harus melakukan itu, apakah aku mampu melihat laki-laki yang sangat aku cintai bersama wanita lain. Tapi aku tidak bisa melihat Alifa menderita ia butuh seorang suami untuk menyelamatkan hidupnya.

Pikiran itu terus menerus menghantui ku, keinginanku untuk menikahkan Mas Yusuf dengan Alifa begitu besar. Aku belajar untuk berdamai dengan hatiku, biarlah aku tidak bisa mendapatkan cintanya asal aku bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Salah satu cara adalah membiarkan Mas Yusuf menikah dengan wanita yang di cintainya. Jika ini merupakan jalan untuk suamiku hidup bahagia aku rela meskipun aku harus di madu.

Malam itu juga aku sampaikan niat hatiku pada suamiku, ia begitu kaget dengan kabar tentang Alifa dan kekagetan itu semakin bertambah mendengar permintaanku untuk menikahinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ia terdiam. Membisu seperti patung yang bernyawa.

Sehari setelah mendengar kabar itu malam harinya suamiku tidak pulang kerumah, aku menjadi resah, HP nya aku hubungi tidak aktif, aku telpon kantornya pun tak ada jawaban, tidak sampai di situ aku mencari kabar melalui teman-temannya tapi tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Aku tak bisa menahan airmata ini, aku menangis aku merindukannya, aku sangat mengkhawatirkannya.

Berita itu sontak mengagetkanku, suamiku kecelakaan dan kini di rawat ditempat Alifa di rawat. Menurut seorang polisi yang menghubungiku suamiku terpelanting sejauh 15 meter dari motornya. Dengan segera aku pergi kerumah sakit tempat suamiku di rawat, airmata ini tak berhenti mengalir mengkhawatirkan keadaannya. Di sebuah ruangan VIP suamiku dirawat dan ia tidak sadarkan diri, anggaota badannya penuh dengan perban, meskipun menurut dokter tak ada luka yang serius dan dalam beberapa hari ini akan sadarkan diri namun melihat keadaannya aku tak tega. Aku tidak mau melihat suamiku menderita.

Suamiku sudah hampir dua hari dalam keadaan koma, ia belum juga sadarkan diri aku bertambah cemas di buatnya, selama dua hari itu aku tak pernah meninggalkannya, aku selalu di sampingnya, merawatnya dengan tulus, di saat yang seperti itulah aku bisa memandangnya sepuasnya. Melihat wajahnya dan menggenggam tangannya yang sebelumnya tak pernah aku lakukan. Wajah itu sungguh bersih, sama seperti pertama kali aku melihatnya, mengenggam tangannya membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan untuk pertama kali aku menciumnya, ya aku menciumnya dalam keadaan ia tak sadarkan diri. Namun rasa bersalah tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku merasa telah berbuat kurang ajar dengan menciumnya, aku takut ia tidak meridhainya.

Aku memilih duduk dikursi menjauh darinya aku tak kuasa jika terus menerus memandangnya. Tiba-tiba aku lihat tangan suamiku bergerak-gerak dan ia mulai membuka matanya. Betapa bahagianya hatiku ketika yang keluar pertama kali dari mulutnya adalah namaku. Ia memanggil namaku dengan suara yang sangat lirih, mendengar suaraku di panggil aku langsung menghampirinya. Melihat suamiku sadarkan diri aku bermaksud memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Namun belum jauh kaki ini melangkah tiba-tiba pandanganku kabur, badanku lemas dan aku terjatuh tak sadarkan diri.

Selama dua hari aku tak sadarkan diri, aku berbaring lemas di rumah sakit, aku terlalu capai dan kurang istirahat yang membuat kondisi badanku menurun. Begitu terkejutnya diriku begitu aku sadarkan diri suamiku berada di sisiku ia sedang mencium keningku dan memanggilku dengan pangilan sayang, panggilan yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Ia juga mengenggam tanganku begitu erat. Dan yang membuatku terkejut ia menangis sambil menciumi tanganku. Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkinkah ia sudah bisa menerimaku dan mencintaiku. Apakah cinta ini sudah terbalas, berbagai pertanyaan bermain-main di pikiranku. Dan sebuah perkataannya yang tak akan pernah aku lupa yang mampu mebuat hatiku berbunga-bunga serta tak kuasa menahan haru.

”Dinda, istriku maafkan aku yang selama ini telah menyia-nyiakanmu, kini aku sadar engkau adalah karunia yang terbesar yang Allah berikan untukku. Sayang maafkan aku karena telah membuatmu selalu menangis di malam-malammu, maafkan aku yang pernah membohongimu. Kini aku sadar aku telah melakukan kesalahan besar. Dan terimakasih Dinda atas buah hati yang kini sedang bersemai di rahimmu, buah hati cinta kita.”

Aku tak kuasa menahan airmata ini, aku bahagia, aku terharu aku tak bisa menjelaskan kebahagian ini dengan kata-kata, aku hanya bisa menangis sambil aku menggenggam erat tangan suamiku yang kini sudah memberikan cintanya padaku.

Tiba-tiba aku teringat dengan Alifa, aku tidak mungkin egois dengan memikirkan diriku sendiri, aku sudah bertegad untuk menikahkan Alifa dengan Mas Yusuf.  Akhirnya aku memberanikan diri bertanya tentang Alifa padanya dan meminta nya untuk menikahinya. Mendengar permintaanku tiba-tiba suamiku meminta izin untuk keluar sebentar sebelum menjawabnya, aku tak tahu apa yang suami aku lakukan di luar sana. Yang aku tahu ketika ia datang kembali ia tak sendiri ia bersama Alifa yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seorang lelaki yang tak asing lagi dan ia adalah Randi sahabat Mas Yusuf. Ternyata Alifa sudah menikah dengan Randi dua hari yang lalu. Dan kini Alifa sudah menemukan semangat hidupnya kembali.

Kini kebahagianku lengkap sudah, aku menemukan cintaku, kesabaran ini berbuah kemanisan, ketulusan cinta ini terbalas sudah. Ketika cinta harus bersabar, di situlah ketulusan cinta di uji. Kesabaran pasti akan berbuah keindahan karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang bersabar.

Ringkasan dari novel yang berjudul ketika cinta harus bersabar dengan gaya bahasa yang telah di ubah sesuai gaya bahasa tulisanku.
Semoga bermanfaat.

Isi surat Yusuf untuk Dinda 

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Kepada yth : Adinda Altharina putri
Ditempat

Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu apalagi yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah denganmy. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.

Merekan bilang, sejak pertama kali Melihatmu, hati mereka langsung bergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orangtuaku dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu.semua ini adalah rencana orangtuaku dan orangtuamu untuk menjodohkan kita.

Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi, maka banyak orang yang akan aku bohongi, aku akan menjadi seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.

Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab melihat kondisi ibuku yang sudah lemah, aku takut bila aku menolak permintaannya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang lalu ibu masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.

 Jadi aku mohon bantulah aku memainkan sandiwara ini di depan orangtua kita masing-masing. Aku tau segala sesuatunya itu akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta'ala, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal itu.

Aku merasa belajarku selama beberapa tahun tentang islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.

Pernikahan bukanlah hal yang main-main untuk di jalankan terlebih lagi bila tidak di landasi dengan rasa cinta. Sesungguhnya ada nama lain yang mengisi relung hatiku. Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus nama itu dan berusaha menggantinya dengan namamu.

Jika memang tak ada cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini padamu. Jujur. Tidak ada yang di tambahkan atau di kurangkan. Aku tidak mau mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak mencintaimu.

Mungkin ketika membaca surat ini, matamu sudah di penuhi dengan airmata. Aku akan berusaha mengganti airmatamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf, beribu-ribu maaf aku pinta kepadamu.

Tolonglah malam ini kau sholat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu dengan kepalsuan cintaku.
Dan tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku. Sekian dulu surat dariku, bila semua ini kurang berkenan di hatimu, mohon di bukakan pintu maafmu untukku,. Afwan.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

Dari seorang pengecut
Yusuf Abdullah Fattah